Puisi Amalisyah, Dari Hijrah Sampai Denting Sang Pujangga

Salam Hijrahku

titik moksa dalam setiap selaksa,
tersentuh lembut oleh gemerlap lampu kota.
berjejer rapi bak barisan peserta upacara,
menyambut segala episode dalam kidung hijaiyah.

ku tapakkan langkah penuh hikmah.
pandangan lurus tanpa menoleh kemana-mana.
tajam bola mata menguak setiap barisan nampan cahaya.
menekuni mimpi yang ku rajut dengan do'a.

aku adalah insan yang pernah masuk dalam kenistaan.
cintaku lesap akan tipuan bahagia yang fana.
banyak kewajuban yang menunggu tuk ku sentuh.
namun dulu aku alpa melakukannya.

kini aku tersungkur dalam sepi.
menyadari betapa hinanya aku di masa lalu.
sanubariku kian mengurai makna.
mengais sisa-sisa kebajikan yang ada.

ku isi kekosongan yang pernah melaju pada agama.
merintangi bilik kisah pada setiap pergumalannya.
meski aku masih berpijak pada shilahan,
tapi aku berusaha tuk manapak langkah pada tanjizan.



Sajak Untuk Tanah Airku

pernahkan kalian mendengar untaian kisah.
tentang ibu pertiwi yang tengah gelisah,
melihat redup tawa yang terpapar di indonesia.
kala itu...

tiada lampu yang bersanding mesra,
yang terang hanyalah letusan meriam para penjajah.
tidak ada melodi yang bernada indah,
yang terdengar hanyalah suara nuklir hingga membuat rakyat menderita.

pada satu hari yang penuh dengan rahmat-Nya.
nuklir tak lagi menukik di telinga,
meriam tak lagi singgah pada negara tercinta,
yang pada  akhirnya menggurat tawa pada tirai kisah.
menyunggingkan senyum yg terpapar jelas dari bibir seorang pejuang,
ibu pertiwipun sumringah menatap damai damparan permai.

hari-hari bergulir dengan sejuta kebahagiaan.
rakyat tak lagi kelaparan pada setiap tanjizan,
pemuda pemudi kini mampu duduk pada bangku pendidikan,
dan indonesia tenang dengan segala kebijaksanaan.

siapa yang tak bangga pada pujangga lama.
yang rela bertumpah darah demi generasi selanjutnya.
siapa yang tak gerai dalam air mata,
mengingat ibu pertiwi yang pernah terbelenggu oleh duka.
Indonesia telah merdeka dengan dasar yang di sebut pancasila.

namun apa yang ku tatap saat ini,
semua kondisi kembali pada keadaan semula.
bahkan lebih ganas dari pada sebelumnya.
generasi mudah yang tak mampu mengemban amanah,
hanya mengotori negara dengan shibru perilakunya.

wahai pemuda generasi penerus bangsa..
tak sadarkah kalian semua.
bahwa segala moksa dalam selaksa,
hanyalah tipuan mata belaka.

kembalilah pada jalan yang seharusnya kau tempuh.
tinggalkan narkoba, ganja, dan segala sesuatu yang dapat merusakmu.
jangan lesapkan cinta di jiwamu hanya untuk dunia,
karena fana adalah predikat hidup kita.


Guratan Pena Seorang Insan


aku adalah isim yang ingin teguh seperti kalimat fi'il.
berusaha dalam langkah setapak demi setapak.
aku pernah hina dalam pandangan mereka.
yang tak lain adalah manusia sama darah.

tatapan keji yang mereka berikan padaku,
kata tak ikhlas yang mereka lontarkan ketika berdialog denganku.
namun aku hanyalah jelmaan tulang rusuk bengkok seorang adam.
yang tak mampu melakukan apa-apa,
kecuali diam dalam gulat sandiwara.

aku memahami setiap makna yang ku pijaki.
merelai mimpi yang kadang tak berdamai dengan otak kiri.
merenggut segala tawa pada untaian kisah yang ku anggap sejati.
yang ternyata isinya adalah pembuktian atas kefanaan hati.

aku telah menemukan bingkai cahaya.
dalam dentingan waktu yang kembali menyapa.
dengan segala duka atas gelap yang meningkap.
walau dengan ketertatihan menyeret langkah,
aku yakin aku bisa.
karena tuhan tak kan menyia-nyiakan setiap gurat pena.


Dentingan Taqwa Sang Pujangga

hinggap sepucuk rasa yang yang meraung dalam jiwa.
hingga aku tersungkur pada rengkuhan sunyi.
berdiam diri dalam rasa yang tak ku mengerti.
menatap nanar kesegalah arah permadani.

sejenak ku terdiam dalam fikiran yang terus berputar.
menjahit kembali setiap masa dalam denting kenangan.
gundah kian bersorak dengan segala kejutan,
menyergap semua memory yang penuh kesesatan.

aku ingin berhijrah...
dari segala kekeliruan yang pernah ku tempuh bersama masa.
bingkai lentera berpijar dalam nestapa,
menerangi langkah yang ingin kembali pada-Nya.

terseok langkah pada pijakan pertama.
bertapak pada suaru yang selalu menggemakan lafadz indah,
yang mengungkungkan kidung hijaiyah dalam kalam mulia.
menggetarkan sukma pada untaian sajak tak terkata.

pada malam yang indah oleh kehadiran bintang,
pada malam yang sepi dari kerumunan insan,
dan pada sajak yang memuat bait aksara.
saksikanlah aku yang membentangkan sajdah.
terbalut niat mulya dari nurani jiwa yang lara.
berharap mendapat ampunan dalam taqwa yang kembali menyapa.


Amalisyah Septia Ningsih di takdirkan menjadi hamba yang tinggal pada sebuah desa yang sangat jauh dari kota yaitu Desa Cukurguling Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan bersuku Madura. Kini duduk dibangku kelas XII. Bahasa, SMA  Darut Taqwa yang berada dalam naungan Pesantren Ngalah.



Tulisan Terkait

Puisi Pilihan 4596825882149396536

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item