Dialektika Agama

 Oleh: Taufiqurrahman *)


Setelah Mama Dedeh, Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat menyatakan penolakan terhadap konsep Islam Nusantara. Beragam tanggapan pasti akan muncul baik dari pihak yang mendukung ataupun kelompok yang menolak konsep yang lahir di komunitas Nahdlatul Ulama (NU) ini. Diskusi liar tanpa moderator pun akan terjadi di ruang-ruang media sosial hingga berpotensi memperlebar jurang pembeda antar elemen bangsa.

Sebelumnya, polemik Islam Nusantara mencuat pada tahun 2015 ketika istilah Islam Nusantara menjadi bagian dari tema diskusi Pra-Muktamar ke-33 NU di Makasar. Sejak saat itulah NU aktif mengampanyekan Islam Nusantara, suatu konsep keislaman yang dinilai cocok dengan karakter dan budaya bangsa. Di saat yang sama, ada kelompok lain yang gigih dan lantang menyuarakan penolakan terhadap konsep ini.

Lahirnya Konsep Islam Nusantara bertalian dengan sejarah masuknya Islam ke bumi Nusantara. Islam masuk ke Indonesia tanpa disertai pengiriman pasukan dan berakhir dengan penaklukan. Islam datang dengan cara damai melalui jalur perdagangan hingga diterima masyarakat tanpa diwarnai ketegangan.

Ketika Islam masuk, masyarakat setempat telah memiliki kepercayaan pada adanya kekuatan lain di luar diri manusia. Kekuatan itu bersifat gaib berasal dari roh yang mendiami pohon, gunung, atau tempat keramat lainnya. Masyarakat juga mempercayai adanya benda yang memiliki kekuatan yang berpengaruh terhadap manusia seperti keris. Kepercayaan ini disebut dengan animisme dan dinamisme.

Selain memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme, penduduk Nusantara juga menganut agama Hindu dan Budha.  Kepercayaan dan agama ini melahirkan adat istiadat, tradisi dan budaya.

Pertemuan antara ajaran Islam dan tradisi setempat, menurut Mangkubumi (2014) memungkinkan terjadi tiga hal. Pertama, Islam memberi pengaruh terhadap tradisi lokal Kedua, Islam dipengaruhi oleh tradisi. Ketiga, Islam dan tradisi saling bersinergi.

Islam yang masuk ke bumi Indonesia dengan corak tasawufnya mengedepankan akhlak baik kepada Sang Pencipta maupun kepada sesama manusia. Ketika bergumul dengan tradisi setempat, Islam tidak serta merta mengubur tradisi yang ada. Sebaliknya, Islam masuk ke dalam tradisi lalu meniupkan ruhnya hingga menjadi tradisi lama yang berisi nilai-nilai ajaran Islam.

Ritual tujuh bulanan bagi ibu hamil, turun tanah bagi bayi, dan tiga hari hingga seribu hari orang meninggal merupakan bagian dari tradisi Nusantara masa lalu yang terawat hingga hari ini dengan memasukkan Islam ke dalamnya. Maka dilaksanakanlah ritual tujuh bulanan dengan pembacaan surat-surat Al-Quran dan peringatan seribu hari dengan yasinan dan tahlilan.

Dialog antara Islam dan budaya setempat ini kemudian dimaknai sebagai Islam Nusantara. Islam yang menerima batik, sarung dan blangkon sebagai pakaian yang sah digunakan dalam salat. Dengan demikian, Islam Nusantara memiliki karakter yang berbeda dengan Islam di belahan dunia lainnya karena budaya yang berbeda.

Selama ini, Islam Nusantara menuai pro dan kontra di tengah masyarakat karena adanya tafsir yang berbeda. Pihak yang menentang konsep ini melihat indikasi Islam Nusantara bertalian dengan paham Islam Liberal yang lahir lebih awal. Islam Liberal sendiri telah digolongkan sebagai paham sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kekhawatiran ini ditepis oleh Ketua MUI Ma’ruf Amin yang menyatakan Islam Nusantara sebagai sebuah pemikiran yang moderat, kontekstual namun tidak liberal.

Penggunaan frasa Islam Nusantara menimbulkan frasa tandingan Islam Arab. Kedua frasa ini kerap dibenturkan hingga pendukung gagasan Islam Nusantara tampak alergi terhadap Islam Arab. Dua frasa ini muncul di kalangan pendukung Islam Nusantara sendiri, sedangkan pihak yang antipati enggan menggunakannya karena menganggap Islam hanya satu tanpa perlu tambahan sebutan.

Polemik ini akan terus bergulir karena masing-masing kelompok memiliki tafsir yang berbeda. Bahkan di kalangan Nahdliyin sendiri perbedaan itu juga ada. Untuk meminimalisir silang tafsir ini, perlu kiranya Pengurus Besar NU sebagai pengusung konsep, secara kelembagaan menerbitkan buku putih Islam Nusantara. Buku yang ditulis perorangan hanya menawarkan pendapat pribadi yang cenderung subyektif, sedangkan buku hasil kajian tim lebih memungkinkan diterima khalayak.

Buku ini yang akan menjadi panduan bagi pemikiran dan pergerakan Islam Nusantara. Buku ini akan menyaring paham ilegal yang berpotensi menyelinap ke dalam gerakan ini dalam bentuk paham liberal ataupun radikal. Dengan buku ini masyarakat memiliki pengetahuan yang utuh, tidak menaruh curiga dan tidak gamang mendukung gerakan ini.

Bila Islam Nusantara adalah buah dialog Islam dengan budaya, maka kontroversi ini adalah dialog antara gagasan Islam Nusantara dengan penentangnya. Kedua belah pihak merupakan bagian dari elemen bangsa yang tidak boleh berseteru karena berbeda pandangan. Oleh karena itu, proses dialog perlu dilakukan dengan cara bermartabat tanpa saling mencela hingga tidak mencederai nilai santun yang diperjuangkan.
****

*) Kepala MDT. Raudlatul Islam dan Pegiat Rumah Literasi Sumenep.



Tulisan Terkait

Utama 2981021350543487462

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item