Memfasilitasi Kreator Pendidikan di Pedesaan

Oleh : Muhammad Hisyam

 Keberadaan sekolah atau madrasah di desa, tentu tak sama dengan yang berada di wilayah perkotaan. Dari sisi lokasi, lembaga pendidikan di kota jauh lebih strategis ketimbang yang berada di daerah pedesaan. Begitupun dari sisi kualitas, sekolah atau madrasah yang berada di kota jauh melebihi yang ada di pedesaan. Sementara anak-anak desaPerbedaannya bisa dibilang bak antara bumi dan langit.

Dengan fasilitas dan saranaprasarana yang bertolak belakang tersebut, kurang bijak rasanya kita menyamakan kualitas antar keduanya. Ambil misal soal fasilitas teknologi infomasi yang diberikan kepada peserta didik. Siswa-siswi di kota akan dengan mudah mengakses informasi yang dibutuhkan melalui jaringan internet yang difasilitasi pihak sekolah atau madrasah. Sebaliknya, peserta didik di desa harus terlebih dahulu membuka-buka buku di ruang perpustakaan yang sempit dengan jumlah buku yang sangat terbatas.

Teknologi yang sehari-hari melingkupi peserta didik di perkotaan, hal itu masih menjadi impian bagi anak-anak desa. Jikapun jaringan internet sudah masuk ke daerah tersebut, anak-anak harus pergi berkilo-kilo meter untuk pergi ke telkom atau warnet yang biasanya ada di tempat yang mendekati “perkotaan”.

Belum lagi tentang para pendidiknya. Guru-guru di perkotaan rata-rata berkompeten dan punya latar belakang pendidikan sesuai mapel yang diampunya. Sementara guru-guru di sekolah atau madrasah pedesaan – terutama di desa-desa terpencil – rata-rata masih berkualitas rendah. Jangankan mencari guru yang memiliki kompetensi di bidangnya, mencari guru yang mempunyai skill mengajar baik saja masih kesulitan. Bahkan terkadang malah terkesan asal comot. Maklum saja jika di pedesaan anak-anak masih belum bisa mengenyam pendidikan yang bermutu.

Itulah yang membuat sekolah atau madrasah kota selalu lebih unggul daripada yang ada di desa. Namun demikian, rasanya tak fair jika segala bentuk keunggulan dan kelebihan disematkan di pundak peserta didik yang ada di kota semata. Sebab kalau kita mau dengan seksama menelaahnya, sesungguhnya siswa-siswi di desa juga memiliki keunggulan tersendiri.

Terbukti, banyak sekali peserta didik di lembaga pendidikan kota yang meraih berbagai piala kejuaraan tak sedikit yang berasal dari desa. Anak-anak tersebut sebenarnya merupakan bibit unggul desa. Hanya karena fasilitas sekolah atau madrasah di desa dirasa kurang memadai, maka anak-anak itu hengkang ke kota untuk mencari tempat belajar yang diangankan. Maka bisa dikatakan, bahwa bibit unggul yang berada di sekolah atau madrasah di perkotaan, secara tidak langsung sesugguhnya merupakan sumbangsih dari desa.

Di sisi lain, ternyata kelebihan fasilitas yang ada di sekolah atau madrasah perkotaan, juga takbmenjamin bahwa mayoritas peserta didik memiliki prestasi yang membanggakan. Nyatanya tak semua peserta didik dapat memanfaatkan fasilitas tersebut. Teknologi komunkasi informasi memang dengan mudah mereka dapatkan. Teknologi pendidikan juga membuat siswa lebih gampang untuk memahami pelajaran.

Namun yang perlu diingat, ketika pelajar perkotaan dapat menyerap teknologi tersebut dengan sempurna, maka di saat itu pula dampak buruk teknologi juga mereka serap dengan sempurna pula. Satu hal yang tak bisa dipungkiri, tekonologi juga punya sisi negatif dan merusak semangat belajar siswa. Dengan laptop miliknya anak-anak kota bisa berjam-jam duduk di depannya untuk hal-hal tak berguna. Dengan gadget yang ada di tangannya, mereka bisa seharian penuh menuliskan sesuatu yang bersifat iseng. Tak sedikit anak-anak kota membuang-buang duit untuk main game PS atau game online saban hari. Sebagai akibatnya, pendidikannya bisa terbengkalai.

Kebiasaan ‘bermain teknologi” juga bisa menjadi sebab mereka bosan untuk menuntut ilmu. Itulah yang membuat mereka jadi malas belajar dan sering bolos sekolah. Begitupun dengan berbagai fasilitas dan sarana-prasarana pendidikan yang disediakan sekolah dan madarasah di daerah perkotaan. Bahkan setiap saat siswa-siswi di perkotaan dapat menggali ilmu pengetahuan secara cepat melalui gadget yang ada di tangannya sepanjang waktu. Namun dengan gampangnya mereka mengakses ilmu pengetahuan, hal itu justru membuat mereka cenderung abai dengan apa yang disampaikan oleh guru. Dengan kata lain, anak-anak kota dengan beragam fasilitas dan jaringan media yang serba cerpat, tak menjamin mereka untuk mencari ilmu dengan penuh semangat.

Sementara anak-anak desa, karena mencari ilmu tak segampang seperti siswa-siswi di kota, mereka justru sangat serius untuk mencari ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, siswasiswi desa begitu serius merespon apa yang disampaikan oleh gurunya. Mereka sangat bersemangat menerima pendidikan dari para gurunya. Sebab dirinya merasa, bahwa apa yang disampaikan guru itu merupakan sesuatu yang sangat penting.

Tingginya semangat peserta didik di pedesaan dalam meraup ilmu pengetahuan, sesungguhnyan menandakan bahwa mereka begitu serius dalam menggapai cita-citanya.bSemangat yang tinggi semacam itu, karena orangtua senantiasa mengajarinya tentang arti sebuah semangat dan cita-cita. Begitupun dengan lingkungan desa yang melingkupinya. Lingkungan hidup desa selalu menempa dirinya untuk bekerja keras. Modal inilah yang membuatnya sanggup mengatasi hambatan dan tantangan yang datang dari lingkungan.

Sementara orangtua dan lingkungan kota, kiranya kurang membentuk anak-anak perkotaan untuk bekerja keras dan penuh semangat dalam mengejar cita-cita. Tak jarang malah orangtua dan lingkungan justru menjerumuskan mereka ke sebuah ruangan yang senyap. Kedua orangtua yang bekerja di luar rumah, kerap membuat anak merasa sepi dan sedih ketika berada di rumah.

Sebagai akibatnya, mereka kerap mencari kesenangan dengan cara nongkorong di pinggir jalan. Hidupnya selalu ingin bersenang-senang tanpa menghiraukan baik-buruk. Kurangnya kasih sayang inilah, yang membuat anak gampang terpengaruh oleh lingkungan buruk dan pergaulan yang jauh dari nilai-nilai manusiawi, moralitas individual dan etika sosial. Melihat uraian panjang di atas, tampak bahwa pendidikan kota dan desa sama-sama punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita hendaknya mengagendir apa saja kelebihan di kota dan desa, sekaligus mengagendir kekurangankekurangan yang ada di kota dan desa. Kelebihan-kelebihan yang ada di desa, hendaknya disuntikkan ke perkotaan.

Begitupun dengan kelebihan-kelebihan yang ada di kota, hendaknya ditularkan ke pedesaan. Seperti fasilitas-fasilitas pendidikan, seharusnya pula diberikan kepada pendidikan di desa. Dengan kata lain, antara pendidikan di kota dan di desa laiknya memperoleh perlakuan yang sama. Keduaduanya memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang. Sebab sekolah dan madrasah adalah merupakan sebuah ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan.

Setidaknya, gedung pendidikan di desa-desa yang ringkih haruslah disokong dana pembangunan hingga menjadi bangunan sekolah atau madrasah yang representatif. Kelengkapan fasilitas dan sarana-prasarana yang ada di sekolah/ madrasah perkotaan, meskipun tak sama persis, hendaknya disupportkan ke desa-desa.

Yang terpenting lagi, bagaimana agar tenaga pendidikan yang ada di desa disokong dengan SDM pendidikan yang lebih mumpuni. Sebab tenaga pendidikan yang ada di pedesaan, boleh dibilang masih punya banyak kekurangan. Inilah yang merupakan salah satu penyebab kenapa pendidikan di desadesa selalu mengalami ketertinggalan. SDM pendidikan yang tak profesional tentu akan menimbulkan ketertinggalanketertinggalan dalam berbagai hal.

Padahal kita tahu, bahwa seorang pendidik adalah seorang kreator yang inspiratif, kreatif dan inovatif. Oleh karenanya, para kreator inilah yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih – utamanya masalah kesejahteraan. Hendaknya pemerintah memberikan dukungan serius terhadap hal tersebut.

Para pendidik yang ada di pelosok-pelosok desa layaknya memperoleh “kesejahteraan lebih”. Guru-guru ASN di daerah-daerah khusus seharusnya mendapatkan tunjangan-tunjangan khusus pula. Jika hal demikian dapat diwujudkan, tentu banyak “relawan” guru-guru kota yang mau terjun ke pelosok-pelosok desa. Desa di daerah-daerah kepulauan, daerah terpencil dan daerah perbatasan, dengan kondisi infrastruktur yang ada, sungguh membutuhkan terobosan guna mengembangkan dan meningkatkan pendidikan di tempat tersebut. Sebab di daerah seperti itu, pendidikan belum dianggap “penting” ketimbang bekerja untuk mengatasi kehidupan mereka yang miskin

Sehingga banyak sekali anak-anak berhenti sekolah lantaran harus membantu orangtuanya mencari nafkah. Kalau hal itu bisa dilakukan, maka kesetaraan pendidikan akan dapat terwujud. Pemerintah dan masyarakat haruslah melakukan upaya-upaya yang kesemuanya itu bertujuan untuk menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan pendidikan di desa-desa utamanya di daerah-daerah kepulauan, daerah terpencil dan daerah perbatasan.

Apabila pendidikan di perkotaan dan di pedesaan telah mencapai kesetaraan, dapat dipastikan akan banyak bermunculan anak-anak desa yang mendulang prestasi. Dengan demikian, bibit-bibit unggul dari pedesaan tidak lagi hengkang berlarian ke kota-kota. Bibit-bibit unggul yang merupakan aset pedesaan inilah, yang kelak akan membangun desa-desa mereka sehingga bisa bersaing dengan kota.

Anak-anak desa unggulan inilah, yang akan senantiasa memberikan penyadaran kepada masyarakatnya untuk memajukan desa. Dengan demikian, maka tumbuhlah keyakinan, kecintaan dan kebanggaan masyarakat pada desa yang telah melahirkannya. Dan itu semua bisa dimulai dari ranah pendidikan. (*)

*) Guru Madrasah Tsanawiyah Thoriqul Huda, Cetakgayam, Mojowarno – Jombang.

Tulisan Terkait

Utama 3329938649589466462

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item