Menulis, Menjadi Pertama dari Kedua

 Oleh Moh. Rasul Mauludi

Dalam dunia pendidikan ditingkat dasar, pembelajaran yang ditekankan tidak lepas dari tiga komponen, yaitu membaca, menulis dan menghitung. Terlepas dari berbagai macam metode, model dan sebagainya, pada intinya tiga komponen itulah yang menjadi tolak ukur pendidikan tingkat dasar untuk melihat kemampuan siswa-siswi.

Apabila tiga komponen itu sudah lancar dan mahir, maka dilanjutkan pada pengembangan lainnya sesuai pelajaran yang mengacu pada tata aturan kurikulum yang berlaku.

Yang pertama dari pembelajaran yang diterapkan yaitu membaca. Mengenalkan huruf-huruf baik bentuk maupun bunyinya. Kemudian dibaca bersama-sama atau per individu hingga faham dan hafal.

Dan sejarahpun mengajarkan bahwa yang pertama dilakukan untuk bisa mengetahui dan memahami ilmu pengetahuan yaitu dengan membaca. Seperti halnya Jibril mengajarkan Muhammad yaitu dengan membaca (iqro) bacalah wahai Muhammad. Disana tidak ada pengajaran menulis pada Muhammad.

Hingga akhir hayatnya Muhammad tidak pernah mempelajari tulis menulis. Memasuki periode Sahabat, barulah tulis menulis diajarkan yaitu dimasa Ustman. Jadi memang sudah dari awalnya menulis diposisikan pada yang kedua.

Kemudian setelah membaca baru pada tahapan menulis, yaitu bagamana menulis yang baik dan benar dari huruf-huruf yang sudah dibaca dan dihafalkan. Menulis huruf besar dan kecil, menulis dengan gaya ballok (tegak lurus) atau tegak bersambung dan menulis tanpa dipandu serta seterusnya.

Begitu juga menghitung, menghitung sama halnya dengan membaca yaitu dikenalkan angka-angka mulai dari yang terkecil hingga terbesar. Kemudian dilanjutkan bagaimana menulis angka-angka yang baik dan benar.

Kegiatan menulis memang bukan yang pertama, menulis dalam dunia pendidikan memang selalu diposisi nomor dua. Namun semua yang dibaca dan dihitung bila tidak ditulis akan hilang begitu saja.

Namun kegiatan menulis ditingkat menengah, atas dan umum memiliki penekanan tersendiri pada tiap individunya. Walaupun dalam dunia pendidikan tulis menulis masih dinomorduakan, tapi tidak demikian bagi yang memiliki minat dan bakat kepenulisan yaitu bagi yang memiliki jiwa dan anggapan bahwa adanya sebuah karya adalah yang berhasil ditulis.

Dalam perjalanannya, menulis bisa jadi yang pertama bagi yang memahami dunia kepenulisan. Dalam sejarah pula diajarkan bahwa untuk menghasilkan sebuah karya yang bisa dibaca dan dipahami semua orang maka hanya dengan menulis karya itu sendiri.

Bila dahulu suatu karya hanya ditulis pada lembaran lontar, bebatuan dan kain hingga pada kertas-kertas. Dan diabadikan dalam bentuk buku atau kitab. Kita bisa melihat buku-buku dan kitab-kitab hasil karya para ilmuwan yang semuanya dengan cara menulis. Sehingga mempermudah untuk bisa dibaca dan dipahami apa yang tersimpan dalam buku-buku dan kitab-kitab itu.

Menulis menjadi pertama dari yang kedua, yaitu bagaimana membiasakan menulis apa saja yang bisa ditulis untuk menjadikan kita berorientasi pada suatu karya. Dan karya itu akan mengukir penulisnya dari zaman ke zaman atau turun temurun. Satu saja yang bisa ditulis, apakah tidak mungkin satu kesuksesan sudah bisa diraih.

Menulislah dan teruslah menulis, karena tulisan itu bukanlah kesia-siaan karena sebuah alasan tidak adanya bakat atau minat. Dan bagi penulis, menulis itu seindah tersenyum yang memberi kebahagiaan tersendiri.

Tulisan Terkait

Esai 1805446231714582594

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item