Budaya "Nerima" Problem Kemajuan?

Syaf Anton Wr 

(Gambar: discreenshot dari filem "Sang Pencerah"


"Serahkanlah semuanya pada Allah".

Kalimat itu sering terdengar di telinga semua orang, manakala mendapatkan halangan, rintangan dan, cobaan dalam menjalani hidup. Indikasinya, sekilas, bisa menciptakan manusia untuk berserah pada garis perjalanan hidup, tanpa optimalisasi usaha yang mendorong pada ketercapaian tujuan.

Tentu, orang giat usaha akan segera menjawab, "itu tidak berlaku terhadap etos kerja saya." Masih memberikan celah harapan, jawaban reflektif itu bagi rekonstruksi budaya nerima. Namun, spirit besar tersebut, hanya bergerak dalam lini kematangan berpikir, bukan kemapanan status sosial. Sehingga, kalangan edukatif lebih banyak mengkonsumsi nilai di atas, daripada kalangan lain, yang mayoritas menjadi konsumen nilai jadi. Karena, usaha adalah sebuah nilai produktif yang senantiasa dinamis, antipator terhadap perubahan masa.

Sinyalemen "nerima", hampir masih menjadi trend berpikir semua bangsa yang baru mencicipi "kemerdekaan". Ini disebabkan oleh daya kreatifitas berpikir di bawah standar ideal. Walaupun telah memiliki infrastruktural cukup besar, berupa legasi humanisme dalam berbagai dimensi. Tapi, interaksi aktif tidak terakomodasi dengan efektif, akibat pemahaman parsial terhadap khazanah besar itu. Padahal, pemahaman awal seharusnya sudah dilalui beberapa masa yang lalu, dan memasuki fase kedua, yaitu fase reinterpretasi. Dengan menggandeng pernik modernisasi, berupa epistemologi sebagai pisau analisisnya. Supaya kajian intensip menghasilkan buah konstruktif, atas dasar metodologi pilihan.

Apresiasi terhadap nilai budaya yang dihasilkan dari tangan kreatif, dan inovatif nenek moyang kita dahulu, sudah saatnya mendapat perhatian besar, sehingga skala prioritas berjalan secara proporsional. Bukan sekedar berbangga diri dengan "kenangan" klasik, yang membawa diri pada alunan romantisme ala Arab. Pada gilirannya nanti, quotasi semangat tersebut mampu mengikis budaya "nestapa" ini, dan berganti semangat "aktif", berbajukan klasik; memakai nilai-nilai legasi.

"Tawakkal 'alalLahi", yang sempat meramaikan media massa beberapa bulan yang lalu, atas jatuhnya pesawat Mesir di Amerika, akan pupus dengan sendirinya. Karena, para keluarga korban pesawat naas tersebut, tidak akan menerima begitu saja. Tanpa dilakukan investigasi sebab akibatnya jatuh. Media massa Amerika, dalam satu sisi, tidak akan menyoroti lagi dengan seksama terhadap perkataan "tawakkalh 'alalLahi" yang berimij negatif kepada komunitas Muslimin. "Ternyata Muslimin masih berada dalam patalistik dan skriptualis" begitu pandangan penulis Amerika terhadap kalimat itu.

Sekarang, bagaimana dengan bangsa Melayu sendiri ? Masihkah "nerima" menyelimuti budaya Melayu ? Pertanyaan ini kiranya sudah terjawab dengan perkataan Mahatir Muhammad, Perdana Menteri Malaysia, "agenda utama saya, sampai saat ini, bagaimana memupus kemalasan kerja yang telah mendarah daging di jiwa orang Melayu. Bangsa Melayu mundur 20 tahun, karena kemalasannya ini !!!"

Malas, sebagai "side effect" dari "nerima". Alangkah besar pengaruh malas terhadap kamajuan suatu bangsa. Sehingga, Mahatir Muhammad sendiri mensinyalir kemunduran Melayu ialah atas kemalasannya. Adalah logis sisi ini dijadikan alasan bagi kemandegan pembangunan. Etos kerja faktor dominan memajukan bangsa. Malik bin Nabie, pakar peradaban berkebangsaan Aljazair, telah jauh-jauh hari memberikan analisanya, tentang adanya korelasi antara etos kerja dengan kemajuan peradaban.Dalam teorinya, hendaknya manusia melakukan optimalisasi terhadap kemampuan yang dimilikinya, melalui peningkatan etos kerja; kerja berpikir, kerja berbudaya, kerja pemanpaatan waktu.

Data faktual telah memberikan bukti bagi kita, bagaimana Jepang setelah kejadian Hirosima-Nagasakti, dapat "disulap" menjadi bagian negara yang maju. Dalam beberapa tahun, bangsa Jepang mampu menata kembali, bahkan meningkatkan bangsanya menuju bangsa yang membangun, dan sejajar dengan bangsa yang maju lainnya.

Haruskah bangsa Melayu berada dalam kemunduran terus, kurang mampu bersaing dengan bangsa lain ? Terlebih, sekarang ini, kemajuan "hi-tech" menjadi genderang,bagi menandai masuknya millenium ketiga. Globalisasi sebagai pemikiran baru telah mengukuhkan jargon-jargon modern yang simflikasinya membawa tatanan dunia dalam tatanan global. Akhirnya, muncul dengan namanya "globalisasi problematika bangsa". Agenda permasalahan suatu bangsa akan dialami oleh seluruh bangsa lain, melalui jaringan "super high way", informatika.

Keterpurukan yang kita rasakan, karena budaya "nerima", semakin komplek atas datangnya problematika baru, berbajukan "globalisasi". Tentunya, problema kita pertama, dan cukup signifikan bagi proses funsionalisasi SDM dan SDA harus dicarikan solusi mujarabnya. Supaya bisa keluar secara perlahan tapi pasti dari kemelut kemunduran ini. Mungkin di antaranya, media efektif dan cukup urgen adalah melalui pendidikan. Masyarakat dididik agar punya kesadaran berpikir, kesadaran bersosial, kesadaran berekonomi, kesadaran berpolitik, kesadaran beragama.

Melalui sadarisasi pendidikan bagi masyarakat dalam berbagai dimensi, maka dapat dicapai target menghapus budaya nerima. Tentunya, proses ini harus berpijak pada pandangan filosofi pendidikan suatu bangsa. Filosofi pendidikan yang mengakar pada kepentingan masyarakat. Sesuai dengan paradigma berpikir masyarakat, dan sejalan dengan tuntutan kemajuan bangsa-bangsa di belahan bumi ini.

Bangsa Melayu memiliki paradigma berpikir khusus dengan bangsa lain. Semua paradigma berpikir yang ditransformasi oleh para putra bangsa yang belajar di negeri orang tidak siap diaplikasi langsung, melainkan harus digodok kembali secara intens. Sedangkan yang terjadi sekarang ini, kita hanya bisa mengimpor paradigma-paradigma berpikir sudah jadi, sementara pengajian ulang terhadap hasil berpikir itu tidak dilakukan. Hasilnya, kita ketinggalan terus, bahkan telah terjadi disintegrasi internal. Akibat ketidakserasian konsep dengan realitas lapangan.

Membangun kesadaran berpikir, hendaknya dijalani melalui rasionalisasi akal. Tidak terpaku pada otoritas suatu teks. Melainkan, senantiasa harus diuji oleh daya nalar sehat, sehingga fungsionalisasi akal dapat dilakukan dengan optimal, dan sebagai manifestasi kesyukuran manusia pada Tuhan-nya atas anugerah yang diberikan kepadanya, berupa akal. Maka akal diberdayakan lebih aktif dalam menangani berbagai hal. Kemajuan peradaban manusia, dalam rentang sejarah umat manusia, ditopang oleh rasionalisasi akal secara tinggi. Sebaliknya, kemunduran peradaban manusia, karena akal tidak mendapatkan porsi sewajarnya.

Kesadaran berpikir, biasanya, berhubungan langsung dengan doktrin keagamaan yang diterima oleh manusia itu sendiri. Manusia, bagaimana pun keadaannya, ternyata masih dapat ditundukan dengan doktrin--dalam berbagai bentuknya—yang melatarbelakangi cara berpikirnya. Oleh karena itu, doktrin keagamaan harus sedikit terbuka. Adagium "shalihun likulli zaman wamakan", seyogyanya menjiwai nilai doktrin. Bukan menambah ketertutupan berpikir doktrin agama itu, melainkan harus menambah etos berpikir tinggi.

Perbedaan pandangan dalam merumuskan doktrin, seperti yang telah terjadi sampai sekarang, sudah dikikis lebih awal. Semua kalangan ahli doktrinitas keagamaan merumsukan kembali, atau paling tidak, melakukan reinterpretasi terhadap rumusan doktrin klasik. Karena, diakui atau pun tidak, validitas doktrin klasik--menurut sebagian ahli berpikir--banyak sisi-sisi yang memerlukan kajian kembali. Bahkan, sebagian ahli teolog lain, berpendapat "kita perlu merekonstruksi teologi klasik". Indikasi ini, sebenarnya, sedang dirintis oleh seorang pemikir tercerahkan, Muhammad Khatamy, Presiden Republik Islam Iran, melalui gagasan-gagasan segarnya yang termaktub dalam beberapa buah penanya.

Adapun membangun kesadaran berekonomi, masyarakat didorong untuk berusaha keras, menghormati pentingnya sebuah materi. Tidak mengedepankan pikiran negatif terlebih dahulu, dalam melihat makna dari pada materi. Selama ini, materi diartikan oleh Muslimin identik dengan keduniaan an sihc. Sedikit banyak melupakan kepentingan akhirat. Padahal tidak demikian sebenarnya. Justru dengan materi itu, kita dapat beramal shaleh lebih leluasa, dan banyak hal yang dapat dilakukan bagi kepentingan umat manusia. Maka, perlu diperluas kembali terhadap makna daripada materi bagi Muslimin. Kalau tidak begitu. Jangan harap dunia ini bisa dikuasai oleh Muslimin, sebaliknya kaum lain akan menguasai dunia secara keseluruhan, dan itu bisa dirasakan oleh kita sekarang.

Sehingga, motto sederhana, tapi berdampak besar terhadap perekonomian Muslimin, "mangan ora mangan yang penting kumpul" tidak didengar kembali oleh telinga generasi mendatang. Orang yang merasa cukup dengan hasil usahanya sekarang, dan peninggalan nenek moyangnya, tidak menjadi pendorong untuk bermalas-malas, dan menata perekonomian lebih maju lagi.

Dengan tidak melupakan, bahwa frame perekonomian harus sesuai dengan nilai-nilai budaya kita. Tentunya, di sisi lain, tidak menafikan kebaikan dari konsep perekonomian yang telah digunakan oleh bangsa lain dalam membangun perekonomiannya. Bukan hanya mengkritik konsep ekonomi kapitalis, dan sosialis, sedangkan dalam kesehariannya ia sendiri berlaku seperti orang kapitalis dan sosialis. Ini banyak kita temukan pada diri manusia yang mengaku muslim, dan membenci konsep ekonomi imporan.

Sedangkan membangun kesadaran berpolitik. Masyarakat harus menjadi peserta aktif dalam proses pendidikan politik. Politik bukan lagi sebagai konsumsi elit politkus saja, melainkan semua kalangan diajak untuk memahami arti sebuah politik.Sehingga dapat menilai bijaksana terhadap permainan politik yang digulirkan oleh elti politik. Tidak menjadi momok bagi mereka, dan penghalang aktivitas keseharian mereka, melainkan itu hanya sebagai dinamika hidup dalam berbangsa dan bernegara.

Pendidikan politik tidak dienyam oleh kalangan terbatas saja. Semua segmen sosial harus menyentuh pendidikan politik. Maka kebijakan pemerintah memberikan kesempatan luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi aktif, dan pasif dalam berpolitik. Keran kebebasan menyampaikan pendapat harus dibuka lebar-lebar,sebagai gerbang memasuki lapangan demokrasi sejati. Syarat utama membangun masyarakat madani--yang lagi gencar dipublikasikan--adalah melalui jalur demokratisasi.

Kalangan Muslimin, dalam berpolitik tidak terbatas pada paradigma klasik. Melainkan, semestinya, menerima terhadap pemikiran baru. Paradigma klasik sebagian besar merupakan hasil dari masanya, dan tidak menutup kemungkinan kurang relevan dengan masa sekarang kita hidup. Apalagi, wacana pemikiran politik dalam Islam cukup plural. Semuanya, tidak lepas dari kepentingan ideologi, dan kepentingan pragmatis. Itu bisa dilihat dari hasil kajian kritis terhadap khazanah klasik.

Utamanya dalam pendidikan politik, masyarakat tidak di hadapkan pada polemik klasik. Pentingkah politik bagi Islam ? Islam mengenal politik ? Politik tidak dapat dikaitkan dengan agama ? Biarlah perbedaan pandangan tersebut menjadi omongan kalangan tertentu saja.

Tulisan ini telah terbit di Majalah MPA tahun 2008

Tulisan Terkait

Utama 3460469201799508294

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item