Masih Perlukah Pahlawan ?

Angin yang terkibas dari kibaran bendera Merah Putih sampai hari ini masih terasa menyegarkan dada. Lagu-lagu perjuangan yang diperdengarkan pada peingatan HUT Kemerdekaan RI beberapa hari yang lalu rasanya masih berdenyut mamacu irama kalbu. Airmata patreotisme seakan-akan masih meleleh di dalam dada menjadi bagian dari rasa syukur akan nikmat kemerdekaan. Tentunya yang tidak boleh dilupakan adalah jasa dn pengorbanan para pahlawan.

Pada awal zaman kemerdekaan itu banyak sekali jumlah pahlawan, baik yang dikenal sampai yang tak dikenal. Mereka rela mati untuk kemerdekaan dan kehormatan tanah air. Surabaya banjir darah, Bandung jadi lautan api dan di tempat lain selalu ada pahlawan yang gugur. Yang tak habis kita pikirkan, para pejuang yang berhati pahlawan itu, baik yang gugur maupun yang tidak gugur semua berjuang membela tanah air “tanpa dibayar” dan “tanpa mengharap keuntungan materi”.

Untunglah, kontek zaman itu memberi peluang yang luas bagi idealisme. Berkorban dan berbuat tanpa mengharap keuntungan uang dan segala yang bendawi dipandang sebagai keindahan moral yang dijunjung di atas ubun-ubun. Bayangkan, seandainya perjuangan melawan penjajah Belanda yang hendak menjajah kembali antara tahun 1945-1949 itu masyarakat Indonesia sudah berpikir materialistik, dan segala kegiatan untuk bangsa dan tanah air harus dihargai dengan uang, jika tak ada imbalan uang diri malas untuk berjuang, betapa mudahnya penjajah untuk kembali bercokal di negeri kita.

Ketika berbuat untuk negara dan rakyat hanya untuk mendapat segepuk uang, dan segala kiprah hanya untuk meraih segala yang bendawi, bahkan untuk mencoblos pun ada yang perlu diberi ongkos, masih adakah nilai-nilai kepahlawanan?

Pertanyaan di atas, menurut seorang teman, tidak relevan lagi untuk diajukan sekarang. Setiap kegiatan pada semaraknya profesionalisme harus diukur dengan keterampilan dan daya kerja setiap orang. Siapa bekerja tentu berhak untuk menuntut upah sebagai haknya. Kalau keringat kerja seseorang tidak dihargai dan tidak dihormati, bagaimana seseorang bisa menghidupi diri dan keluarganya?

Saya sih, setuju saja dengan jawaban cerdas di atas. Asalkan jangan mengatakan, bahwa sekarang kita tidak memerlukan pahlawan lagi meskipun kenyataan yang ada mencerminkan adanya sikap kurang peduli pada nilai-nilai kepahlawanan. Di tengah-tengah ramainya penjualan poster-poster artis dan olahragawan, kini sulit sekali kita menemukan poster gambar-gambar pahlawan, seperti Pangeran Diponegoro, Kapitan Pattimura, Tuanku Imam Bonjol dan lain-lain. Hal ini, barangkali perlu kita cermati, siapa tahu kriteria kepahlawanan dikalangan generasi muda kita sudah berubah. Atau siapa tahu ada sejenis faham baru yang berupa gairah “anti hero”, atau anti sejarah. Akibatnya kita jadi sulit untuk menangkap percikan jiwa cinta tanah air yang merasuk sampai ke tulang sumsum.

Menurut budayawan Eka Budianta, ketika Indonesia baru merdeka, kita masih mempunyai sekitar 45 orang sarjana. Namun saat itu jiwa berjuang dan mengabdi kepada tanah air menjadi pilihan yang utama. Ada ruh kecemerlangan yang berupa kemuliaan sikap dalam membahagiakan bangsa dan memberi kehormatan kepada negara dan tanah air.

Sekarang, pada ulang tahun kemerdekaan yang ke-74, berapa ratus ribu sarjana yang kita miliki. Dengan banyaknya para cerdik pandai itu seharusnya kita semakin cerdas membawa negara dan bangsa kita kepada derajat yang terhormat di tengah-tengah masyarakat dunia. Dengan banyaknya para sarjana, seharusnya tanah air ini semakin cantik dan berjaya. Karena dengan ilmu kita miliki seharusnya semakin pandai menggalang persatuan, semakin cerdas menegakkan keadilan, semakin mandiri dan tidak tergantung pada belas kasih bangsa lain. Dengan kepandaian yang kita miliki seharusnya kita malu bertengkar sesama bangsa Indonesia.

Saya berpendapat, jiwa kepahlawanan dan berjuang tanpa pamrih itu masih kita perlukan sampai saat ini. Soal mendapatkan upah yang wajar agar bisa hidup dan menghidupi keluarganya itu silahkan, asalkan benar-benar mengusahakan kesejahteraan bagi bangsa. Disamping tidak menipu rakyat dan tidak merugikan negara. (syafanton)

Tulisan Terkait

Utama 5435263084218191102

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item