Berbincang dengan Lilik Rosida Irmawati, Pengelola Rumah Literasi

Penting Punya Semangat Membaca-Menulis 

Ketua Rumah Literasi Sumenep Lilik Rosida Irmawati (kaus hitam) saat kumpul dengan pengurus, siswa binaan, serta wali murid, Senin (30/5). (IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)
Membaca dan menulis merupakan aktivitas yang berkait-kelindan. Tidaklah bisa menjadi penulis hebat tanpa membaca yang kuat. Itulah sebabnya, Rumah Literasi Sumenep turun ke sekolah-sekolah untuk menyosialisasikan cinta baca kepada guru dan murid.

Rumah di Pesona Satelit Blok O Nomor 9 Sumenep itu tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah sekitar. Bangunannya tampak sederhana. Tetapi, rumah ini menjadi tempat berkumpulnya para relawan literasi di Kota Keris. Itulah yang membuat rumah tersebut istimewa dibanding lainnya.

Senin sore (30/4), rumah ini kembali dijadikan tempat pertemuan pengurus dan anak didik Rumah Literasi Sumenep. Ya, selain rumah pribadi, rumah ini juga menjadi ”kantor mini” bagi Rumah Literasi Sumenep. Jawa Pos Radar Madura secara khusus datang ke rumah tersebut untuk berbincang dengan pemilik rumah sekaligus Ketua Rumah Literasi Sumenep Lilik Rosida Irmawati.

”Awalnya kami gelisah melihat minat baca di Sumenep yang tidak begitu kuat. Hanya beberapa sekolah yang memiliki semangat literasi tinggi,” kata Lilik. ”Karena itu, pada 11 November 2016, kami para komunitas guru bersepakat mendirikan Rumah Literasi Sumenep,” tambahnya.

Tahun pertama, kegiatan yang digelar tidaklah terlalu padat. Mereka menggelar pertemuan-pertemuan kecil. Setelah itu, banyak guru dan penulis yang bergabung. Mereka bersedia menjadi pengurus sekaligus relawan literasi.

”Sejak 2017 kita mengadakan pelatihan menulis untuk siswa,” jelas perempuan kelahiran Jember, 16 Juli 1964 itu. ”Bukan hanya siswa, gurunya juga kita latih. Mereka (para guru) kita suruh baca puisi dan baca cerita,” paparnya.

Guru perlu memiliki semangat literasi yang tinggi. Sebab, gurulah yang akan memotivasi siswa untuk gemar membaca. Kalau guru tidak punya semangat, dikhawatirkan siswa juga malas untuk membaca.

Penulis buku Berkelana dengan Kesenian Tradisional Madura ini menambahkan, setiap turun ke sekolah atau kecamatan, ada sekitar 10 pengurus dan relawan yang ikut. Mereka memotivasi siswa dan guru untuk gemar membaca dan menulis. Target jangka panjangnya, kegiatan yang diprakarsai Rumah Literasi Sumenep ini melahirkan banyak penulis.

Sampai saat ini, sudah ada empat kecamatan yang mereka datangi. Tiga kecamatan di daratan dan satu di kepulauan. ”Kita sudah turba ke Kecamatan Gapura, Kota, Dasuk, dan Giligenting,” tegasnya.

Saat turun ke bawah, mereka tidak minta bayaran. Jangankan dibayar, mereka justru harus urunan untuk menggelar kegiatan. Itu semua dilakukan agar semangat menggelorakan cinta baca tidak ditukar dengan materi yang sifatnya sesaat.

”Kita tidak dibayar. Malah kita urunan. Namanya saja relawan literasi, masa mau minta bayaran,” kelakar perempuan yang juga menjabat Kepala SDN Pabian 1 Kecamatan Kota Sumenep ini.

Selain menggelorakan cinta baca dan menulis, rumah literasi juga menerbitkan buku. Sampai saat ini sudah ada dua judul buku yang diterbitkan. Yakni, Mutiara yang Terserak; Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumenep. Buku kumpulan cerpen ini terbit pada Januari 2018.

Buku kedua yakni Siti dan Peri Gigi. Buku ini ditulis oleh dua penulis cilik. Yakni, Yasmin Nadila Fachrunnisa, 9, dan Alvian Noor Nasyraa, 8. Keduanya masih duduk di bangklu kelas 3 dan 2 sekolah dasar.

”Juni nanti rencananya kami akan menerbitkan buku yang ditulis oleh teman-teman pengurus Rumah Literasi Sumenep,” jelasnya.

Saat ini sudah banyak lembaga yang meminta agar dibimbing oleh Rumah Literasi Sumenep. Bahkan, jadwal untuk Juli dan Agustus sudah penuh. Dalam sebulan, mereka hanya bisa turun maksimal empat kali.

”Kita ngisinya hanya akhir pekan. Sebab kalau di hari aktif, relawan Rumah Literasi kan ngajar di sekolah,” paparnya.

Ditanya mengapa para relawan mau meski tanpa dibayar? Menurut dia, sejak awal pendirian organisasi ini memang bukan berorientasi profit. Tetapi lebih pada perjuangan nilai, yakni menanamkan cinta literasi di kalangan guru dan siswa.

”Literasi seperti air yang siklusnya akan menjadi mata air baru. Jadi di situ ada proses yang panjang untuk menjadi mata air baru, di mana pun dan siapa pun,” tukasnya.

(mr/mam/hud/han/bas/JPR)-(https://www.jawapos.com/radarmadura)

Tulisan Terkait

Utama 6129005424441971452

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item