Pengelola Komunitas Siap-siap Menjadi "Tumbal"

Pertunjukan seni di sekolah (foto: google image)
Beberapa waktu lalu ketika salah seorang seniman Sumenep, Sugat Ibnu Ali datang ke rumah dan meminta saya agar saya mengisi bedah buku novel “Pemuja Berhala” karya Dimas Midzi sempat muncul perbincangan yang cukup  menarik tapi merisaukan.

Sugat adalah ketua Kalenteng (Komunitas Kesenian Lenteng) tampak menujukkan keluhannya dalam memkomunikasikan komunitasnya yang terdiri dari 8 komunitas. Jadi Kalenteng merupakan perkumpuan dari beberapa perkumpulan yang ada di wilayah di Kecamatan Lenteng.

“Pak, sekarang saya kesulitan menguatkan kembali teman-teman komunitas, karena tampaknya mereka mulai enggan hadir dalam acara bersama”, keluahnya

Masalahnya apa?

Ya saya merasa ketika mereka telah menemukan bentuk berkesenian sendiri, mereka jarang terlibat lagi kegiatan kami. “Padahal kami telah melakukan komunikasi kekeluargaan agar tetap bersatu”, Lanjut Sugat. “Bagaimana kalau setiap perform digelar di lembaga pendidikan?”.

Saya merenung sejenak, dugaan awal saya tidak meleset. Akhirnya saya jawab, tentu menggelar kesenian di lembaga pendidikan jauh lebih baik. Apalagi sekarang dalam gerakan literasi sekolah butuh input  gerakan literasi budaya.

Manfaat pergelaran seni di lembaga pendidikan (sekolah/madrasah)  siswa mendapatkan manfaat secara langsung, seperti mengekspresikan diri, mengembangkan bakat, mengomunikasikan nilai kesenian kepada orang lain, dan mengapresiasi karya seni. Dan manfaat tidak langsung bagi para siswa adalah dapat mengembangkan kepekaan terhadap alam sekitar dan menambah kehalusan budi pekerti.

Jadi tampil kesenian di sekolah itu lebih bagus. Selain menghindari kejenuhan bila setiap perform dan bertemu orang-orang sama. Seni harus diperkenalkan dan ditunjukkan kepada publik secara terbuka, kalau tidak mereka akan merasa menonton pertunjukan sendiri. “Biasanya komunitas itu yang menonton maupun yang ditonton orang yang sama, karena sistem yang kamu lakukan secara bergiliran. Semacam arisan gitu”, jelas saya. Sugat mengiyakan.

Kalenteng sudaj berdiri lebih dari tahun, yang selama itu berjalan aman-aman yang saja, bahkan demikian akrab dalam setiap penyajian keseniannya. Namun belakangan mulai terjadi kelemahan komunikasi dan media yang dimanfaatkan tidak lagi maksimal.

Akhirnya saya menjelaskan secara tuntas, apa dan bagaimana fenomena komunitas.

Apapun bentuk komunitas, khususnya yang menciptakaan kekaryaan akan mengalami hal yang sama. Punya komunitas berjalan dua tahun itu sudah baik, karena pada tahun pertama adalah merupakan tahapan adaptasi satu dengan yang lain, yang tidak kenal menjadi kenal, yang tahu menjadi tidak tahu, yang tidak berkarya makin kreatif dan seterusnya.

Tahun kedua merupakan tahun penemuan diri (bukan jati diri), yakni tahun menunjukkan karya-karya pribadi sehingga mereka menjadi tumbuh dan merasa mempunai ruang sendiri untuk menunjukkan eksistensinya. Secara  kolektif atau perorarangan. Itu wajar dan mereka mempunyai hak menentukan jadi dirinya, karena sejak awal berkumpul tidak ada berjanjian kontrak dan hanya bergantung komitmen bersama yang tentu tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Kalaupun  berlanjut pada tahun selanjutnya, itu merupakan bonus, hadiah atau penaghargaan karena konsistensinya terhadap apa yang digeluti selama bersama didalam komunitas. Komunitas bukan jaminan menentukan nasib anggotanya. Komunitas adalah media yang diatur suka atau tidak suka, apalagi komunitas nirlaba berdasarkan kerelaan (umum disebut: relawan), karena dari konsep itu tidak  diatur sebuah ketetapan yang mengikat. Kalaupun terjadi, itu hanya berdasarkan toleransi, senasib sepenanggungan, atau nilai kebersamaan, tapi buka sebuah jaminan mereka bisa bertahan, kecuali terjadi perjanjian kontrak dan berbayar.

Seperti apa yang saya sampaikan beberapa waktu pada acara Bimbingan Teknis Gerakan Literasi Nasinal di Pamekasan dilaksnakan Balai bahasa Jawa Timur beberapa waktu lalu dan saya kebagian penyaji materi “Membentuk dan Merawat Komunitas Literas”.
Saya menyatakan untuk dasar pembentukan komunitas ada beberapa beberapa kemungkinan, yang pertama karena sering kongkow dan ngopi bareng atas kesenangan sesama maupun perbedaan profesi, kedua dengan mengumpulkan orang-orang yang sesuai dengan bidang profesinya, ketiga mengundang orang-orang yang sekiranya bisa terlibat dan peduli dalam pengembangan komunitas dan keempat berdasarkan ketentuan organisasi diatasnya,

Tentu konsep pertama lebih dominan memberikan arah ketahanan dan keberlanjutkan komunitas, karena konsep ini berangkat dari satu hati, satu kesenangan, satu visi dan misi dan cenderung terbangun dari rasa persaudaraan dan posisinya sama-sama kuat. Dan selebihnya akan mengalami ganjalan, karena masing-masing mempunyai kehendak yang beda dan mempunyai kekuatan yang besa pula. Hal ini berdasarkan dari pengamatan saya dari sejumlah komunitas yang muncul. Dan sulit bergerak karena sejumlah alasan.

Pada dasarnya arah utama pembentukan dan  pengembangan komunitas yakni:  membantu masyarakat untuk mampu berperan sebagai subyek dalam memperbaiki kondisi hidupnya. Untuk itu dalam pengembangan komunitas memiliki tiga dimensi, yaitu: nilai, proses, dan stakeholders.

Dimensi nilai meliputi tiga komponen, yaitu:Partisipasi dan kolaborasi yang demokratis.Mempersyaratkan partisipasi semua pihak, yang berkepentingan, dan antara pihak-pihak tersebut dibangun kerjasama yang demokratis. Dan Keadilan yang merata.

Komunitas Seni Nan Tumpah gelar pelatihan dan pertunjukan di sekolah-sekolah (foto minangkabaunews)
Setiap pihak yang terlibat, tentunya, memiliki kepentingan-kepentingan maupun kebutuhan yang khas. Pengembangan komunitas harus dapat mengangkat kebutuhan maupun kepentingan tersebut. Tidak ada pihak yang dimenangkan maupun dikalahkan dan menentukan nasib sendiri. Setiap individu maupun kelompok yang terlibat dalam proses pengembangan komunitas hendaknya memiliki kepastian diri mengenai apa yang sedang dijalankannya. Kepastian diri ini juga menentukan kualitas keterlibatan dan kesediaan untuk memberikan andil pada proses yang sedang berlangsung.

Jadi komunitas dibentuk bukan menjadi ajang pamer, tapi sebagai wadah bertemu dan mendiskusikan kegemaran agar pengetahuan kian bertambah. Oleh karena itu, suatu komunitas disarankan memiliki perkembangan agar manfaat keberadaannya dirasakan oleh masyarakat luas.

“Kalaupun kamu ingin melanggengkan komunitas sesuai harapanmua, lakukan hal-hal kecil dan besar manfataannya, yakini bangun “manajemen adminitrasi yang baik dan benar, dan kuatkan manajemen komunikasi dalam segala tingkatan,” begitu saran saya pada seniman yang kerap tampil unik dan nyleneh itu.

Tapi pada saatnya setiap pengelola komunitas siap-siaplah menjadi tumbal dari komunitas yang kamu bangun, karena membentuk komunitas tak beda dengan membentuk usaha jasa layanan, yakni ketika anak buah/karyawan sudah mulai bisa dan mampu berkreasi, bisa jadi dibalik layar terjadi transaksi yang merugikan jasa usaha sendiri.

“Ini telah menjadi lazim,” kata saya pada Sugat.

Sugat diam, dan sempat senyum meski masam





Tulisan Terkait

Utama 2838685566643794823

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item