Alam “Keluarga” Pembentuk Karakter Anak Bangsa

Oleh : Sukarti, M.Pd



Seorang anak kecil membuka bungkus permen dengan jari-jemarinya yang mungil. Dengan cekatan tangan kanannya memasukkan permen tersebut ke mulutnya. Di luar dugaan, tangan kirinya segera memasukkan bungkus permen yang ia pegang ke dalam saku celananya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang ibu paroh baya melakukan hal yang sama. Ibu tersebut tak lain adalah ibu dari sang anak.

Pada kesempatan lain seorang pemuda terlihat  marah-marah  pada  tukang parkir yang dia anggap tidak becus memberikan aba-aba. Kata-kata kotor dan serapah  meluncur  deras  dari  mulutnya. Melihat kejadian itu, di dalam mobil terlihat sepasang suami istri tersenyum sambil saling melemparkan pandangan. Suami istri yang tak lain adalah orangtua dari si pemuda tersebut. Sama sekali tidak menganggap ada yang salah dari perlakuan putranya.
Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai tokoh pendidikan Indonesia, menetapkan Alam Keluarga merupakan ‘pusat pendidikan’ yang pertama dan terpenting dalam Trisentra Pendidikan di samping Alam Perguruan (sekolah) dan Alam Pergerakan Pemuda (pergaulan). Sistem Trisentra Pendidikan merupakan pusat pendidikan yang sangat penting dalam pendidikan karakter anak; keluarga-sekolah-pergaulan menjadi inti pedidikan karakter dan pengembangan pengetahuan.

Sangat beralasan apabila Raden Mas Soeryadi Soeryaningrat yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan karakter yang pertama dan utama. Lingkungan keluarga merupakan pondasi utama dalam pembentukan kepribadian anak. Ketika anak berusia 0-6 tahun, mereka mulai belajar bersosialisasi. Mulai mengembangkan aspek kognitif, maupun psikomotornya. Pada usia 2 tahun anak dengan mudah menyerap dan akhirnya meniru segala sesuatu yang dia lihat maupun yang dia dengar.

Semua perilaku, verbal maupun non­ verbal seperti kata-kata, mimik wajah, aktivitas fisik, dan semua contoh perilaku dalam kontrol orangtua seperti televisi, dengan mudah diserap dan dicontoh oleh anak. Sebagai ilustrasi, perkembangan otak anak usia golden age ini seperti spons yang akan menyerap semua informasi yang ada di sekitarnya. Baik informasi yang baik maupun informasi yang kurang baik.

Apabila orangtua dalam suatu keluarga terbiasa melakukan hal-hal yang positif, InsyaAllah anak-anak mereka akan mela­ kukan hal yang sama. Apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar secara tidak langsung akan tertanam kuat dalam jiwa mereka. Hal ini pasti akan berpengaruh ter­ hadap perilaku mereka sehari-hari.

Semisal contoh kecil sebagaimana yang terdapat di awal tulisan ini, kebiasaan kecil tetapi sangat berpengaruh terhadap kebiasaan dan kehidupan anak selanjutnya. Bahkan sangat mungkin dalam kehidupannya kelak ketika sudah dewasa dan berkeluarga. Begitu pula sebaliknya, ketika orangtua terbiasa membuang sampah sembarangan, anak-anak mereka akan melakukan hal yang sama. Mereka selamanya akan menganggap hal tersebut tidak salah karena orangtua mereka juga memberikan contoh yang salah. Kebiasaan salah tersebut akan terus berulang apabila tidak pernah ada yang mengingatkan bahwa perilaku tersebut salah. Begitu juga apabila kata-kata kasar sudah terbiasa didengar, dia tidak akan merasa bersalah jika sumpah serapah juga keluar dari mulutnya.

Kemajuan teknologi berdampak sangat luas terhadap segala lini kehidupan manu­ sia, terutama dalam perkembangan anak. Kemajuan teknologi juga membawa banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Hanya saja, saat ini yang berkembang bukan manusia yang menguasai teknologi, tetapi teknologilah­ yang justru telah menguasai manusia. Manusia tidak lagi bisa menjadi manusia seutuhnya.

Dengan kemajuan teknologi, manusia tidak lagi menjadi makhluk sosial, tetapi telah menjelma menjadi makhluk individualis. Pada zaman sekarang tidak sedikit keluarga yang menyerahkan pendidikan anak-anak mereka pada televisi, gagdet dan handphone tanpa filter sedikitpun. Untuk itu perlu mengembalikan peran keluarga yang sebenarnya terhadap pendidikan dan perkembangan putra-putrinya.

Empat kata ajaib bisa digunakan untuk menjadi dasar pembentukan karakter anak. Tolong, terima kasih, permisi dan maaf merupakan empat kata yang sangat sederhana tetapi mampu membawa dampak yang sangat luar biasa.

Pertama, pembiasan untuk mengatakan tolong pada anak ketika ingin meminta bantuan orang lain harus ditanamkan sejak dini. Hal ini bisa membuat anak tidak berbuat semena-mena pada orang lain. Terutama orang yang dia anggap status sosialnya di bawahnya – misalnya pada asisten rumah tangga.

Kedua, mengucapkan terima kasih apabila tidak dibiasakan dari kecil, mereka juga merasa kikuk ketika harus mengucapkannya pada orang lain walaupun pada orang yang sudah menolongnya. Tidak semua orang dengan mudah mengucapkan kata tersebut meskipun sudah mendapatkan bantuan dari orang lain.

Ketiga, permisi. Di era sekarang ini sudah jarang kita temui sikap anak-anak yang tawadhu’. Mereka tanpa segan berdiri di dekat orangtua yang sedang duduk di dekatnya. Ataupun berjalan melenggang di depan orangtua yang sedang bercakap-cakap. Kata permisi perlu ditanamkan pada anak-anak agar mereka kelak dapat menjadi generasi penerus bangsa, Tak hanya hebat kemampuan kognitif dan psikomotornya, tetapi yang tidak kalah pentingnya juga memiliki aspek afektif yang hebat.

Keempat, ucapan maaf. Mau meminta maaf adalah sifat ksatria. Dengan mau meminta maaf anak tidak hanya diajarkan berani mengakui kesalahannya, tetapi sekaligus diajarkan untuk berani meminta maaf. Di samping itu, anak juga harus diajarkan untuk mau memberikan maaf.

Dengan membiasakan mau memberikan maaf, secara tidak langsung orangtua sudah mengajarkan pada anak untuk tidak mempunyai rasa dendam. Pembiasaan harus dilakukan pada anak-anak ketika mereka dalam usia yang masih sangat belia. Oleh karena itu, penguatan pembentukan karakter anak tidak bisa lepas dari pembiasaan dan peran orangtua mereka sehari-hari.

Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak saat ini, membutuhkan peran orangtua dalam pembentukan karakter serta tumbuh kembang mereka. Menurut Elly Risman, Psi, Direktur dan Psikolog ‘Yayasan Kita dan Buah Hati’, obrolan sederhana yang dibangun orangtua, terutama ayah, akan membuat anak menjadi pribadi dewasa yang suka menghibur, punya harga diri yang tinggi, mampu mendapatkan nilai akademis di atas rata-rata dan membuat anak lebih pandai bergaul. Dengan pola pengasuhan yang benar, anak tidak perlu mencari validasi dari orang lain. Mereka membutuhkan 3P: penerimaan, penghargaan dan pujian.

Dengan memberikan “pondasi’ yang kuat berupa iman dan nilai-nilai kehidupan yang positif pada anak-anak kita, InsyaAllah mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang cerdas, tangguh dan berakhlakul kharimah. Dengan pembentukan karakter dari “Alam Keluarga” yang kuat, diharapkan tidak ada lagi remaja yang tawuran, tidak ada lagi remaja yang terbelenggu narkoba. Dan dari “Alam Keluarga” yang kuat, akan lahir remaja-remaja yang peduli pada sesama, yang optimis dan penuh percaya diri dalam menyongsong masa depannya; masa depan bangsa. (MPA)

*) Guru Bahasa Indonesia di MTsN 2 Kota Kediri.

Tulisan Terkait

Asah Literasi 2204394140668880198

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item