Perahu Mengejar Rindu

Oleh : Moh. Rasul Mauludi

"Rindu itu tak mengenal jarak dan waktu. Rindu itu adalah ingin selalu bersamamu. Jarak yang ada tak kan mampu membunuh rindu. Tak ada kapal, perahu pun jadi demi rindu"
 
Nasib sebagai perantauan tak bisa lepas dari perjalanan yang panjang. Jarak yang harus kami tempuh bisa memakan waktu selama dua hari satu malam. Kami harus meninggalkan kampung halaman untuk sebuah pengabdian sebagai seorang pendidik. Keluargapun dengan berat hati harus berjauhan selama beberapa minggu atau bulan.

Aku dan Rudi sama-sama sebagai perantauan, hanya dibedakan oleh lokasi atau wilayah tempat mendidik. Aku daerah utara sedangkan Rudi daerah selatan. Perjalanan yang ditempuh menggunakan angkutan laut.

Meninggalkan istri dan anak bukanlah hal yang diinginkan, tetapi hanyalah dipaksakan karena sudah terpaksa. Mau tidak mau harus dilakukan selama menunaikan tugas dan kewajiban. Kami dihadapkan pada sesuatu disaat sudah menikmati perantauan yaitu selalu bercerita dan bernyanyi irama rindu yang benar-benar rindu.

Masih untung zaman sekarang meski berjauhan tetapi tidak benar-benar merana. Ada alat telekomunikasi yang semakin canggih. Bila rindu datang menghantui, maka HP langsung beraksi untuk saling melepas rasa rindu dan saling menatap raut masing-masing lewat video call. Dengan begitu sedikit mengurangi gundukan rindu yang terus membuncah pada jiwa dan rasa.

"Hallo, bagaimana Rud, jadi pulang kapan kita", aku telpon Rudi yang ada di pulau Sebelah. "Ya hallo, kayaknya tidak ada kapal besar dalam minggu ini", jawab Rudi yang kudengar dari gagang HP.

Kami berdua memang sudah ada janji untuk pulang bersama ke kampung halaman. Tapi biasanya kami menunggu kapal perintis seperti kapal Sabuk Nusantara 56, kapal Maumere, kapal Catherine dan kapal fery yaitu kapal Darma Bhakti Sumekar yang melewati rute dari pulau menuju rumah kami sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh syahbandar.

Namun apabila cuaca tidak lagi bersahabat (ekstrem) maka jadwal akan diumumkan "jadwal sewaktu-waktu berubah sesuai himbauan BMKG". Kami yang sudah waktunya pulang kadang tidak bisa ditahan lagi, kami memilih alternatif lain selain kapal, yang penting bisa pulang ke rumah.

"Bagaimana kalau kita lewat jalur lain saja", kataku melanjutkan percakapan lewat HP. "Maksudmu kita lewat dengan rute naik turun dari perahu satu ke perahu lainnya !?" tanya Rudi. "Yach bagaimana lagi, karena kapal-kapal besar masih lama," kataku menjelaskan.

Akhirnya kami berdua memastikan bahwa kami akan pulang melalui rute yang mungkin melelahkan dan kalau tidak kuat bisa mabuk laut. Memang kebiasaan kami bila sudah ada kabar tentang tidak adanya kapal, maka kami memilih mempercepat bagaimana rindu bisa cepat terobati dengan sempurna.

Tepat waktu yang sudah ditentukan bersama, aku dari pulau S naik perahu yang menjadi transportasi menuju pulau yang menjadi pusat keramaian dan menjadi semua tujuan perahu transportasi dari pulau-pulau. Sementara Rudi dari pulau P juga sudah menuju pulau yang sama aku tuju.
Sekitar jam 09.00 kami bertemu di dermaga utama tempat sandarnya perahu yang aku dan Rudi naiki. Di dermaga pulau SPK kami sejenak beristirahat sambil menunggu datangnya perahu yang akan menuju dermaga KA. Duduk santai di warung kopi menikmati kopi dan filter dengan selera masing-masing.

Waktu sudah menunjukkan siang hari, cuaca dengan terik yang menyengat tak mampu menyurutkan semangat kami untuk segera bisa sampai dalam pangkuan rindu yang menggebu. Kami keluar dari warung kopi menuju perahu yang sudah siap berlayar menuju dermaga KA.

Jangkar perahu dilepas dan mesin mulai menderu-deru menyibak gelombang yang menggoyang-goyang perahu. Siang itu laut masih bersahabat dengan perahu yang kami tumpangi. Aku terpaku mengeja riak-riak sambil menikmati filter yang sekali-kali kuhempaskan asapnya pada angin. Dan Rudi pun demikian menikmati perjalanan ini. Kami saling berbincang-bincang ala kadarnya sambil menikmati ponsel mumpung ada signal.

Sore hari selepas Ashar, perahu yang kami tumpangi sudah melepas jangkar. Kemudian kami turun menepi menuju warung dekat dermaga KA. Di sana sudah ada transportasi mobil pick up yang biasa menunggu penumpang yang melanjutkan perjalanan menuju dermaga BG. Kami naik mobil itu bersama penumpang lain yang sama-sama baru turun dari perahu. Dan tak beberapa lama, mobil taksi itu meluncur menuju dermaga BG.

"Bro, sekarang goyangannya lain ya", kataku pada Rudi. "Iya bro, kalau tadi goyang laut, sekarang goyang darat". Komen Rudi sambil senyum. Yach, perjalanan darat dari dermaga KA menuju dermaga BG memakan waktu sekitar 2 jam lebih. Tak ada aspal yang mulus dilalui, kerikil dan debu berhamburan digilas roda mobil yang kencang. Sekali kena lubag dan bebatuan, goncangan menghentak para penumpang.

Selepas maghrib kami baru tiba di dermaga BG. Lelah dan letih menggurat wajah kami berdua. Sebenarnya kami tidak berdua, tapi kami berempat bersama-sama dari waktu naik perahu tadi siang. Ada lelaki yang usianya jauh lebih tua dari kami berdua. Kami biasa memanggilnya pak ipin. Kemudian ada juga ibu yang juga sudah tua bersama kami. Namun kami tidak tahu namanya, ibu itu juga satu tujuan dengan kami yaitu pulang kampung.

Beberapa jam kami beristirahat di dermaha BG, sambil santai, makan malam dan menikmati filter masing-masing. Pak ipin mencoba menghampiri perahu-perahu yang sandar di dermaga BG. Katanya ada satu dua perahu yang malam ini mau berlayar menuju daratan SMP. Aku, Rudi dan pak Ipin mikir-mikir untuk memutuskan mau ikut perahu lagi atau tidak.

Akupun mencoba mendekati perahu disekitar dermaga BG. Aku lihat ada perahu yang lumayan besar namun tidak banyak muatannya. Sebenarnya jadwal kapal masih besok pagi. Tapi karena pertimbangan biar cepat sampai di kampung halaman, akhirnya kami bertiga memutuskan berangkat malam ini dengan naik perahu. Rindu benar-benar memaksa kami untuk sekalian menikmati lelah dan letih.

Tepat sekitar jam 21.00 kami bertiga sepakat naik perahu hanya untuk mempercepat kepulangan kami menuju kampung halaman. Jangkar perahupun mulai dilepas oleh ABK perahu. Mesin bergemuruh siap-siap memecah ombak pada heningnya malam. Sayup-sayup gejolak gelombang mulai membuat perahu menari-nari diatas air laut.

Satu jam dua jam berlalu dari dermaga BG. Dari goyangan gelombang yang pelan, semakin terasa mulai semakin keras. Kanan kiri air begitu keras menghempas papan kayu perahu. Sepertinya beban perahu yang ringan semakin menghempaskan kami pada kerasnya ombak. Aku mulai merasakan daya tahan tubuh tidak seimbang. Bergoyang-goyang seiring rasa peeut mulai mual-mual ingin memuntahkan lahar. Duh kenapa ombak semakin besar, begitulah perasaanku dengan rasa khawatir. Kedua temanku juga merasakan hal yang sama.

"Ya Tuhan.... " keluhku. Aku terus mengamini doa keluarga yang tertulis di WA "Semoga selamat sampai tujuan", "Amin... " jawabku dalam hati. Aku lihat Rudi yang juga tidak tenang dengan ini, ia sekali-kali lihat ponselnya, yach mungkin sama dengan apa yang aku rasakan. Lalu aku lirik nahkoda yang begitu serius mengendalikan kemudi. Ia sedikitpun tidak bergeming dari kemudi, sekali-kali menatap kompas dan menatap kejauhan malam yang bergemuruh dengan ombak.

"Rud, aku tidak kuat, mabuk mau muntah" kataku pada Rudi sambil perbaiki posisi untuk terlentang. Karena dengan berbaring lelap sedikit menenangkan kekacauan pikiran pada suasana yang mencekam. Rudi dan pak ipin pun mencari posisi masing-masing untuk berbaring. Kami bertiga mencoba menenangkan diri sambil berharap tidak terjadi apa-apa malam ini.

Duh, semakin larut semakin keras hantaman ombak pada perahu. Apalagi perahu tidak seimbang beratnya menahan ombak karena muatannya sedikit. Terombang-ambing kekanan kekiri dan kedepan kebelakang. Kami bertiga hanya berbaring mengikuti goyangan yang semakin membuat mual.

Bekal makanan dan minum yang disiapkan sejak dari dermaga BG masih utuh. Sebab mabuk dan pusing membuat kami tidak selera untuk makan dan minum. Kami memilih menenangkan diri dengan berbaring sambil berpegangan pada kayu-kayu perahu hanya untuk menahan hentakan gelombang.

Aku dan pak ipin tidak asing dengan perahu yang diombang-ambing gelombang. Aku sudah biasa ikut perahu dengan segala macam cuaca. Tapi bila cuaca ekstrim, aku pun tetap khawatir dan was-was takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Sementara Rudi, ia baru pertama kalinya mengalami hal ini, sebelumnya ia tidak pernah naik perahu dengan jarak tempuh yang lama.

Sayup-sayup aku lihat mulai banyak lampu-lampu bercahaya dikejauhan. Ini pertanda jarak yang ditempuh mulai dekat. Namun gelombang meski tidak sedahsyat dini hari, masih saja menghempas perahu kekanan dan kekiri. Kami bertiga mulai tenang karena dikejauhan sudah terlihat pulau yang kami tuju yaitu daratan.

Tepat pagi harinya, akhirnya dengan selamat perahu bisa sandar di dermaga GP. Rasa senang dan bahagia tak terelakkan lagi. Kami bertiga pun menghubungi keluarga masing-masing untuk dijemput. Pak ipin sudah dijemput keluarganya dan Rudi senyam-senyum karena istri tercintanya sudah datang menjemputnya. Sementara aku masih menunggu.

Akhirnya rindu sepanjang lautan lepas yang dipendam, kini sudah terobati penuh dengan harapan bahwa jarak sejauh apapun takkan memusnahkan sedikitpun rindu yang terpatri dalam hati. Oh perahu itu sangat mengerti dengan perasaan rindu manusia, iapun membantu mengejar hingga ke pangkuan cinta.

NB_Keterangan :
Pulau S : Pulau Sadulang
Pulau P : Pulau Paliat
Pulau SPK : Pulau Sapeken
Dermaga KA : Dermaga Kayu Aru ujung timur Pulau Kangean
Dermaga BG : Dermaga Batu Guluk ujung barat Pulau Kangean
Filter : Rokok Filter
Daratan SMP : Daratan Sumenep
WA : WhatsApp

Tulisan Terkait

Cerpen 7197236466921841092

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item