Damailah Dengan Damai

Oleh : Moh. Rasul Mauludi

Hiruk pikuk dunia politik tak henti-hentinya menjadi tontonan yang paling menyita perhatian. Pada layanan digital kita disuguhkan oleh kalimat-kalimat, gambar-gambar dan video-video yang entahlah, terkadang bisa dipahami dan terkadang pula membingungkan. Ada yang provokatif dan ada pula sportif. Namun sangatlah jarang yang edukatif.


Memang tidak dapat dipungkiri, setiap momen pemilihan yang diselenggarakan oleh negeri ini terutama yang berkaitan dengan KPU, selalu penuh dengan berbagai fenomena karakter manusia. Artinya banyak karakter yang dadakan dan juga karakter yang dipaksakan. Karena karakter yang alamiah alias apa adanya kurang afdhol diramaikan.

Seyogyanya sesuai aturan yang ada dan berlaku, pemilihan apa saja diharapkan tidak menimbulkan gesekan-gesekan antar pendukung atau pemilih. Sehingga tidak diinginkan terjadinya perpecahan apalagi lebih dari perpecahan.

Namun sebenarnya, masyarakat awam tidaklah terlalu menghiraukan apa itu dunia politik, karena ia hanya faham mencoblos sesuai yang diinginkan. Entah itu diinginkan sendiri sesuai nurani atau diinginkan karena iming-iming dan imbalan dari yang mencalonkan diri.

Yang menjadi pertarungan idealisme, fanatisme ataupun gengsi semata adalah masyarakat intelektualitas yang dengan segala kemampuannya terus berupaya bagaimana elektabilitas calon meningkat. Walaupun terkadang melampaui cara-cara yang ditentukan. Dengan kata lain berbagai cara harus dilakukan untuk mendapatkan suara sebanyak-banyaknya.

Alam demokrasi tidak melarang untuk meneriakkan pendapat masing-masing. Namun tidak harus menabrak aturan, etika dan norma yang berlaku dan ditetapkan. Dengan begitu suasana akan tetap kondusif dan aman lancar.

Melihat fenomena yang terjadi, sepertinya kita merasa jenuh, bosan, marah, tidak mengerti dan bingung. Artinya apa yang disuguhkan pada publik penuh trik dan intrik yang menggelitik. Satu sama lain saling serang dan hujat sana sini.

Perilaku perilaku yang menyimpang dari para pelaku politik bukanlah pendidikan politik. Para pelaku politik yang menyimpang dari pendidikan politik seolah-olah tidak menghiraukan apa dampaknya pada masyarakat dan para generasi.

Pendidikan politik yang paling utama adalah mengajarkan dan memberi contoh yang baik pada para pemilihnya. Bukan malah sebaliknya mencederai etika politik itu sendiri. Dengan cata-cara yang menyimpang maka menjadi pembelajaran yang buruk pada masyarakat, khususnya para generasi.

Mari ajari kami tentang damai dan keindahan dalam dunia polotik itu. Dan ajari kami tentang tidak mencari-cari atau membesar-besarkan kejelekan sesama. Berilah kami tontonan yang menarik tentang kemajuan dan kejayaan bangsa ini. Dan berilah kami teladan-teladan yang menjadi inspirasi untuk mewujudkan cita-cita bersama. Kemudian ajari kami menjadi pemilih yang benar-benar memilih tanpa noda-noda atau dosa-dosa politik.

Dan dengan cara-cara damai yang menyejukkan adalah cara yang diharapkan oleh semuanya. Sehingga kita bisa memaknai bahwa demokrasi itu indah. Dan masyarakatpun akan belajar apabila para pelaku politik mau mengajarkannya. Dan yang terpenting adalah kekalahan bukanlah kegagalan tanpa makna, sebaliknya kemenangan bukanlah kesombongan yang semena-mena.


Tulisan Terkait

Esai 7478842803769325448

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item