Taksian, Transportasi Umum Masyarakat Sapeken

Taksian sedang menunggu penumpang di pelabuhan Sapeken
Sangat berbeda dengan wilayah daratan, untuk menghubungkan lalulintas manusia dan ekonomi di kepulauan menggunakan "Taksian" yaitu perahu mesin yang kapasitas penumpang sekitar 50 an orang dan barang sekitar (paling banyak) satun ton.

Orang menyebutnya taksian, yang sebutannya menyerupai taksi transportasi yang digunakan di wilayah daratan. Taksian tersebut rutin berlayar setiap hari pergi pulang (PP). Selama cuaca aman, taksian lancar mengangkut penumpang dan barang. Namun, bila tidak aman (ekstrim) tidak ada satupun taksian yang beroperasi. Kecuali yang nekat menerobos ganasnya ombak.

Taksian secara umum ada dua bentuk atau model, yaitu ada yang serupa dengan perahu boat atau speed yang badannya lurus memanjang depan meruncing sementara belakangnya seperti terpotong atau tidak meruncing. Taksian model ini termaauk model baru dan daya tempuhnya lebih cepat karena lebih kuat dan tajam menerjang gelombang. Yang kedua taksian dengan model lama atau tradisional yang badannya lebar depan belakangnya meruncing, kadang orang menyebutnya perahu bidok. Model ini daya tempuhnya lebih lambat karena sedikit lemah menerjang gelombang.

Transportasi laut ini memiliki ciri khas masing-masing. Dari kedua model diatas, model baru (boat/speed) terkesan lebih modern dan cepat. Seperti model yang lawas atau tradisonal kesannya lebih unik dan tetap tidak meninggalkan seni tradiaonalnya namun lebih lambat.

Penumpang yang ingin memanfaatkan layanan takaian, biasanya sebelum berangkat (umumnya berangkat pagi sekitar jam 08.00 atau 09.00) berkumpul di jembatan (dermaga, tambat labuh atau tambangan) yang menjadi jalur utama perahu bersandar dan bongkar muat barang dan orang di setiap pulau.

Apabila gelombang atau ombak agak besar yang memaksa taksian sulit merapat (sandar) di jembatan, maka disediakan papan kayu untuk memudahkan penumpang dan barang bisa naik ke taksian.

Baru setelah muatan cukup, taksian berlayar menuju rute yang sudah ditetapkan. Di sapeken, taksian yang dari pulau-pulau bersandar di dermaga lama (khusus taksian) sedangkan di dermaga baru khusus kapal-kapal besar seperti fery dan perintis.

Saat kondisi laut ekstrim, sangat tidak dianjurkan atau dilarang keras untuk berlayar demi keselamatan. Jangankan taksian, nelayan pun dilarang untuk mencari ikan disaat cuaca ekstrim, meskipun sudah memiliki keahlian dalam melaut.

Taksian hanya memiliki rute ke satu tempat yaitu pusat perekonomian terbesar di kepulauan. Pulau Sapeken menjadi pusat kepulauan Sapeken dan pusat pemerintahan kecamatan. Taksian dari semua pulau yang ada di Sapeken, setiap hari rutin menuju Sapeken.

Dengan menggunakan taksian masyarakat bisa memenuhi segala macam keperluan dan kebutuhannya. Baik belanja, bisnis, urusan kependudukan atau pemerintahan dan sebagainya.

Taksian hanya berlaku satu kali dalam sehari semalam. Berangkat pagi kemudian siang kembali lagi. Apabila terlambat atau ketinggalan, maka harus menunggu esok harinya atau apabila kepentingannya mendesak, harus carter perahu mesin milik perseorangan.

Untuk menuju rute selain ke Sapeken, tidak bisa dengan taksian melainkan harus carter juga. Karena taksian tidak melayani rute dari pulau ke pulau selain ke Sapeken. Untuk pulau yang paling jauh, taksian hanya beroperasi sekitar dua atau tiga kali seminggu.

Kemudahan arus orang dan barang bisa dilayani dengan transportasi taksian setiap harinya. Kemajuan tehnologi akan mempercepat sarana transportasi dari pulau ke pulau di kepulauan. Semakin besar kemampuan mesin penggerak pada perahu atau kapal, maka semakin cepat menempuh jarak tempuh yang jauh.

Dikirim oleh Rasul Mauludi

Tulisan Terkait

Kearifan Lokal 1739530203284623889

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item