Rulis Bisa Menggandeng Banyak Penulis

Oleh R M Farhan Muzammily 



Bisa dipastikan saya lebih mengenal beberapa tokohnya dibanding apa yang disebut Rumah Literasi Sumenep (Rulis) itu sendiri. Seperti Mas Syaf Anton (pembina) dan mbak Lilik Rosida Irmawati (Ketua Rumah Literasi Sumenep), yang bagi saya sudah seperti kakak kandung. Apalagi sebagai anak sareyang saya memang tidak pernah memiliki kakak kandung. Kedua sosok yang nyaris beda dimensi dan era itu bagi saya memang memiliki karakter yang saya sebut itu. Mungkin tak hanya bagi saya, namun bagi yang kenal pada mereka lainnya. Yang lebih junior tentunya, kendati bukan termasuk anak sulung.

Kembali pada rumah literasi, saya memang baru kenal. Itupun karena saya kenal sama tokohnya. Dari beberapa kegiatannya, seingat saya hanya sekali saya hadir saat peluncuran sekaligus bedah buku yang dibidani Rulis, singkatan Rumah Literasi yang dibentuk 2016 silam itu. Namun kendati biasa saja orang buat buku di era kini, wadah semacam ini tak bisa dibilang biasa saja. Bisa jadi ini yang pertama kali di Sumenep. Dan setiap yang pertama itu memang beda. Dan saya sudah mengalaminya sendiri sebagai anak pertama. Begitu juga dalam bab cinta, dan lain semacamnya.

Apa yang dilakukan Mas Anton dan Mbak Lilik menurut saya pasti dari kegelisahan. Kegelisahan seorang penulis dan tentu sekaligus pembaca yang baik. Gelisah dan tak bisa damai dengan ketenangan. Setiap detik lalu-lalang ide dan kata-kata berseliweran. Ide ini yang kemudian lantas melahirkan Rumah Literasi.

Terus terang, bagi saya Sumenep itu miskin. Miskin literatur. Waktu saya masih sekolah dasar dulu, saya sudah banyak mengenal nama tokoh-tokoh Sumenep, khususnya di jaman kuna, namun dalam bentuk cerita lisan. Dongeng pengantar tidur.

Sebagai anak-anak yang mungkin suka baca dan dengarkan dongeng, tentu hal itu menarik rasa ingin tahu saya yang lebih jauh. Namun hingga kini hal itu belum kesampaian. Banyak yang ingin saya tahu itu masih belum juga ditulis dalam bentuk buku.
Nah, adanya rumah literasi ini saya rasa bisa menjadi magnet dalam menarik karya-karya generasi Sumenep khususnya. Saya lihat banyak yang sudah menulis dalam naungan wadah ini. Ya, meski bukan bacaan berat, namun ini upaya yang bagus dalam mendokumentasikan ide dan info yang jelas tak bisa bertahan lama dalam ingatan dunia dongeng.

Mungkin rumah literasi juga bisa menggandeng banyak penulis yang berkompeten dalam hal Sumenep. Seperti tulisan utuh tokoh-tokohnya di jaman lampau, yang hanya disinggung sepotong atau tidak sampai seukuran itu di beberapa buku tentang Sumenep. Sedikit namun abadi lebih baik dari pada banyak namun sekali pakai. Salam literasi.

R M Farhan Muzammily, Jurnalis dan pemerhati sejarah Madura, tinggal di Sumenep

Tulisan Terkait

Utama 3084248900753041570

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item