Rajutan Suara

Cerita: Rahma Murniati

 
Suara itu kembali terdengar dari satu bulan yang lalu. Berawal dari sebuah perpisahan, tapi bukan dengan dia. Herannya suara itu selalu ada disaat aku membutuhkannya. Disetiap helaian napasku, disetiap hujan jatuh ke bumi sambil menikmati secangkir the hangat buatan ibuku. Aku selalu berharap dia bisa kembali dengn beribu untaian katanya dengan senyum manis yang mengalahkan satu kilo gula di dapur rumahku, dan tentunya dengan ramalan ajaibnya yang selalu tahu, sedang apa kau saat ini.

Dering HP kembali terdengar, setelah ribuan detik lamanya, aku tinggalkan semua yang sedang aku kerjakan saat itu dan segera ku angkat. Ternyata benar dia yang menelfon dan akhirnya ada yang tidak aku suka. Suara detak jantungku yang mengalahkan janggrik-jangrik yang sepertinya sedang beradu di belakang rumah.

“Assalamualaikum”
“Iya, walaikum salam” ku jawab.
“Sedang apa?” tanyanya kembali.
Aku heran, biasanya dia sudah tahu apapun yang aku lakukan. Sekarang kenapa bertanya?
“Kenapa? Biasanya kau tahu aku sedang apa” Tanyaku dengan suara pelan.
“Karena, aku tahu kau sedang gundah sekarang,” Jawabnya.
“Iya, dia tidak ada kabr.” Aku bingung, kenapa kau mengatakan itu. Hah pasti dia akan marah, aku lemas dengan jawabanku sendiri.
“Jadi kau ingin dia mengabarimu?” Katanya dengan nada kesal.
“Maksudku bukan begitu, tapi..” Aku menghentikan kalimatku karena tidak tahu harus melanjutkan dengan kalimat apa.
“itulah kau, hatimu hanya terus meringkih di ujung pintu hatinya.”
Percakapan itu berakhir dengan rasa kesal. Iya aku memang yang salah, masih saj membahas orang itu. Aku heran, kenapa tiba-tiba membahasnya.

Pagi itu, aku sedang duduk di teras rumah yang ditemani sang fajar dengan lagu dari burung-burung yang terus saja berirama di atas genteng rumahku. Tiba-tiba suara sepeda motor mengalihkan perhatianku.  Sepeda motor dengan warna yang taka sing, warna orange    berhenti tepat di depan pagar. Iya dia adalah pak pos.

“Dengan saudara Dinda Akina?” Tanyanya dengan tersenyum.
“Iya pak, saya sendiri” Jawabku
“Inia da paket dari Aksara Muhammad, silakan tanda tangan di sini!” Si pak pos sembari memberikan selembar kertas dan ballpoint.
“Terima kasih pak” Seruku sembari berlari ingin segera membuka paket yang kuidapatkan dengan setengah bersorak.

Dengan senyum lebar di wajahku, aku dengan cepat membuka paket itu. Isinya adalah surat dengan amplop berwarna coklat.

“Aku menulis ini, malam hari. Berharap esok gundahmu pergi bersama tiupan angin. Iya, semoga.”

Tentangmu

Ah
Bias wajahmu terus saja menyelinap,
Mungkin bulan tengah tersenyum mala mini,
Karena diksiku hanya tentangmu,
Saaat pagi menyapa nanti,
Akan kuceritakan pada burung-burung itu,
Agar diceritakan pad dunia,
Engkaulah yang istemewa.
Aksara Muhammad

Situbondo, 19 Februari 2018
Kubaca puisi itu berulang-ulang. Seakan tidak ada rasa Bosan. Rasanya ini mimpi tapi nyata. Semuanya menjadi satu dalam rasa yang beda dari sebelumnya.

Setelah satu minggu lebih, suara itu mulai terdengar. Rasanya hanya jangkrik itu dan kembali secangkir the hangat. Aku juga tak tahu kenapa suara itu tiba-tiba menhilang, rasanya bagai mengunyah permen karet terlalu lama, hambar.  Rasanya bibirku kelu saat itu. Aku kembali membaca surat itu yang masih tersimpan di laci meja belajarku.

Dua hari setelah itu, gundahku kembali datang, tapi kali ini berbeda. Gundahku bukan tentang orang itu, melainkan tentang suara itu. Seenaknya saja dia tak mengabariku.

“Kin ada telfon untukmu!” teriak bunda dari ruang tamu.
“Iya, Bunda, sebentar. Dari siapa bun?” Tanyaku
“ Gak tahu juga” Seru bunda seraya berlalu dri hadapanku
“Halo, siapa ya?” Tanyaku
“Utusan dari AksARA Muhammad”
Mendengar nama itu kembali senyumku mengembang.
“iya, ada pesan apa untukku darinya?” Aku kembali bertanya
“Ada salam darinya. Dia minta maaf karena lama tidak mengabarimu. Karena dia mendapat tugas sekolah yang cukup membuatnya ribet. Dia menyuruh saya menelponmu” jelasnya.
“oh..gitu. sampaikan juga padanya saya sudah maafin dia”

Sekarang aku mengerti mengapa suara itu tiba-tiba menghilang. Walau pun dia menitipkan suaraya taka pa. aku sudah senang, dia masih mengingatku. Aku masih ingat saat pertama kali suara itu mendatangiku. Suaranya lembut dan santai sekali. Aku suka saat ia menatapku. Bagai obat dari segala duka, bagai cokelat panas yang menemani hujan deras. The ibuku kalah dibuatnya. Tapi aku tak bilang ini pada bunda. Bisa-bisa bunda gak bakal buatin aku the hangat lagi.

Suara itu kembali terdengar menyusuri setiap gendang telingaku. Setelah dua pecan berlalu, dia menelfonku lagi.

“Assalamualaikum, kecil” katanya membuka obrilan.
“Walaikum salam. Kemana saja kau? Aku selalu saja memikirkanmu”
“Ada kok di sini, laha ini sedang bicara padamu.”
“Ah, kamu ini.”
“Kina, aku akan pulang dari pesantren besok. Aku harap kita bisa bertemu.”
Ini adalah kebahagiaanku yang kedua setelah suara itu kembali menyapa. Entah apa karena dia ingin pulang atau hanya ingin bertemu denganku?
"kamu yakin?”
“baru kali ini aku mendengar kau seperti tak percaya padaku.”

Suara itu bagai sang bayu, menyelinap masuk dalam tibuhku, memberikan sentuhan yang merdu bak alunan yang mendawai. Rindu yang mengelisahkan kini mulai larut dalam laut yang kuceritakan. Lidahku kelu mendengar suara tu kembali menyapa dengan lembut. Bagai sutra yang tak pernah kusut. Kini kembali suara itu terajut dalam raa yang semakin nyata.

               Rahma Murniati, adalah siswi kelas IX-3 SMP Negeri Dasuk, Sumenep



Tulisan Terkait

Kolom Aja 8161364186794333562

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item