Ini Budi

Cerpen : Enda Muharromah

Jika kau menganggap ini cerita tentang aku, kau  salah. Ini cerita tentang murid SD bernama Budi. Sebut saja namanya Budi (aku yakin dia tidak akan mau namanya kusebutkan jika ia tahu aku menulis cerita tentangnya). Ia anak nelayan.

Anak laki-laki bernama Budi itu setiap hari berlari kecil menyusuri gang-gang sempit menuju sekolahnya. Tak jarang ia berpapasan dengan teman-temannya yang berjalan santai sambil membicarakan dongeng Kiyai yang mereka dengar saat mengaji di langgar malam tadi. Ia tetap berlari bahkan ketika seorang perempuan tua mengingatkannya untuk lebih baik berjalan saja agar tidak banyak keringatnya di pagi hari. Ia berlari. Ia tidak ingin ada murid lain yang tiba di kelas mendahuluinya. Aku murid pertama yang tiba di kelas, begitu inginnya. Sekolah sudah di depan  mata, hanya 100 meter kira-kira jaraknya. Ia bisa melihat dengan jelas nama sekolahnya yang tertulis di bagian depan sekolah, huruf-hurufnya terbuat dari semen yang sudah dicetak-cetak dan dicat warna biru tua. Selokan kecil di depan sekolah ia lompati dengan semangat. Ia sudah sampai di halaman sekolah, tapi ia masih saja berlari. Setelah melewati pot bunga besar di depan ruang guru ia berbelok ke kanan kemudian ke kiri menuju kelas paling pojok dengan pintu berwarna biru. Kelas 1 begitu kelas itu dinamai bapak ibu guru.

Benar saja, ia menjadi murid pertama yang tiba di kelas. Ia tidak langsung masuk. Ia berhenti di pintu kelas, mengedarkan pandangan ke dalam kelas dengan napasnya yang sedikit tersengal-sengal. Meja guru, bangku-bangku dan asbak yang terbuat dari batok  kelapa karyanya dan teman-temannya (mungkin juga karya bapak ibunya atau bapak ibu teman-temannya) yang diletakkan di atas lemari. Kemarin ia sendiri yang menawarkan pada ibu guru untuk meletakkannya di atas lemari agar tidak rusak akibat  ulah usil teman-temannya. Ia tahu betul bagaimana kelakuan teman-temannya jika sudah asyik bermain.

Ia masuk kelas menuju bangku yang bisa dibilang berada di bagian tengah. Di situ ia duduk sembari melepas tas yang sejak tadi digendongnya. Ia melihat sepatunya yang tidak seberapa hitam namun tidak kotor, ia cukup lihai menghindari kotoran ayam dan genangan air di jalan saat  ia berlari tadi. Namun  malang, kaos kakinya yang kusam melorot. Ahh desisnya, ia menunduk menarik kaos kakinya ke atas.

“Waah Budi, kamu selalu menjadi yang pertama datang setiap hari”, kata Bu guru sambil tersenyum.

Budi sedikit kaget dengan kedatangan Bu Guru yang tiba-tiba lalu tersenyum tersipu. Bu guru yang berasal dari Jawa, yang dengan  logat Jawanya selalu membuat Budi tersenyum. Bu Warni namanya, begitu cantik dan halus tutur katanya. Bu Warni selalu menggunakan rok di bawah lutut, sepatu fantofel berwarna hitam yang runcing ujungnya, rambutnya yang panjang disisir ke belakang dan  menggunakan jepit rambut berbentuk pita berwarna hitam. Rambutnya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri setiap kali Bu Warni berjalan.

Teman-temannya mulai berdatangan, kelasnya perlahan-lahan menjadi semakin ramai. Ia memerhatikan kelasnya yang menjadi riuh gelak tawa teman-temannya. Bahkan ia memerhatikan seorang teman yang mengeluarkan ketapel dari dalam tasnya dan mengajak teman di sebelahnya untuk mencari burung sepulang sekolah. Ahh bukankah pulang sekolah masih lama, kenapa harus dibicarakan ketika bahkan kelas belum juga dimulai batinnya.

Budi selalu semangat saat berada di dalam kelas. Ketika ketua kelas memimpin doa bersama sebelum pelajaran di mulai, suara Budi selalu paling nyaring. Seolah dia ingin mengatakan “aku juga membaca doa!”. Begitu juga saat Bu Warni memanggil nama murid satu-persatu untuk mengetahui kehadiran  mereka. Budi akan berseru dengan nyaring, “ada!”. Jika sudah begitu Bu Warni tersenyum menatap Budi dan Budi kembali tersenyum tersipu. Ahh senyum guru yang berasal dari Jawa itu begitu meneduhkan.

Budi suka sekali menggambar. Suatu hari ketika mendapat tugas dari Bu Wani untuk menggambar apapun yang ingin di gambar olehnya, Budi senang bukan  kepalang. Bu Warni memang seringkali mengajak murid menggambar apapun yang ingin digambar oleh muridnya. Malang, hari itu Budi tidak membawa buku gambar berwarna hijau bergambar Micky Mouse miliknya. Dengan takut-takut ia sampaikan hal itu pada Bu Warni. Bu Warni tersenyum kemudian bertanya kepada murid lainnya,

 “Adakah yang  mau membagi buku gambar untuk Budi?”
“Pakai punyaku saja,” kata Ani.
Budi tersenyum senang menerima kertas gambar yang diberikan Ani untuknya.
“Terimakasih Ani,” kata Bu Warni.

Budi terkejut, ia bahkan lupa tidak segera mengatakan terimakasih kepada Ani saking senangnya. Budi mengucapkan terimakasih pada Ani meski telah didahului oleh Bu Warni. Ani tersenyum mendengar Budi mengucapkan  terima kasih padanya.

“Tapi kamu tidak boleh pinjam pensil warna punyaku”, kata Ani.
“Aku punya,” kata Budi.
Kali ini Bu Warni yang tersenyum.

Budi mengeluarkan pensil warnanya . Ia berpikir gambar apa yang akan dibuatnya, kertas gambar yang diberi Ani tidak seperti miliknya. Kertas gambar yang diberi Ani lebih kecil dari miliknya. Seandainya aku tidak lupa memasukkan buku gambar ke dalam tas setelah aku mendengar ibu mendongeng, batinnya. Budi mulai menggambar dengan  hati-hati. Mewarnainya dengan hati-hati. Menulisinya dengan hati-hati. Selesai sudah Budi menggambar. Di gambarnya terdapat tulisan INI BUDI, INI IBU BUDI, INI BAPAK BUDI. Hari itu Budi menggambar dirinya sendiri,  ibu, dan bapaknya.

Budi kini sudah kelas 4. Ia masih saja berlari untuk menuju sekolah. Semakin banyak alasan  yang membuat Budi selalu berlari menuju sekolahnya. Ia masih tetap ingin menjadi murid pertama yang sampai di kelasnya. Ia ingin menjadi murid pertama yang meletakkan sepatu di rak sepatu yang terbuat dari bambu yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya ketika kegiatan pramuka akhir bulan lalu. Ia ingin menjadi murid yang menghapus tulisan pak guru kemarin siang saat pelajaran jam terakhir (untuk yang satu ini Budi selalu mendapat pujian dari pak guru).

Akhir-akhir ini alasan yang membuat Budi berlari menuju sekolahnya bertambah. Ia ingin menyapa nenek yang biasa berjemur di depan pintu rumahnya. Rumah nenek itu tidak jauh dari sekolah, berada tepat di depan  pasar yang berada di samping kanan sekolah. Jika Budi terlambat sedikit saja, nenek itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Saat melewati rumah nenek itu Budi akan memperlambat langkahnya, menyapa si nenek sambil tersenyum. Nenek membalas senyum Budi sambil berkata lirih,

“Baiknya anak itu, berangkat sekolah  pagi-pagi dan masih menyapaku yang sedang berjemur. Semoga dia menjadi anak yang mulia akhlaknya”.

Budi tersenyum girang,  ia didoakan oleh nenek itu! Budi kembali berlari ketika sudah berlalu dari rumah nenek itu. Ia berlari sambil tersenyum girang. Besok aku harus menyapanya lagi batin Budi. Bukan hanya itu, alasan lain Budi berlari ke sekolah adalah ia juga ingin menyiram bunga mawar yang ada di depan  kelasnya yang seringkali tidak dirawat oleh temannya yang bertugas piket. Untuk yang satu ini Budi sadar betul bahwa bunga mawar yang ada di depan  kelasnya juga makhluk hidup yang perlu makan, perlu  disayangi dan perlu dirawat seperti kata Bu Warni saat Budi masih duduk di kelas 1.

Itu adalah  hal-hal yang aku ingat tentang si Budi. Jangan kau tanya siapa aku. Kau pasti tidak menyangka siapa aku dan terheran-heran mengapa aku  bisa menceritakan tentang si Budi. Budi anak laki-laki yang selalu berlari menuju sekolah. Budi yang selalu menarik kaos kakinya ke atas karena melorot akibat ia berlari. Untung saja kaos kakiku tidak melorot, batinku. Ahh anak perempuan memang selalu memperhatikan hal-hal kecil yang tidak terlalu penting bukan? Kaos kaki yang melorot saja kuperhatikan.

Kini aku tak tau persis bagaimana kabar Budi. Aku sempat mendengar kabar bahwa sekarang ia ada di kota besar, sibuk ini itu bersama komunitasnya. Katanya komunitasnya bergerak di bidang literasi. Bidang yang berhubungan dengan buku-buku, baca-membaca pikirku. Memangnya Budi suka membaca? Bukankah dulu dia suka menggambar? Ahh mungkin dia tiba-tiba suka membaca. Pernah suatu kali aku membaca tentang dirinya di sebuah surat kabar. Katanya pemuda yang ku sebut Budi ini baik orangnya, peduli pada lingkungan sekitarnya dan sering pergi ke daerah-daerah yang haus akan pengetahuan dan buku-buku. Di daerah-daerah yang seperti itu ia akan menyampaikan gagasan-gagasannya, pengalaman-pengalamannya dan membagikan buku-buku secara cuma-cuma.

Aahh Budi, Budi. Kalau kau begitu sukanya berbagi gagasan dan pengalaman kenapa kau tidak jadi PNS saja, jadi guru seperti aku misalnya. Ahh Budi, seingatku kau cukup cerdas untuk menyelesaikan soal-soal tes CPNS. Tapi aku cukup bangga padamu. Kau menjadi salah  temanku yang berhasil menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Kau juga berhasil menjadi orang yang berakhlak mulia seperti doa nenek yang sering kau sapa ketika kau  kelas 4 yang rumahnya di dekat sekolah dasar dulu. Mungkin juga itu doa ibu dan bapakmu Budi. Mana ku tahu. Tapi yang aku tahu pasti Bu Warni pasti akan selalu tersenyum padamu.

Ahh aku terlalu lama mengingat kenangan tentang Budi. Lihat kelasku jadi ramai,  murid-muridku banyak yang berlari-lari dalam  kelas, sedangkan muridku lainnnya berdiri di depan sudut baca mengambil buku, membolak-balik buku. Lihat ada juga yang rebutan buku dan lihat lagi, di pojok kelas murid perempuan menangis karena pensilnya hilang. Baiklah, baiklah. Dengan situasi seperti ini kelasku memang jadi ramai, tetapi bukankah ini semua merupakan bagian dari proses kreatif anak? Jika aku adalah Bu Warni, kira-kira apa yang akan  dilakukan Bu Warni untuk menghadapi kelasku ini? Akankah Bu Warni tetap akan tersenyum di kelasku? Atau seandainya Budi menjadi guru kira-kira apa yang akan diperbuatnya?

Budi kau jangan berburuk sangka padaku. Aku tidak lupa untuk mengajar dan mendidik murid-muridku untuk memperhatikan akhlak mereka. Lihatlah murid-muridku yang bernama Lani dan Edo. Lani dan Edo adalah murid terbaik di kelasku. Mereka melakukan semua hal yang aku ajarkan pada mereka. Mereka membuang sampah pada tempatnya, mereka mengucap maaf jika salah dan mengucap terimakasih jika ada teman yang membantunya, mereka juga suka merawat tanaman di depan kelas tanpa aku suruh. Mirip denganmu bukan? Tapi mereka tidak suka menggambar.

Kuceritakan satu lagi cerita tentang mereka. Ceritanya persis sama dengan cerita tentangmu dulu. Cerita ini juga ketika mereka masih di kelas 1. Suatu waktu ketika itu aku mengajak murid-muridku untuk menggambar apapun yang mereka ingin gambar. Kelasku menjadi ramai karena murid-muridku  seolah berdiskusi dengan temannya untuk menentukan apa yang ingin mereka gambar. Edo ketika itu diam saja sambil menatap ke arahku. Aku heran dan segera aku menuju tempat di mana ia duduk. Kau tahu apa yang terjadi Budi? Belum sampai aku di tempat di mana Edo duduk, sudah ada Lani yang menghampiri Edo. Lani berkata,

“ Edo kamu tidak membawa buku gambar? Ini pakai punyaku, aku kasih kamu satu”. Dengan segera Edo menjawab,
 “Terimakasih Lani. Kamu mau pinjam pensil warna punyaku?”

Aku tersenyum, percakapan mereka setelahnya tidak aku hiraukan. Bagaimana aku tidak langsung mengingatmu Budi ketika itu? Aku biarkan murid-muridku menggambar sesuka hati. Selesai mereka menggambar aku kumpulkan hasil pekerjaan mereka dan aku puji mereka sekedarnya. Lalu kulihat hasil pekerjaan mereka satu-persatu. Gambar milik Edo membuat aku tersenyum (Budi sekali lagi bukan maksudku untuk mengabaikan gambar milik murid-muridku yang lainnya). Rupanya Edo menggambar dirinya sendiri, orang tua, dan temannya. Baiklah,seketika itu juga aku merasa iri pada Lani. Budi, bukankah ketika itu kau seharusnya juga menggambar aku di kertas gambarmu? Bukankah aku yang memberikan kertas gambar itu padamu?

“Bu Ani, apa kami sudah boleh istirahat?” Tanya Edo padaku.

Aku mengiyakan saja mereka untuk beristirahat di luar kelas. Budi tahukah kau apa yang sangat kurisaukan sekarang ini sebagai seorang guru? Aku tidak khawatir akan prestasi muridku. Aku khawatir program kelas yang sudah aku susun tidak cukup memfasilitasi mereka untuk bisa memiliki karakter dan budi pekerti yang baik.

Budi andai saja kau jadi guru kau akan tahu persis bagaimana kerisauanku. Ahh dan aku ingat Bu Warni, guru kita yang berasal dari Jawa itu.  Akankah dulu ia juga risau bagaimana mengajarkan akhlak dan budi pekerti pada kita? Aku yakin  di balik senyumnya kala itu Bu Warni juga risau. Seandainya Bu Warni masih hidup kira-kira apa yang akan ia katakan padaku, apa yang akan ia katakan padamu Budi?

Enda Muharromah adalah guru dan aktivis Rumah Literasi Sumenep


Tulisan Terkait

Cerpen 8871089886905604818

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item