Penguatan Budaya Literasi, Agar Tak Terpengaruh Hoax

Pelatihan literasi bagi santri Ponpes Al-Amien Prenduan

Perkembangan teknologi dan internet di Indonesia semakin hari semakin berkembang pesat. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa pengguna internet Indonesia sepanjang 2017 mencapai 143 juta orang atau lebih dari 50 persen dari total penduduk.

Sebanyak 49,52 persen pengguna internet di Indonesia merupakan anak-anak muda berusia 19 - 34 tahun. Anak-anak muda ini yang kemudian disebut sebagai generasi milenial.

Aktivitas generasi milenial memang tak bisa terpisahkan dengan internet dan media sosial. Terlebih lagi, sekarang jumlah media sosial yang bermunculan juga semakin banyak. Berdasarkan laporan dari We Are Social dan Hootsuite, pertumbuhan media sosial tahun ini mencapai 13 persen dengan jumlah pengguna mencapai tiga miliar orang.

Menurut Sekretaris Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Amar Ahmad, perkembangan media sosial yang semakin pesat itu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pemuda. Salah satu tantangan yang kerap dihadapi adalah penyebaran hoax yang sulit terbendung.

Dirinya berharap para pemuda yang menjadi pengguna terbanyak media sosial bisa kritis dan tak mudah terpengaruh oleh hoax. Salah satu kuncinya adalah budaya literasi.

"Kita sih berharap dengan perhatian anak-anak muda kita terhadap perkembangan teknologi itu tidak kemudian (membuat) lupa mereka terhadap budaya literasi yang lain. Jadi mereka sudah malas baca buku, mereka juga malas untuk bisa belajar dari media lain termasuk untuk konfirmasi," ujar Amar, saat ditemui awak meia, di Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga, di Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (2/11/2018).
Ia melanjutkan, dirinya berharap para pemuda aktif mencari berita dari televisi, media, dan sumber lain yang terpercaya. Dengan begitu, mereka dapat membentengi diri untuk tidak mudah terjerumus kepada berita yang disinformatif atau hoax.

Amar berharap jangan sampai para pemuda mudah terpengaruh informasi yang tidak tepat, sehingga terbawa ke paham yang kurang benar seperti radikalisasi. Jangan sampai pula penyebaran hoax ini dapat memecah persatuan bangsa, yang merupakan bagian dari Pancasila dan Sumpah Pemuda.

Amar menjelaskan, sejak tahun ini Kemenpora telah bekerja sama dengan stakeholder lain seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), siberkreasi, dan Badan Usaha Milik Negera (BUMN) untuk menyelenggarakan pengembangan literasi.

"Ini adalah salah satu upaya kita (agar) bagaimana kemudian anak-anak muda itu tidak mudah terprovokasi oleh hoax ini. Jadi gerakan yang kita buat dan selalu diberikan kepada anak-anak kita. Bahkan, bulan di Kemenpora kita mengadakan pertemuan dengan pimpinan OKP pusat untuk memberi pencerahan tentang hoax," ucapnya.

Amar menambahkan, pihaknya mengajarkan kepada para pimpinan Organisasi Kepemudaan (OKP) untuk membiasakan diri melakukan penyaringan dulu sebelum sharing informasi kepada pihak lain. Selain itu, para pemuda juga harus melihat nilai manfaat dari sebuah informasi.

"Mungkin menurut kita sudah tepat, tapi apakah layak untuk kawan kita, sejawat kita, atau orang-orang di sekitar kita. Itu juga jadi catatan kita juga," kata dia.

Terakhir, Amar berpesan kepada para pemuda untuk memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial untuk menyebarkan hal-hal positif. Misalnya, budaya enterpreneur, teknopreneur, dan dakwah.

Yuk, jalankan budaya literasi dan jadi anak muda yang bijak menggunakan media sosial! (https://www.liputan6.com)



Tulisan Terkait

Utama 6300710107285228684

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item