Bergabung dalam Komunitas Makin Bersemangat

Perjalanan Kreatifitas Yulianti

Setelah lulus kuliah saya menjadi kerdil dalam berkarya. Selain karena kesibukan mengajar dan beberapa kegiatan yang lain. Ditambah setelah saya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditugaskan di pulau Kangean. Sama sekali tidak menulis, hanya sesekali membaca itupun kalau sempat. Miris rasanya, tapi saya melarutkan diri dalam keadaan seperti itu hingga benar-benar merasa nyaman di jalan yang salah. Kondisi seperti ini membuat semua ide membeku dan menumpul.

Sampai akhirnya tahun 2015 saya dimutasi. Bagai Tarzan masuk kota rasanya. Setelah 6 tahun terasing dari dunia luar, kini mata saya terbelalak. Berawal dari undangan terbuka di facebook, bincang sastra dan peluncuran salah satu penulis muda Sumenep. Banyak sekali penulis yang berkumpul kala itu. Dari bincang santai dengan beberapa orang di sebelah kanan dan kiri saya tahu mereka banyak memiliki karya baik yang dimuat di media cetak atau pun yang memiliki buku. Pertama kali saya minder dalam hidup. Sejak saat itu saya pengen sekali bergabung dengan komunitas penulis.

''Bherrãs potè polana aèsek padã bherãssã" (beras putih karena menggesek sesama berrasnya) pribahasa Madura yang membuat saya lebih ingin bergabung dengan komunitas. Karena saya yakin bergabung dengan komunitas akan ada semangat, ada yang memberikan motivasi dan pecutan untuk menulis. Gayung bersambut, keinginan saya mendapatkan jalan. Saya bertemu dengan seorang budayawan Madura, Syaf Anton. Awalnya kami berkomunikasi melalui media sosial. Lama-lama saya ungkapkan keinginan untuk bergabung dengan sebuah komunitas.

Responnya biasa saja saat itu, lama-lama saya tahu bahwa ia pembina sebuah komunitas penulis dengan nama Rumah Literasi Sumenep. Sedangkan ketuanya adalah Lilik Soebari,  istri Syaf Anton. Singkat cerita Alhamdulillah saya bisa bergabung di komunitas itu. Awalnya canggung, gak PD berada di komunitas yang anggotanya sudah memiliki banyak karya. Tetapi rasa kekeluargaan dan bersahabat membuat saya melupakan rasa canggung.

Rumah Literasi terus memberikan motivasi bagi saya untuk selalu belajar baik dalam menulis atau pun banyak membaca buku. Apalagi saya juga harus menjadi pemateri sekaligus motivator untuk siswa dalam menulis. Yang paling penting adalah kita harus rajin menulis. Karena ada beberapa komen di dinding Facebook Rulis "jangan-jangan hanya bisa memberikan motivasi, tapi tidak pernah  menulis" Tamparan yang hebat untuk anggota Rulis. Kita harus bisa membuktikan bahwa kita tidak hanya bicara tetapi membuktikan.

Sejak bergabung di Rulis, Alhamdulillah saya mengabaikan beberapa tulisan diantaranya adalah karya yang lolos kurasi pentigraf kitab 2 dan resensi buku Siti dan Peri Gigi berhasil dimuat Radar Madura edisi 13 Mei 2018. Suatu pencapaian yang luar biasa bagi saya. Saat ini, terus menulis terutama di fiksi, entah nanti dimuat dimana yang penting menulis, menulis, dan menulis. Rulis  sungguh memberikan ruang yang luar biasa untuk saya. Terima kasih Rulis.

Tulisan Terkait

Gupen 8059461084459704915

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item