Halaman Sekolah Halaman Baca


Anak siswa sedang belajar di halaman sekolah
Dalam Budaya Semangat Membaca

Oleh : Moh. Rasul Mauludi

Untuk menumbuhkembangkan atau meningkatkan semangat budaya membaca di sekolah pada anak didik, tidaklah harus terus menerus memaksa peranan guru dan pengelola perpustakaan di sekolah. Tetapi bagaimana ide-ide kreativitas tersalurkan secara nyata berkesinambungan.

Sesuatu yang selalu bersifat formal ditambah dengan keribetan-keribetan administratif tidak akan menjadikan keinginan bakat dan minat baca bisa menyenangkan. Melainkan sebaliknya yaitu jenuh dan membosankan. Dalam kelas yang sudah formal tiap hari dan keluar masuk perpustakaan yang terkadang tidak terawat dengab baik.

Terkadang anak didik lebih banyak malas untuk keluar masuk dalam ruang perpustakaan yang tersedia disekolah. Semakin malas bila harus keluar masuk kantor bagi sekolah yang belum tersedia gedung perpustakaannya. Semua buku bacaan ditampung dikantor sehingga ruang kantor menjadi tidak kondusif.

Disini ide-ide kreatif harus terus dimunculkan agar tidak terjadi kemandekan semangat membaca pada anak didik. Salah satu yang harus dijadikan sarana minat baca lebih terbuka, menarik dan tidak begitu formal yakni menjadikan halaman sekolah sebagai halaman baca bagi anak didik di sekolah setiap harinya.

Halaman sekolah yang semula hanya berupa halaman yang dimanfaatkan bermain, upacara dan kegiatan belajar luar kelas, kini harus dibenahi kemudian didesain semaksimal mungkin untuk menjadi ruang baca terbuka atau perpustakaan yang unik menarik pada anak didik.

Cara ini tidak mengesampingkan gedung perpustakaan yang sudah ada. Tetapi dengan dikembangkan ke arah yang lebih terbuka dan nyaman adalah bagian dari pengembangan perpustakaan. Gedung perpustakaanpun bisa dimanfaatkan untuk dijadikan sarana lain yang dibutuhkan sekolah.

Beberapa cara mudah untuk menyulap atau menjadikan halaman sekolah sebagai halaman baca bagi anak didik, diantaranya :

•    Penyediaan Buku Bacaan


Secara umum tiap sekolah sudah banyak memiliki buku-buku bacaan baik yang berserakan dilemari kantor ataupun yang tertata rapi diruang perpustakaan. Secara tehnis buku bacaan tersedia untuk dibaca oleh anak didik. Tinggal menambah jumlahnya untuk memperbanyak buku-buku bacaan sehingga bahan bacaan yang akan dibaca anak didik bervariatif.

Buku-buku yang disediakan tentu bukan buku-buku pelajaran yang diajarkan dalam kelas, melainkan buku-buku lainnya berupa buku dongeng, buku inspiratif dan lainnya yang menunjang untuk lebih semangat belajar baik di sekolah maupun saat dirumah.

•    Mendesain Tempat Buku

Buku-buku harus ditempatkan ditempat yang layak dan aman, apalagi diluar kelas seperti halaman. Pertama, dinding kelas bagian luar dibuat lemari menempel ketembok. Tanggung jawab keamanan lemari bisa diberikan pada pengurus kelas seperti ketua kelas dan anggotanya. Selain wali kelas, anak didik memiliki peran ikut serta merawat dan menjaga buku-buku tersebut.

Kedua, halaman kelas dibuatkan tempat duduk permanen dengan desain ada tempat buku diantara tempat duduk itu. Bisa dengan bentuk melingkar maupun lurus memanjang. Konsep tempat duduk bisa diatur sesuai kondisi halaman sekolah masing-masing. Ketiga, mendesain pohon-pohon besar yang ada dihalaman sekolah menjadi tempat buku-buku bacaan. Cara ini membutuhkan kreativitas para guru untuk bisa terlihat menarik dan indah.

Dengan mendesain tempat buku di halaman sekolah semenarik dan seunik mungkin akan memancing anak didik tertarik untuk membaca buku-buku bacaan. Selain memancing tertarik juga budaya bermain sambil membaca bisa tercipta dalam lingkungan sekolah.

•    Dukungan Semua Pihak

Kepala sekolah, dewan guru dan penjaga sekolah harus berperan aktif dalam segala hal terkait menumbuhkembangkan semangat baca anak didik. Termasuk dukungan para pemangku kebijakan untuk memfasilitasi kebutuhan menjadikan halaman sekolah sebagai halaman baca bagi anak didik. Tentunya baik berupa materi maupun non materi sangat dibutuhkan demi mewujudkan konsep diatas.

Akan semakin mudah bila semua pihak dari penyelenggara pendidikan mendukung penuh terwujudnya konsep diatas. Semangat membaca adalah semangat sejarah yang tidak bisa dihilangkan yaitu semangat iqro'.

•    Pendampingan


Pendampingan dilakukan oleh semua guru yang ada di sekolah. Artinya anak tidak dibiarkan saat bingung atau tidak tahu memilah dan memilih buku-buku bacaan yang disediakan. Pun juga anak ingin bertanya tentang apa saja yang dibaca namun tidak memahaminya, maka disini guru mendampingi memberi penjelasan sehingga anak bisa paham dengan apa yang dibaca. Dengan pendampingan, guru bisa menemani bermain dengan santai dan mengontrol semangat anak didik dalan membaca.

Beberapa poin diatas sangatlah mudah dilaksanakan, namun sangat sulit dan tidak akan pernah terwujud bila hanya dijadikan rencana saja. Semua proses apapun butuh eksekusi nyata agar tidak hanya tinggal rencana tak terwujud. Anak didik berhak mendapatkan pelayanan dan kelayakan dalam proses belajar di sekolah. Terutama dalam hal kenyamanan sarana prasarana yang menunjang proses belajar.

Moh. Rasul Mauludi (MR. Mauludi),adalah guru bertempagt tinggal di  Jl. Pepaya No. 02 Lenteng Sumenep Madura 69461, HP. 082 332 813 557, WA. 082 330 745 337

Tulisan Terkait

Utama 3353355562079237305

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item