Menguak Imaji Kumpulan Cerpen "Layar Berselimut Maut"

Fenomena menarik. Pada dekade akhir ini guru penulis mulai bermunculan. Ini menandakan bahwa guru tidak selalu “cerdas” di kelas, tapi juga cerdas dalam membangun kreativitas dalam dunia kepenulisan.

Maka wajar bila guru menjadi inspirator dari kanal kehidupan, yang selanjutnya dirindukan untuk hadir di ruang kelas dan di luar kelas. Menulis bagi guru tampaknya menjadi alternatif terbaik dalam menyiasati proses kemampuan kreativitasnya. Inspirasi seorang guru seharusnya juga dapat dilakukan ketika ia mampu menginspirasi diri sendiri sebelum menginspirasi anak didik maupun masyarakat lingkungannya. Karena guru yang kreatif, dan elegan adalah guru yang mampu berbagi pengalaman.

Saya meyakini, guru yang luar biasa seperti matahari bagi anak didiknya atau bagi siapa saja yang membenarkan sebuah kreasinya. Kesadaran seorang guru yang tertinggi adalah ketika dia menyadari bahwa dia berdiri di puncak lembah, kemudian berusaha keras memanggil suara hati anak-anak gembalaannya untuk mendaki. Kesadaran itulah posisi guru akan lebih tampak wujudnya dari segala arah dan sisinya.

Itulah barangkali representasi dari buku antologi cerpen “Layar Berselimut Maut” yang ditulis oleh Yulianti ini. Saya melihat ada denyut yang demikian kuat dari sebuah perjalanan panjang seorang guru dalam menenun kehidupannya yang romantis namun penuh misteri, lantaran perjalanan romantis ini bukan sekedar kenangan, tapi mempunyai nilai pengalaman tinggi dari sebuah tanggung jawab dalam mengurus dan mengembangkan kesadaran anak didik di seberang lautan.

Perjalanan laut yang kurasa membuat aku juga larut dalam lelap tidurku. Tiba-tiba kapal mulai serasa oleng, ku buka mataku. Orang-orang banyak yang disibukkan dengan meminta kresek kecil kepada ABK. Pemandangan yang biasa aku temui ketika ombak mulai datang menyapa. Aku tetap tenang sesekali berusaha membetulkan posisi Arif yang masih dalam pangkuanku (Hampir Karam)

Sebagaimana cerpen yang lain, sang penulis sebagai tokoh sentral, tampaknya berusaha menggali sedalam-dalamnya pengalaman pribadinya yang demikian kental yang terus menekan dalam benak. Ini tampak sekali penulis menguatkan narasi cerita dibanding dialog yang barangkali sekedar sebagai bumbu pelengkap semata. Menurut saya, di sinilah letak kekuatan cerpen ini sehingga pembaca bukan sekadar diajak bermain imajinasi, tapi juga ikut berlayar bersama pengalaman pribadinya.

Tidak disangkal, sensitifitas seorang perempuan memang begitu kuat dan dalam. Perasaan lebih mendomasi dalam menerjemahkan realitas kehidupannya. Dalam cerpennya “Air Mata dan Senyuman”, sang penulis kerap dihadapkan dilema untuk menentukan jejak langkahnya. Sehingga keputusan yang kemudian menjadi ambigu itu menjagi kegamangan yang panjang.

“Ibu, maaf.. aku. Aku gagal lagi,” seruku dalam hati. Ini kali ketiga aku mengadu nasib dalam tes CPNS, apakah benar bahwa mereka yang lulus adalah orang-orang yang memiliki “orang dalam”?
Mungkin realitas ini telah berlangsung sedemikian lama, dan menjadi masa lalu. Tapi sebagaimana kerap saya sebutkan bahwa perempuan memiliki nilai sensitif yang tinggi dan selalu bercahaya ketika harus menceritakan.

Dalam menulis cerpen, alur cerita menjadi penting untuk mengantar kepada pembaca. Alur yang baik bukanlah alur yang “sekadar mudah untuk diikuti”. Tetapi hakikatnya berkaitan dengan bagaimana menciptakan rangkaian peristiwa itu secara harmonis dan baik. Dan alur yang memikat itu tentu berkaitan dengan komponen fiksi yang lain – yang secara sinergis – akan memberikan gambaran fiksi yang memikat pula. Bila tidak, maka dapat dipastikan telah “terjadi pemaksaan” untuk disebut cerita, dan akibatnya, tentu ketika cerita berada di tangan pembaca, cerita tidak lagi menjadi menarik.

Secara keseluruh dari tiga belas judul dalam antologi cerpen ini, sang penulis berusaha lebih berhati-hati menyusun alur, mungkin narasi yang disodorkan cenderung lebih menguatkan imajinasi dalam realitas kehidupannya. Inilah yang saya maksud, bahwa cerita yang berdasarkan dari pengalaman pribadi akan melahirkan manfaat ganda, sebagai kIbad sastra dan pembelajaran dari pengalaman diri.

Konsep menulis karangan pendek yang berbentuk prosa atau cerpen ini merupakan cerita hayal yang lahir dari imajinasi dan realitas sepenggal kehidupan, yang penuh pertikaian, tantangan, romantisme dan peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan melalaui bahasa tulis. Karena bahasa tulis adalah medium yang menyimpan dan mewakili gagasan, pikiran, perasaan atau pengalaman, maka orang lain akan memahami “isi dibalik bahasa tulis” itu tatkala mereka (pembaca) memahami dengan tuntas bahasa yang digunakan.

Konsep ini tampaknya digunakan oleh Yulianti, sehingga semua “beban” itu kini telah dialirkan dan mencair dalam bentuk cerita. Tentu saya sebagai pribadi apresiatif usaha penerbitan buku ini, dengan harapan pula buku ini menjadi obat untuk memperdalam kenangan dan romantisme kehidupan, sekaligus mengurangi dan menghilangkan beban traumatif yang barangkali masih berjejal dalam benak dan pikiran.

Kapal itu sudah membunyikan terompetnya tiga kali, artinya kapal ini akan segera berlayar dan pengantar harus turun. Tali jangkar telah dilepas, kapal mulai menjauh dari dermaga, wajah-wajah siswaku, tetangga dan teman-teman guru semakin mengecil hingga hilang termakan oleh jarak (Akhir dari Penantian)

Syaf Anton Wr,

Tulisan Terkait

Terbitan Buku 2921661240830164983

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item