Rumah Keduaku Bernama Rulis

 Oleh: Widayanti Rose

Sebagai seorang guru perempuan yang “super” sibuk, juga sebagai ibu rumah tangga dengan dua orang putri yang yang masih duduk di kelas satu SD dan bayi mungil yang butuh asupan ASI ekskulusif, kadang saya tidak yakin mampu merawat kemampuan dan bakat saya untuk bisa menulis. Apalagi ditambah Emak sakit-sakitan yang perlu perhatian khusus, maka mustahillah saya bisa menunjukkan jadi diri mengembangkan kreatifitas sebagai penulis.

Widayanti Rose saat menyajikan materi pada workshop literasi di Kecamatan Gilitenting (dok)

Dari sini saya berfikir kegelisahan ini harus dicari solusinya, maka satu-satunya jalan saya harus bergabung dalam komunitas. Saya temukan Rulis (sebutan akrab Rumah Literasi Sumenep) dan mencoba “menyusup” di dalamnya. Berawal dari workshop menulis dan seterusnya akhirnya mulai menemukan “sesuatu yang berati”, meski kadang “memaksakan kehendak”, mencuri waktu dari ke-super sibukan saya itu.

Bergabung di Rulis berawal dari kegelisahan sama. Sebagai guru yang punya hobbi menulis, saya mencari tempat yang nyaman untuk berteduh. Awalnya saya ibarat gelandangan yang hanya menulis di sepanjang jalan. Menulis setiap hari di beranda facebook. Lalu kemudian bertemu teman yang memiliki kesamaan misi, Taufiku (yang kemudian menjadi pengurus Rulis) nama akunnya.

Meski tak pernah berjumpa darat, saya cukup akrab dengannya lewat komentar di setiap status panjang yang dia tuliskan. Diapun selalu hadir pada tulisan yang saya beri hastag Diary Sang Guru. Atas kesamaan hobbi inilah, kami sepakat membuat sebuah grup di facebook yang diberi nama ”Ghai’ Bintang - Reng Ajhar Noles” (Meraih Bintang – Orang Belajar Menulis), yang anggotanya pertamakali berdiri hanya kami berdua.

Dalam grup ini, kewajiban kami  hanya satu, yakni wajib menulis minimal tiga paragraf per hari, sampai detik ke nol dini hari. Dari sinilah saya mendapat motivasi awal untuk terus menulis. Setiap hari saya menulis apa saja, bebas berekspresi tentang segala hal. Yang paling penting, menulis hari ini, menulis besok, dan menulis terus. Akhirnya anggota bertambah yang semuanya didaulat sebagai admin grup, dengan kewajiban yang sama. Ternyata diantara mereka cuma kami berdua yang menggebu. Dan akhirnya, kewajiban menulis minimal tiga paragraf dalam sehari, kemudian menjadi wajib membaca perhari. Tampaknya hanya berdua saja yang menjadi pemain di medsos itu, yang lain sesekali menulis dan berpuluh kali membaca saja. Akhirnya jenuh, grup semakin sunyi. Sepi. Jadilah kegersangan kembali melanda batin saya.

Saya mencari lagi.

Dalam kegelisahan saya mencari, salah seorang teman yang saya kenal saat menjadi mentor di guru pembelajar, mengajak saya bergabung di Rulis. Saat itu dia menyebut Rulis dengan komunitas guru penulis. Pertama kali mendengar namanya saja, aku langsung jatuh cinta. Chemistry dalam hati langsung ada sejak dengar pertama. Saya langsung jawab “Ya”  saat dia bilang akan dimasukkan dalam kepengurusan. Entah jadi apa, pokoknya saya mau. Karena saya sudah cinta.

Saya dalam kondisi hamil empat bulan saat pertama kali diundang dalam rapat persiapan peluncuran komunitas ini. Acara itu sekaligus diisi dengan workhsop kepenulisan. Awalnya suami saya masih keberatan untuk mengantar saya hadir rapat, karena tak ada pengurus satupun yang saya kebal. Tapi ternyata, walau belum pernah kenal sebelumnya, sambutan mereka begitu hangat pada pendatang baru seperti saya. Bu Lilik (Lilik Rosida Irmawati, ketua Rulis) dan Mas Anton (Syaf Anton Wr, pembina) yang sudah seperti Ayah Bunda, dan lainnya yang sangat wellcome menyambut saya bergabung. Kekeluargaan inilah yang membuat saya merasa nyaman di Rulis.

Diluar dugaan, Taufiku sahabat seperfacebookan saya juga hadir di acara workhsop kepenulisan sebagai peserta. Jadilah kami penghuni grup “Ghai’ Bintang-  Reng ajhar Noles” kembali membangun semangat menulis di rumah baru. Rumah kedua yang insya Allah pilarnya kokoh, karena didasari semangat dan keikhlasan para penghuninya. Amin.

Masalah lalu muncul, pimpinan sekolah tidak mendukung dan cenderung tidak peduli gerak saya terhadap gerakan literasi guru dan siswa. Bahkan suatu ketika saya pernah tidak diijinkan datang ke rapat Rulis yang undangannya hanya disebar lewat grup WhatsApp. Beliau menanyakan keabsahan undangan, kalau tidak resmi maka saya tidak bisa ijin pulang awal untuk hadir di rapat. Begitu pula saat harus mengisi materi workhsop kepenulisan di berbagai sekolah (roadshow lietrasi), surat dispensasi dari dinas (Dinas Pendidikan Kabupaten) harus sudah sampai di tangan kepala sekolah sebelum berangkat ke lapangan. Artinya saya harus mengambil surat ke kota yang jaraknya cukup jauh dari rumah, butuh waktu lebih satu jam perjalanan yang harus saya tempuh menuju sekretariat Rulis sekedar untuk mengambil surat dispenpensasi tidak masuk sekolah  dan menyerahkannya di meja pimpinan. Karena jika terlambat mengirim surat, absen alpa langsung tertera. Karena itulah, saya yang harus tahu diri, berangkat setelah semua surat lengkap.

 Saya merasa nyaman bersama Rulis, saya bisa saling berbagi ilmu kepenulisan yang sebenarnya tidak seberapa. Tapi saya mau belajar, saya punya semangat untuk terus belajar dan berbagi. Di sinilah tempat yang saya cari, bersama teman-teman relawan yang memiliki visi misi yang sama, saya bisa mencurahkan segenap kemampuan saya di bidang tulis-menulis, terutama bagaimana guru termotivasi untuk menghasilkan karya. Sayapun lebih termotivasi, karena di dalam Rulis selalu ada penyemangat untuk terus menulis, terutama adanya korektor dan editor untuk lebih meningkatkan kualitas tulisan kami.

Selain tidak sejalan dengan pimpinan, hal lain yang menjadi tantangan adalah jarak tempuh yang lumayan jauh  (sekitar 35 km). Saya berada di perbatasan antara dua kabupaten Sumenep - Pamekasan,  sedangkan sekretariat di pusat kota dengan perjalanan yang membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Keadaan ini membuat saya tidak bisa langsung mengiyakan setiap kali teman-teman Rulis akan berkumpul. Berbeda dengan yang lain, rata-rata rumah mereka di seputar kota. Kalau gak hadir ya sungguh terlalu, kata Bung Rhoma.

Saya mesti melewati pemikiran panjang setiap kali mau datang. Undangan biasanya disebar sehari sebelum rapat, atau seringkali kalau ada rapat dadakan siang, pagi hari baru diundang. Ini yang membingungkan, satu sisi saya mewajibkan diri untuk selalu bisa hadir, tapi sisi lain saya tidak bisa langsung ada di lokasi dengan cepat. Sekolah saya di SDN Kapedi I, 30 menit dari rumah.  Saya harus pulang dulu (ke arah barat) untuk menyusui bayi saya.  Barulah saya berangkat dari rumah, kembali kearah timur menuju sekretariat dengan dua kali lebih jauh dari sekolah. Jadi menuju sekretariat butuh waktu perjalanan 90 menit dari sekolah.

Kadang suami dan anak-anak saya dibawa ke pertemuan rutin Rulis, anak pertama saya main dengan putri Ibu Ketua. Suami juga bisa menunggu sambil jalan-jalan di kota. Tapi sering saya menjalaninya sendiri saja. Menjadi driver sepeda motor di jalanan, selayaknya seorang batman.

Melelahkan memang, di saat terik siang bolak-balik dari sekolah ke rumah, lalu kembali ke Sumenep. Tapi disisi lain ada kepuasan tersendiri setelah berbagi. Inilah arti mengabdi, untuk negeri. Di saat semua tantangan yang ada, saya bisa melaluinya tanpa harus merugikan siapa-siapa. Sekolah tetap jalan, hak suami, anak dan bayi terpenuhi, sayapun masih bisa berbagi. Bahagianya di sini! - sambil sentuh dada kiri-. Biarlah saya yang berlelah-lelah, insya Allah bernilai ibadah. Aamiin.
___

Widayanti Rose adalah guru SDN Kapedi 1 Kecamatan Bluto, Sumenep, kini mendudukan anggota Bidang Pengembangan Potensi RULIS

Pragaan, 4 Mei 2018

Tulisan Terkait

Gupen 9012020436233164773

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item