Bersama Rulis Ku Harus Bisa !

 Oleh: Afiatur Riskiyah

Kulihat surat undangan edaran “Workshop Pelatihan Menulis bagi Guru TK dan SD dan Launching Rumah Literasi“ tergeletak di atas meja kepala sekolahku.. Melihat surat itu aku jadi penasaran. Keingintahuan terus mengusikku. Amplop yang berkop Rumah Literasi Sumenep, terus mengusikku dan bahkan menghipnotisku. Ingin rasanya kusambar saja agar segera tahu apa isinya.

Afiatur Riskiyah, saat tampil saat Workshop Menulis bagi Guru

Dalam hati aku berharap, akulah yang mendapat kesempatan untuk menghadiri undangan itu. Seperti biasa, setelah pembelajaran di sekolah usai, seluruh guru dan tenaga kependidikan di sekolahku berkumpul di ruang guru untuk melakukan refleksi harian mengenai segala hal yang telah kami lakukan dan alami selama proses belajar mengajar. Kepala sekolah, Bapak Heru Budi Santoso, S.Pd, juga menyinggung adanya undangan yang telah sempat kuintip sebelumnya. Beliau menawarkan pada semua guru yang ada, siapa yang mau menghadiri undangan tersebut. Namun, sepertinya tidak ada guru yang siap yang siap. Pak Heru, begitu akrab kami panggi, pun menawarkant padaku untuk mengetahui kesediaanku. Ternyata gayung pun bersambut. Apa yang aku inginkan tadi, akhirnya kudapatkan. Tanpa ragu sedikitpun kuanggukkan kepala.

Pulang dari sekolah, kuceritakan pada suamiku bahwa aku akan mengikuti workshop di SMA PGRI. Alhamdulillah suamiku memberi ijin. Dengan langkah mantap, kulangkahkan kaki memasuki aula tempat pelaksanaan workshop itu. Ternyata di sana aku bertemu teman seperjuanganku saat berada di Pulau Sapudi (wilayah Kabupaten Sumenep), Widayanti. Terus terang, aku sama sekali buta tentang dunia kepenulisan. Aku tertarik untuk mengenalnya karena aku merasa sangat penting untuk mengembangkan diri sebagai seorang guru yang baik. (sok idealis ya alasanku ini). Sepertinya orang-orang yang hadir dalam workshop tersebut sudah mengenal dunia kepenulisan lebih dalam dan lebih lama dibandingkan denganku. Namun kuikuti semua sesi workshop dengan penuh semangat. Apa yang telah disampaikan nara sumber, Bapak Shoim (Shoim Anwarm sastrawan Surabaya) dan Bapak Khoiri (Much. Khoiri, pakar literasi dari UNISA) semakin memicu semangatku untuk belajar menulis.

Terlebih saat acara Launching Rumah Literasi. Banyak orang hebat yang ada dalam komunitas ini. Syaf Anton (budayawan) bersama istri (Lilik Rosida Irmawati) beliau merupakan salah satu pendiri Rumah Literasi Sumenep yang kemudian  dikenal sebutan sebagai Rulis. Perkenalanku dengan Rulis berlanjut saat aku harus menyelesaikan tugas yang diberikan nara sumber dalam workshop. Walaupun aku merasa kurang percaya diri dengan tulisan yang kubuat, aku harus tetap menyelesaikan tugas itu. Ternyata tulisanku yang pertama diposting oleh Rulis melalui facebook. Ada rasa bangga sekaligus malu membaca tulisanku yang menurutku masih sangat kurang bagus itu.

Hal yang membuatku merasa tersanjung, ternyata Bu Lilik mengundangku bergabung dalam grup WhatssApp Rulis. Sejak itu, aku pun selalu berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan Rulis. Baik acara Seminar, Pelatihan, Bedah Buku, dan beberapa agenda roadshow ke beberapa kecamatan yang ada di Sumenep.

Beda dengan yang lain, aku bertempat tinggal di wilayah perkotaan dan berprofesi sebagai guru SD di kecamatan yang sama, sekaligus ibu rumah tangga yang demikian padat kesibukannya. Apalagi, aku juga menjadi pengurus dalam kegiatan PKK baik di lingkungan RT maupun di kelurahan tempat tinggalku. Aku juga harus membantu usaha suamiku yang mempunyai usaha percetakan walaupun kecil-kecilan. Hal ini membuatku seakan tidak memiliki waktu untuk menulis. Tapi memang benar kata teman-teman aktivis Rulis yang lain, kita harus menyempatkan diri untuk menulis dan berkarya. Karena dengan karyalah kita akan menjadi mulia.

Sebenarnya tidak ada halangan yang berarti bagiku untuk menulis. Baik dari pihak lembaga sekolah maupun dari keluarga. Bahkan kepala sekolahku selalu memberikan semangat agar aku bisa menghasilkan karya. Demikian pula suami dan anak-anakku. Seringkali suamiku mencetuskan ide yang bisa kutuangkan dalam tulisan. Namun ketika aku sudah berada di depan laptop untuk menulis, pasti tulisanku tidak dapat kuselesaikan hingga menghasilkan sebuah tulisan yang siap dibaca. Selalu saja kegiatan menulisku terhenti, karena aku harus menyelesaikan tugasku yang lain, terutama tugasku sebagai guru, yang dituntut untuk menyelesaikan atribut administrasi yang harus dibebankan seorang guru, terutama yang berkaitan dengan kegiatan evaluasi bagi siswa. Apalagi bagiku yang memiliki tugas mengajar di kelas VI. Mungkin alasan yang kukemukakan terlalu klise untuk disampaikan. Karena hampir semua orang yang berprofesi sebagai guru mengalami apa yang kualami tersebut.

Tapi, aku akan selalu berusaha untuk segera menghasilkan karya yang memiliki nilai estetika dan moral yang dapat kupersembahkan untuk ikut menggalakkan gerakan literasi. Apalagi saat ini aku telah berada di antara orang-orang hebat penuh karya yang telah menginspirasi dan memotivasiku agar menjadi insan yang lebih berarti melalui karya. Rumah Literasi Sumenep memang wadah yang tepat bagi para guru untuk berekspresi dan mengembangkan kemampuan diri terutama dalam dunia kepenulisan. Walaupun sebenarnya bukan hanya dunia kepenulisan saja yang menjadi program kegiatan yang Rulis miliki, tapi pada intinya memberikan yang terbaik bagi masyarakat melalui gerakan dan pengembangan literasi.

Nah dari disinilah kini aku makin memahami, apa dan bagaimana literasi, dan apa manfaat bagi diri saya dan masyarakat. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Dan aku harus bisa.
 Sumenep, 5 Mei 2018

Afiatur Riskiyah akarab dipanggil Fifin adalah guru SDN Pandian V, Kecamatan Kota, Sumenep dan sebagai anggota (Bidang Pengembangan Potensi RULIS


Tulisan Terkait

Gupen 4784322987055547522

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item