Bunga Mawar Merah

Cerpen : S. Yoga 


Tuan dan Nyonya tinggal di kota N, sedangkan putra-putrinya yang sembilan orang terpencar ke pelosok tanah air, semua sudah menikah. Saya yang menemaninya seringkali bingung sendiri, karena sudah menjadi kebiasaan Tuan dan Nyonya ribut hanya persoalan sepele. Menurut orang-orang karena wetonya sama begitu mereka meramal sehingga tidak ada yang mau mengalah.

Kemarin Tuan bercerita tentang Nyonya yang susah diberitahu menu makanan untuk penderita diabet dan darah tinggi. Menurut Nyonya apa pun boleh dimakan asalkan sedikit-sedikit, sedangkan Tuan melarang semua makanan yang dinasihatkan dokter meski itu hanya sedikit, apalagi yang manis-manis, pertengkaran berujung ketika Nyonya tidak mau makan sama sekali. Saya menengahi dengan mengatakan sekarang makan sesuai dengan nasihat dokter, nanti dua hari lagi boleh makan makanan kesukaan Nyonya. Akhirnya Nyonya mau makan menu pemberian Tuan meski mengancam agar Tuan membelikan makanan kesukaannya dua hari lagi. Saya hanya berpikir sekarang Nyonya harus makan, mengenai makanan untuk dua hari lagi itu urusan nanti, yang penting Nyonya tidak melanggar menu petunjuk dokter.

Bila Tuan dan Nyonya dalam keadaan sehat setiap pukul lima pagi mereka sudah berangkat senam dan sekalian periksa tensi darah, ke pasar dan beli koran. Sesampainya di rumah merawat dan menyirami tanaman kesukaannya masing-masing sebelum mandi dan makan, kemudian Tuan di teras depan membaca koran, sedang Nyonya menonton TV.  Kebiasaan ini mereka lakukan hingga kini, namun sekarang yang sering berangkat senam hanya Tuan karena Nyonya sakit, meski begitu seminggu sekali Nyonya ikut untuk memeriksa tensi darah, di tempat senam disediakan dokter. Karena Tuan sering pergi sendiri inilah awal mula pertengkaran-pertengkaran sengit berikutnya. Seringkali Tuan pulang hampir pukul delapan, ada yang baru dalam kebiasaan Tuan, setelah senam dan beli koran, ia tidak langsung ke pasar, namun duduk-duduk dengan teman lamanya di warung, ngobrol tentang peristiwa-peristiwa mutahir di kota kami, teman-temannya yang sudah meninggal, anak-anak teman mereka yang sudah menikah, kisah-kisah masa lalu saat bersekolah, masa-masa perjuangan. Setelah itu barulah Tuan ke pasar beli menu makanan Nyonya. Sedangkan saya hanya beli kebutuhan untuk makan siang dan malam.

“Kenapa pulangnya hampir pukul delapan,” tanya Nyonya.
Tuan diam saja, hanya mempersilahkan Nyonya segera sarapan pagi.
“Ditanya malah diam saja.”
“Seperti biasa habis senam ngobrol dulu.”
“Kenapa kalau ada aku pulangnya cepat.”
Tuan diam saja, sambil melepas sepatu dan pakaian senam.
“Aku dengar kemarin barusan ngantar Bu Pur ya!”
“Lha gimana lagi, diminta ngantarkan, dia nggak bawa sepeda motor.”
“Oh begitu ya, dulu nggak pernah seperti itu, sekarang ketika aku sakit sudah berani ngantar orang lain, bagaimana kalau aku sudah mati nanti?”
“Bicara yang enak kenapa?!” 
“Dulu bilangnya sehidup semati!”
“Diam kenapa sih! Begitu saja jadi masalah!”
“Ya sekarang aku sudah peyot dan tidak menarik lagi.”
“Aku bilang diam kenapa sih! Ceriwis!”

Pertengkaran pun berlanjut, malam itu Tuan dan Nyonya tidur terpisah, paginya mereka tak bertegur sapa, makanan hanya disediakan tanpa Nyonya dipersilahkan makan. Tuan menyibukkan diri di kebun, menyiram dan merawat tanaman lombok, mentimun, kacang panjang, terong, tomat dan bayam. Nyonya dengan keteguhan hati juga tak mau ketinggalan ia menyiram dan merawat bunga-bunganya, kembang kertas, roseli, kenanga, mawar, anggrek dan kemuning. Tuan dan Nyonya seringkali menghabiskan waktu dengan bercocok tanam di samping rumah sehingga kejenuhan hidup dapat teratasi, esok pagi mereka masih punya harapan melihat hasil tanaman masing-masing, apa sudah berbunga, apa sudah berbuah.

Suatu hari Tuan menerima telepon dari putranya Edi di Jambi mengabarkan bila anaknya akan menikah dan meminta Tuan dan Nyonya untuk menghadiri acara resepsinya, tiket pesawat pulang pergi ditanggung. Sehari menjelang hari pernikahan Tuan berangkat seorang diri, Nyonya tidak bisa ikut karena kondisi kesehatan tidak memungkinkan, Nyonya dengan terpaksa menerima, sebenarnya ia ingin sekali melihat cucunya menikah. Setelah acara pernikahan usai, Tuan menelepon dan mengabarkan bahwa ia ingin tinggal di Jambi lebih lama lagi. Nyonya menegaskan bahwa Tuan harus pulang setelah acara selesai, paling lama seminggu setelah acara itu. Tuan tetap ingin menikamati kesendiriannya. Tuan mengatakan paling cepat sebulan baru ia akan pulang. Di telepon terjadilah pertengkaran lagi dan tak seorang pun yang mau mengalah. Tuan dan Nyonya sama-sama ngotot akan pendapatnya sendiri-sendiri, Nyonya beralasan Tuan segera pulang untuk merawat dirinya, Tuan mengatakan bahwa di rumah sudah ada Mbok Surti. Sebenarnya Tuan merasa bosan bertengkar terus dengan Nyonya yang seringkali tidak mau menerima nasihatnya. Begitu juga dengan Nyonya yang merasa bosan bertengkar terus karena sikap Tuan yang keras kepala bila memiliki keinginan. Saya membesarkan hati Nyonya agar tabah dan sabar, sebentar juga Tuan pulang bila merasa kesepian dan kangen. Waktu itu Nyonya hanya diam saja duduk di depan TV, meski menyala namun rasanya Nyonya tidak memperhatikan acara.

“Nyonya, sudah jangan dipikirkan, nanti malah sakit.”
“Aku sendiri tidak tahu akan jalan pikirannya. Ia ingin menangnya sendiri. Aku di sini sendiri. Kesepian. Apa dia tidak merasakan.”
“Nyonya, ditinggal beberapa hari saja sudah seperti puluhan tahun. Sebentar juga pulang.”
“Aku yakin dia pulang sebulan lagi, seperti perkataan ditelepon. Biarlah kalau memang ia tega sama aku.”
“Tidak Nyonya. Tuan pasti pulang dalam waktu dekat. Tapi kalau sudah kumpul, nanti tengkar lagi,” sindir saya, saya tahu Nenek kesepian dan kangen.
“Dia itu yang selalu cari gara-gara.”
“Tuan dan Nyonya harus bisa ngontrol emosi, jangan inginnya menang sendiri.”
“Sekarang aku sudah tidak bisa lagi percaya pada dia. Kelakuannya sudah kelewatan, sudah tidak mau lagi memperhatikanku. Kemarin sebelum pergi saja ia sudah bertingkah, berani-beraninya mengantar Bu Pur, apalagi sekarang, aku tidak bisa ngawasi, pastilah di sana ia bersenang-senang dengan perempuan lain.”
“Itu tidak mungkin. Nyonya jangan terlalu khawatir dan berprasangka buruk sama Tuan.”
“Terus terang sekarang aku sudah ikhlas kalau memang dia tidak mau pulang, bahkan kalau ia mau nikah lagi. Aku sudah siap. Biarlah kesepian dan penderitaan ini aku yang menanggung,” ucap Nyonya, disusul dengan deraian air mata.

Tepat seminggu setelah kepergian Tuan, tiba-tiba ia muncul di depan rumah, dengan membawa sebuah kopor. Saya sedang menemani Nyonya yang gelisah terus menerus karena ditinggal Tuan. Kesehatan Nyonya sudah berangsur membaik, jalannya sudah gesit. Dipeluknya Tuan dengan rasa kangen yang sudah lama terpendam, dibimbingnya dengan mesra, sambil diberondong berbagai pertanyaan tentang perjalanan dan keluarga putranya Edi di Jambi. Tuan hanya menjawab seperlunya saja tidak seperti yang diharapkan, saya hanya diam mendengarkan. Tuan dan Nyonya saling mencurahkan isi hatinya, rasanya saya ingin cepat pulang, namun momem yang tepat untuk berpamitan belum muncul juga.

“Mbok, tolong bongkar tas itu.”
Saya bongkar, beberapa pakaian Tuan yang belum dicuci dibungkus dalam tas kresek, sedangkan yang sudah disetrika tertata rapi, beberapa oleh-oleh makanan khas Jambi dalam kardus tersendiri.
Terdengar bel dibunyikan.
“Mbok, tolong buka pintu,” sahut Tuan.
Pintu saya buka, seorang kurir menyerahkan sebuah bingkisan besar untuk Nyonya. Setelah kurir pergi, barang itu saya serahkan pada Nyonya.
“Apa-apaan ini,” ucap Nyonya.
“Terima saja,” sahut Tuan.
Nyonya membukanya perlahan dan sangat hati-hati dengan sebuah pisau yang ada di meja, Tuan duduk di kusri sambil menikmati teh manis yang sudah saya siapkan.
“Wah apa-apaan ini!! Benar-benar segar! Harum! Indah!” seru Nyonya.
“Itu hadiah ulang tahunmu, sayang,” jawab Tuan.
“Oh kamu masih ingat, sayang. Aku senang sekali. Ini seperti sebelum kita nikah.”
“Itu aku pesan di toko yang dulu juga.”
“Indah sekali rangkaian bunga mawar merah ini. Terima kasih, sayang.” 
“Selamat ulang tahun, semoga tetap panjang umur dan bahagia adanya,” ucap Tuan sambil menyalami Nyonya dan mendaratkan sebuah ciuman mesra di pipi kiri dan kanan diakhiri dengan sebuah kecupan di dahi.
“Selamat ulang tahun Nyonya,” saya ikut memberi selamat, “ulang tahun ke berapa?” Nyonya  kaget dan mencoba mengingat-ingat.
“Kalau tidak salah delapan puluh tiga, karena dulu aku nikah umur tujuh belas tahun.”
“Ya delapan puluh tiga karena sekarang usiaku delapan puluh lima,” sahut Tuan.

Setelah Tuan mandi dan berganti baju, saya pamitan, Tuan dan Nyonya melepas tanpa banyak komentar, saya tahu mereka ingin saya cepat pulang. Nyonya mempersilahkan Tuan untuk makan dan ketika istirahat siang, ditungguilah ia di bibir ranjang, diselimuti dan ditemani hingga Tuan tertidur lelap. Esok paginya ia ingin diajak Tuan senam pagi, ngontrol tensi darah, ke pasar dan beli koran.
***
2005










Tulisan Terkait

Cerpen 3135259555325853210

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item