Badai Pasti Berlalu

Cerpen Widayanti Rose

 
“Badai pasti berlalu, fren”  hibur Nuno saat kami bersiap hendak pulang dari sekolah.

“Aamiin, semoga aja ya fren. Aku suda capek menjalani ini. ngajar jadi tidak fokus gara-gara ini” jawabku sambil memandang gedung kokoh yang membentang di bagian selatan sekolahku.

“Ternyata tidak mudah ya mempunyai gedung sekolah baru, butuh pengorbanan yang luar biasa” Muhajir tiba-tiba datang menimpali dengan jaket sudah terpasang bersiap untuk pulang “kita kuat karena bersatu, salut dengan persahabatan kita” tambahnya dengan seyum mengambang.

“Saat Pak Toni menendang pak Harto katanya kamu dibelakangnya ya fren gimana ceritanya?” tanya Nuno mengingatkanku pada kejadian dua hari yang lalu.

Siang itu kita bersama-sama pulang dari sekolah. Nuno tidak ada diantara kami  karena lagi kurang sehat di kosan. Dari sekolah kita berjalan beriringan. Kepala sekolah berada di baris paling depan, aku dan bak Sri di belakangnya diikuti guru yang lain di belakangku. Semua berjalan wajar-wajar saja, sampai di depan SDN Gayam 5 Toni bersama istrinya datang daro arah barat juga sedang pulang dari sekolah. Saat berada di samping pak Harto, tiba-tiba mereka berdua menendang pak arto yang sedang menyetir di depanku. Aku menjerit histeris melihat langsung kejadian itu, untungnya pak Harto masih bisa mengendalikan motornya walau sempat terseok-seok. Setelah melakukan aksi itu, mereka langsung tancap gas kabur.

“kenapa pak?” tanya pak Muhajir saat kami mengentikan motor.

‘Tidak apa-apa, tidak usah terpengaruh. Yang penting semua baik-baik saja” kata Pak Harto menenangka Pak Zainal yang endak mengejar Toni. Ketakutan dimulai lagi setela lebi dari 2 minggu tak ada kabar tentang Toni, kini dia mulai beraksi lagi. Terang-terangan menendang kepala sekola di keramaian. Tapi pak Harto tidak terpancing, dia meminta kita tetap tenang dan tidak perlu melawan. Kamipun mengikuti perintahnya dengan tetap tenang. Sampai di dekat kosan, terlihat kerumunan orang yang sedang ramai. Aku coba melihat apa yang sedang terjadi, ternyata pak Zainal sedang memukul Toni yang tergeletak dibawahnya. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kawanku memukul Toni tanpa ampun, lalu kembali ke arah motornya dan memacu kearah timur, Toni meringis kesakitan namun tetap berusaha mengejar Pak Zainal dengan motornya.

Aku yang melihat kejadian itu hanya bisa mengelus dada, tidak ada yang melerai insiden pemukulan itu. Mereka seperti tercengang saja melihatnya.

“kenapa tidak dilerai pak?”ujarku pada pak Kosim tetanggaku

“Pak Toni yang memulai duluan bu. Dia mencegat pak Zainal dari barat lalu memukulnya sekali. Pak Zainal lalu menangkis tangannya dan memukul balik” kata pak Kosim menjelaskan. Aku hanya mengangguk saja, dalam hati bersyukur bukan pak Zainal yang memulai. Selepas itu, pak Zainal langsung menuju kantor polisi dan melaporkan  kasus pemukulan yang dialaminya. Nah, jadi Pak Toni akhirnya membuat perjanjian hitam diatas putih yang salah satu pointnya juga menyatakan bahwa dia akan berhenti melakukan intimidasi dengan semua guru di kalowang V dan menganggap masalah mobiler selesai.

“begitu fren ceritanya” kataku mengakhiri cerita pada Nuno, Pak Sahrimo sang penjaga sekolahku ikut menyimak saat aku bercerita.

“Ada lagi berita yang akan bikin kamu keget fren” kata Nuno

“Apa?”

“Kemarin Toni ditangkap di Kalianget, kasus penadah mobil curian. Tapi dia berhasil kabur. Sekarang dia buron” jawabnya yang membuatku berbinar-binar.

“Serius ini? kok di kosan gak dengar ya ?”

“Ya makanya jangan mendekam terus di kosan, gak tau kalau tetangganya dikepung polisi. Haha” tawa pak Harto lepas, seolah satu beban telah berhasil dilewati.

“Alhamdulillah, semoga kedepannya keadaan kembali stabil fren, kita bisa mengajar dengan tenang. Saatnya kita berbahagia, ya kan pak Harto?” tanya Nuno Pada Pak Harto, kepala sekolah kami. Pak Harto hanya tersenyum dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya.

“Jadi kami boleh pulang nanti malam pak?” Bak Sri yang sedari tadi duduk diatas motorku tiba-tiba meminta izin pulang

“Ya pak, saya juga mau pulang. Mau menyegarkan fikiran” kataku tidak kalah dengan bak Sri.

“Saya dan Nuno juga pak” Muhajirpun ikut menimpali dengan tawa khasnya.

“Jadi kalian mau pulang rombongan gitu?” tanya Pak Harto masi dengan senyumnya.

“Ya Pak, sudah lebih sebulan kita tertahan disini dalam ketakutan. Saatnya kita pulang ya pak” kataku memohon.

“Jangan dikasih pak. Mereka masih janji mau bakar-bakar ikan di rumah” pak Zaifur ikutan nimbrung.

“Tenang saja pak, kami pulang hanya sebentar kok. Urusan bakar-bakar bisa setelah kami balik. Yang penting bukan bakar-bakar gedung sekolah kita yang baru. haha” akhirnya tawa kita lepas setelah sekian lama dicekam ketakutan.

    Ayah, aku pulang....!

Tulisan Terkait

Cerpen 1415712911927854173

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item