Sekolah Adalah Penjara

Kelulusan ditandai corat coret baju dan konvoi (foto: google image)
Pertanda apakah maraknya konvoi selepas pelulusan siswa dari tahun ke tahun? Dengan berhipotesis sederhana, dengan logika sederhana, dapat dinyatakan bahwa sistem perrsekolahan dan pendidikan yang berlangsung hingga saat ini bagi mereka ibarat penjara. Pelulusan bagi mereka adalah tanda perayaan atas bebasnya mereka dari rangkaian penyiksaan lahir dan batin mereka selama berada dalam asuhan penjara yan mengatasnamakan sekolah/pendidikan. 

Sebelum fulldays school diterapkan, tetap saja ketika pelulusan terjadi konvoi serupa. Lebih lagi ketika fulldays school dilaksanakan, itu terasa bagi mereka lebih bercita rasa lebih penjara lagi. Masa bersosialisasi mereka dengan lingkungan dirampas oleh persekolahan. Yang mereka rasa selama dipersekolahan adalah rasa bosan dan lelah yang sangat sehingga setiba di rumah yang terpikir hanyalah tidur. Tidur bagi mereka merupakan rekreasi yang mencandu setiap mereka pulang bersekolah.

Banyak aturan di sekolah. Aturan yang kadang muncul tiba-tiba karena perbuatan satu orang dan aturannya ditimpakan ke semua warga sekolah. Salah satu yang sepele adalah anak sekolah tidak boleh (dengan bahasa: dilarang) membawa hape ke sekolah. Menurut lembaga membawa hape itu perbuatan jahat. Aturan tersebut membawa masalah tersendiri. Anak-anak sekolah menjadi kesulitan menghubungi orangtua mereka ketika jam pulang yang tidak semestinya. Mereka terlantar di sekolah.

Contoh lain, ada sekolah yang memberikan pekerjaan rumah yang tidak wajar. Anak-anak pulang sore sampai di rumah sudah tidak ada matahari, masih pula dibebani segudang pekerjaan rumah. Lucunya, pekerjaan rumah tersebut meringkas beberapa halaman dari buku paket.

Sistem persekolahan telah merampas masa bermain anak-anak, mengeklusi mereka dari peradaban sosial, dan menjarah waktu mereka bercengkrama dengan orangtua di rumah. Sistem persekolahan dengan atribut yang seragam, tapi sistem tata kelolanya tidak seragam. Ketika di sekolah dasar, mereka anak-anak yang kreatif dengan hape mereka. Dengan hape mereka bisa browsing pengayaan materi. Mereka bisa berlatih memecahkan soal online yang dibuat guru. Ketika mereka di jenjang berikutnya justeru dilarang. Pembelajaran kembali lagi ke jaman purba. Akses pengetahuan hanya sekitar ruang kelas mereka. Lain-lainya mereka tidak tahu. Pantaslah ketika pelulusan mereka melampiaskan kegembiaraannya yang menurut masyarakat awam, itu berlebihan.

Saling bertudinganlah bahwa fenomena konvoi kelulusan itu adalah kesalahan sekolah, kesalahan orangtua, kesalahan masyarakat, kesalahan guru, kesalahan pemerintah. Tidak ada yang mau mengakui secara jujur bahwa itu kesalahan pihak tertentu. Muaranya tetap anak-anaklah yang menjadi korban persekolahan yang ada sekarang dan masalalu.

Fuad Mardhatillah menyatakan dalam kompasiana bahwa mungkin banyak orang sebenarnya tidak pernah membayangkan bahwa penyebab semua kerusakan moral sosial masyarakat tersebut adalah justru berasal dari lembaga yang bernama “sekolah.” Lembaga tersebut tadinya diyakini menjadi tempat berlangsungnya proses-proses mendidik dan membangun kesadaran para warga negara dalam membina kehidupan bersama, dalam suatu sistem masyarakat dan bangsa yang sama sekali tak mungkin dihindarkan sebagai makhluk sosial. Melalui persekolahan yang ada sekarang, lagi-lagi anak-anak yang bermasa depan harus cerah, menjadi korban sistem pendidikan.

Menurut anggapan banyak orangtua, sekolah adalah tempat mereka menitipkan anak-anak aga menjadi mandiri, dewasa, dan tentu bahagia. Apakah benar mereka bahagia di sekolah? Kalau mereka bahagia, mengapa ada konvoi untuk merayakan kebahagiaan puncak mereka yang terkesan lama tertekan? Beberapa tulisan di media cetak dan digital yang menyebut sekolah tidak sebagaimana mestinya sebagai lembaga pendidikan antara lain: Sekolah adalah Penjara dan Merusak Anak; Tagore; Antara Sekolah dan Penjara; Sekolah Adalah Penjara; Melewati Penjara Bernama Sekolah; Sekolah (Itu) Bukan Penjara - Kritis dan Konstruktif; Sekolah Itu Ibarat Penjara Pendidikan; Sekolah Jadi Penjara Bagi Anak; Revolusi Pendidikan: Sekolah Bukan Penjara; dan banyak lagi judul serupa yang inti maknanya adalah lembaga sekolah merupakan wadah yang paling bertanggung jawab atas fenomena tahunan yang bernama konvoi pelulusan.

Ada apa sebenarnya dengan sistem pendidikan dan tatakelolanya di negara kita? Tanyalah bapak menteri berapa keuntungan yang diperoleh dari proyek kurikulum serta perangkatnya. Tanyalah kepada bapak menteri sisipan paham apa yang diselipkan dalam buku-buku wajib anak-anak. Tanyalah kepada bapak menteri, ada titipan konten dari siapa dan untuk apa. Tanyalah kepada menteri mengapa belum menemukan solusi inkonsistensi dalam kurikulum yang sekarang.

Tanyalah kepada bapak itu ada apa sebenarnya. Atau tanyalah kepada menteri yang baru tapi berparadigma tidak baru. Tanyalah apa fungsinya sebagai sebagai menteri. Apa hanya melanjutkan proyek atau kebetulan menjadi menteri. Tanya juga mengapa selalu dikumandangkan nama Ki Hajar Dewantara, tapi sama sekali tidak pernah menganutnya. Dan, tanyalah mengapa menteri-menteri pendidikan itu berbohong kepada Ki Hajar Dewantara. Apakah karena Ki Hajar Dewantara sudah mati? Tanya juga, mengapa mereka selalu membawa-bawa Ki Hajar Dewantara, apakah menteri-menteri itu tidak punya pemikiran brilian? (sumber asli ada pada www.cocokpedia.net)




Tulisan Terkait

Esai 7624194108449906853

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item