Gadget Otodidak, Menjadi Media Pembelajaran yang Menyenangkan

(Pengalaman Empiris Penulis, Sebagai Guru)
Oleh: Ali Harsojo, M.Pd.
Ali Harsojo, M.Pd.
Derasnya arus informasi telah menjadi kebutuhan banyak pihak untuk selalu up to date terhadap
perkembangan zaman yang terbaru. Setiap lini kehidupan tidak akan pernah lepas dan pengetahuan, termasuk memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi dalam dunia pendidikan. Sekolah sebagai lembaga yang mewujudkan terlaksananya pendidikan diharapkan selalu mampu mengakses kebaruan itu.

Selama mengajar di kepulauan, saya menjumpai bahwa tidak semua sekolah, atau bahkan guru memiliki kemampuan dan akses yang sama untuk mengembangkan diri. Penyebabnya adalah pertama, letak geografis kepulauan terpencil yang jauh dari akses transportasi, informasi dan sinyal internet menjadi kendala utama keterlambatan memperoleh informasi secara cepat. Kedua, kadangkala fasilitas memadai, akan tetapi sumber daya manusia sebagian guru kita memang masih belum maksimal.

Sejak saya pindah tugas mengajar dari kepulauan ke daerah kota, banyak hal yang diperoleh dan dapat dijadikan pelajaran dalam rangka mengembangkan diri. Beragam keadaan sekolah dan warganya relatif berbeda antara sekolah di kepulauan dan di perkotaan. Fasilitas yang serba ada, terutama yang dimiliki dan dibawa siswa ke sekolah menjadi pembeda utama kedaan siswa-siswa saya.

Hampir setiap siswa di sekolah baru saya, membawa handphone yang relatif baru. Gadget telah menjadi barang biasa bagi anak kota dan biasa pula dibawa ke dalam kelas. Apakah gadget itu? Sayapun cukup lama hanya mengenal dan memanfaatkan fungsinya daripada memahami definisinya.  Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Indonesia, gadget disebut sebagai “acang”. Salah satu hal yang membedakan gadget dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur “kebaruan” sumber: wikipedia.

Pemandangan yang kurang biasa adalah masih ada guru yang “merampas” hak anak untuk memegang gadget mereka di dalam kelas. Semua gadget dan HP dikumpulkan di meja guru. Alasannya klasik. Siswa dikhawatirkan bermain HP saat pembelajaran berlangsung. Ironisnya, kadang justru gurulah yang asyik bermain HP di dalam kelas saat KBM masih berlangsung.

Hal inilah yang menarik minat saya untuk melakukan langkah progresif mengubah mind set guru bahwa siswa harus merdeka dengan apa yang mereka miliki. Guru justru harus mampu menggunakan fasilitas itu untuk mendukung proses pembelajaran.

Cara yang saya tempuh, sangat sederhana. Pertama, guru harus belajar menguasai teknologi informasi terkait dengan fitur gadget dan fungsinya. Kedua, memberikan pemahaman kepada siswa tentang gadget, fungsi dan manfaatnya. Ketiga, mengaplikasikannya secara nyata dan terbimbing dalam kegiatan pembelajaran.

Cara otodidak yang diterapkan ternyata mampu ”membius” siswa lebih tertantang untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang menyenangkan berbasis gadget itu. Misalnya pada pembelajaran IPA SD Kelas V pada materi pokok tentang peredaran darah pada manusia. Setelah guru melakukan apersepsi, menjelaskan materi secara ringkas maka siswa diberi kesempatan bertanya jawab tentang meteri tersebut. Kemudian, guru meminta siswa membuka dan mengoperasikan gadget nya dengan kata kunci yang sama di laman pencarian. Secara berkelompok, siswa dapat mengakses dan menyaksikan video tentang peredaran darah pada manusia di you tube. Mereka dapat menyaksikan ulang sesuka hati mereka. Bahkan berkali-kali. Setiap kelompok mendapat tugas menuliskan dalam lembar tugas kelompok tentang sirkulasi peredaran darah pada manusia. Akhirnya mereka semakin terbiasa mengingat, menyaksikan dan menulis. Presentasi adalah puncak dari hasil belajar mereka.

Pengalaman ini menjadi energi positif bagi setiap warga sekolah. Bahkan wali murid banyak yang mengkonfirmasi tentang asyiknya belajar dengan perangkat elektronik milik mereka sendiri. Rupanya siswa yang belajar dengan cara itu, bercerita kepada orang tua masing-masing.

Saya seringkali meminta siswa melakukan presentasi setiap proses pembelajaran sebagai bagian dari upaya mengembangkan kemampuan siswa. Walaupun tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama. Setidaknya, berdasarkan pengalaman empiris yang saya lakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa media gadget yang diterapkan dengan cara otodidakpun dapat menarik minat belajar siswa. Selama ini belum ditemukan keluhan dari siswa tentang penggunaan media pembelajaran berbasis gadget itu.

Ternyata manfaat media gadget juga dapat dirasakan oleh saya, sebagai guru. Gadget dapat mendukung tugas-tugas guru. Apalagi guru penulis. Mencari materi ajar dan sebagainya. Selain dapat dijadikan alat untuk memperoleh informasi, gadget juga dapat dijadikan alat komunikasi dengan orang lain, termasuk orang tua di rumah.

Selain itu, gadget juga dapat dijadikan alat untuk bertukar informasi melalui akses media sosial yang semakin berkembang pesat. Akan tetapi akses media sosia untuk siswa diberlakukan hanya pada jam istirahat dengan tetap bimbingan dan arahan dari guru. Untuk mengontrol penggunaan media sosial mereka, guru meminta untuk diajak dalam pertemanannya.

Ali Harsojo, M.Pd. Guru Kelas  SDN Pajagalan II Sumenep dan aktivis RULIS

Tulisan Terkait

Gupen 8523359072426401684

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item