Air Mata dan Senyuman

Cerpen: Yuli Coule’

Kanker paru-paru menjadi perantara ibu mengahadap Ilahi. Ibu menderitanya sudah lama. Hasil chek up ternyata menunjukkan stadium akhir.

Hari penerimaan Surat Keputusan (SK) pegawai negeri tiba. Aku melangkah tanpa semangat. Langkahku gontai. Semangatku telah mati bersama kepergian ibu. Entah untuk apa semua ini? Untuk kebahagiaan siapa? Sementara orang yang paling ingin melihat anaknya memakai seragam pegawai negeri dengan lambangnya di dada kiri sudah tiada. Orang yang ingin meyakinkan banyak orang bahwa anak perempuannya si anak petani ini juga bisa menjadi pegawai negeri, telah menghadap ilahi. Gundukan tanah merah masih basah. “Kupersembahkan SK ini untukmu Ibu!” Aku bersimpuh di pusara mu.

Sudah dua kali aku mengadu keberuntunganku dalam tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di kotaku, tetapi sekali lagi hasilnya selalu tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Namaku selalu tidak ada di papan pengumuman. Semoga  kali ini lolos.

Awal bulan November adalah pengumuman hasil ujian tes Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah, semalam suntuk aku tidak bisa pejamkan mata, berharap pagi segera tiba dan segera ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD, sekarang bernama BKPPD) untuk melihat pengumuman. Aku yakin sekali namaku akan dipajang di papan pengumuman itu. Aku yakin mampu mengerjakan soal ketika ujian.

Susah sekali melihat papan pengumuman karena semua orang berebut tempat memastikan nama mereka ada. Berbagai ekspresi terlihat di wajah mereka usai melihat papan pengumuman. Jika wajahnya berseri, sumringah tentu kabar baik pasti menjadi milik orang itu. Sebaliknya jika murung, tidak menyungging senyum sedikit pun, dipastikan namanya tidak ada di deretan orang-orang yang diterima. Jantungku berdetak semakin tidak teratur, tanganku anyep. Setelah berhasil menembus kerumunan orang, kucari formasiku, kupastikan tidak ada yang terlewat. Kuulangi lagi sampai tiga kali untuk meyakinkan diri bahwa penglihatanku tidak salah. Tubuhku terasa berat, mataku berkunang-kunang ketika keyakinanku harus patah. Namaku tidak ada di deretan orang-orang yang beruntung itu. Kucoba untuk duduk dan menata napasku untuk kembali teratur. Aku tidak ingin orang-orang menertawakan kegagalanku. Langkahku mulai gontai. Aku berusaha menahan buliran air mata ini untuk tidak jatuh.



“Ibu, maaf, aku gagal lagi,” seruku dalam hati. Ini kali ketiga aku mengadu nasib dalam tes     CPNS. Apakah benar bahwa mereka yang lulus adalah orang-orang yang memiliki ‘orang dalam?’
Entah apa yang akan kukatakan pada orang-orang rumah. Aku tidak mampu menatap kekecewaan di wajah ibu yang sudah memberikanku sejuta keyakinan bahwa aku pasti lulus. Aku memilih untuk berhenti di sebuah tempat yang lumayan sepi. Aku menangis sepuasnya. Entah mengapa harus menangis, tapi dengan menangis perasaanku lega.

Aku pulang dengan mata sembap, tanpa banyak bicara . Ibu paham betul dengan yang kualami. Beliau hanya memelukku sambil mengelus rambutku dan berkata:

“Allah Maha Perencana sayang, masih belum waktunya!” Tangisku memecah. Ibu selalu berhasil mengembalikanku pada satu keyakinan. Ia pupuskan keputusasaanku.

Siang itu, aku baru saja melepas lelah setelah seharian bersama anak-anak didik di sekolah. Aku bahagia, setidaknya aku tidak menganggur setelah gelar Sarjana kuperoleh dari Universitas Negeri Malang. Itu sudah cukup untukku. Meski gajiku tidak seberapa, tapi melihat ibu tersenyum bahagia itu sudah amat cukup untukku.

Di luar seperti ada orang memanggil-manggil. Dengan setengah terpaksa aku pun keluar untuk memastikan siapa yang datang. “Bu Lian, ada surat!” Pak pos memberikan sebuah amlop berwarna coklat.
Segera kubuka surat itu dengan sedikit tergesa-gesa, karena penasaran. Mataku terbelalak membaca perihal surat itu.

 “Pemanggilan CPNS?” Tanyaku setengah berteriak.
“Apakah surat ini tidak salah alamat?” Kembali aku bertanya. Sekali lagi kubaca tujuan surat itu, nama, dan alamat memang tertuju padaku.
“Mana mungkin. Bukankah pemberkasan untuk CPNS sudah sebulan yang lalu? Atau tanggal surat ini sudah kadaluarsa?” kembali kulihat tanggal surat itu.

Sepertinya tidak. Aku jadi bingung.

Hari ini Tuhan mendengar doa ibu. Surat pemanggilan itu membuktikannya. Aku tidak ingin membuang waktu. kuambil motorku segera melaju ke BKD untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku. Aku langsung menemui sekretaris BKD, Pak Carto. Aku hanya ingin bertanya dan meminta penjelasan tentang maksud surat yang kuterima.

Ia menjelaskan bahwa dari formasi 7 orang jurusan Bahasa Indonesia, satu orang mengundurkan diri dengan alasan tertentu. Aku berada di ranking 8. Oleh karena Kabupaten Sumenep memiliki banyak pulau kecil, mengabdikan diri di kepulauan minimal lima tahun. Itu menjadi harga mati kecuali bagi ‘orang-orang khusus’ tentu akan mendapat perlakuan yang khusus pula. Kucoba untuk mencubit lenganku sekeras mungkin. Aku serasa bermimpi. Aku tidak bisa menahan air mata. Wajah ibu kembali melintas. Dalam tiga hari aku harus melengkapi berkas-berkas, perintah Pak Carto.

Ibu, doamu diijabah Allah ibu, batinku. Tidak dapat kujelaskan perasaanku kala itu. Masih antara percaya dan tidak percaya. Seperti bermimpi rasanya. Sebulan lagi aku akan menerima SK CPNS? Ya Allah benar kata orang-orang bahwa rejeki tidak akan tertukar.

Dari halaman rumah aku berteriak sekeras mungkin memanggil ibu kemudian memeluknya sambil menangis . Dalam pelukan itu kualirkan kabar kebahgiaanku.

“Ibu doamu Ibu! Usaha dan tirakatmu di jawab oleh Allah! Terima kasih Bu!” Kuciumi wajahnya yang tampak tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi padaku.
“Ibu, satu bulan lagi anakmu ini akan diangkat menjadi pegawai. kuhapus anggapan orang bahwa dheemma keya jak anakna reng bungkalaan ta’ kera daddi apa keya. Anak petani tidak bisa menjadi pegawai.”

Kulihat air mata ibu tidak terbendung. Detak jantung ibu tak beraturan. Ia tak bisa berkata apa pun. Pelukannya semakin erat.

Aku tak terbiasa menunggu lama. Satu bulan terasa sangat lama. Kapan waktu itu akan tiba? Ketika namaku akan disebut bersama ratusan orang yang lain  dan dinyatakan sebagai CPNS Kabupaten Sumenep, saat itulah air mata dan senyuman dimulai.

Belakangan kulihat ibu agak kurang sehat. Sesak napasnya sering kambuh. Ia memang punya riwayat sesak napas, tapi selalu menolak kalau aku ajak berobat ke dokter. Ibu tidak pernah mengeluh. Ia lebih memilih untuk berobat secara herbal, memanfaatkan tanaman obat keluarga (toga) yang ada di pekarangan belakang.

 Akhirnya ibu tak sanggup menolak dan segera dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya sangat lemah, Ia tak sadarkan diri. Selama perjalanan aku dan abah sangat panik.

Selama di rumah sakit, ibu tidak pernah sedikit pun mengeluh. Acapkali aku memandang wajahnya saat terlelap. Dalam kondisi lemahnya, masih tampak ketangguhannya. “Semoga cepat sembuh, Bu! Saat SK kuterima akan kupersembahkan untukmu, Ibu,” sembari ku kecup keningnya.

Seminggu sudah kami berada di rumah sakit. Ibu belum juga menunjukkan perkembangan. Sudah tiga kali ibu melakukan operasi kecil. Ada cairan pada paru-parunya yang harus dikeluarkan. Itu yang menyebabkan ibu sesak napas. Setiap kali disedot ,  cairan berwarna kuning mengisi dua botol besar hingga penuh. Botol ketiga berwarna agak kemerahan, menyerupai darah.  Sesekali kulihat ibu menahan rasa sakit. Terlihat jelas rasa sakit itu dari kerut wajah dan mata yang terkadang berkaca-kaca. Setiap kali kutanya, Ia hanya menjawab dengan senyuman. “Aku sudah mulai tidak betah berada di sini, aku kangen rumah!”

Kami pun membawa pulang ibu. Ternyata Selama di rumah kesehatan ibu semakin memburuk. Tubuhnya yang gemuk semakin kurus. Nafsu makan beliau pun menurun. Ia  sering tersengal-senggal.
Siang itu, aku harus meninggalkannya untuk mengambil hasil medical chek up  di rumah sakit. Aku menemui dokter untuk mengetahui apa sebenarnya penyakit yang diderita ibu. Aku berharap semua akan baik-baik saja.
Jantungku serasa berhenti berdetak ketika dokter menyampaikan hasilnya. Telinga kututup agar tidak mendengar apa pun lagi penjelasannya. Pipiku sudah basah dengan deraian bulir air. Dadaku sesak seperti tak ada lagi udara.
Aku tidak percaya dengan apa yang terjadi pada ibu. Selama ini ibu tidak terlihat sakit seberat itu, tidak pernah mengeluh apa pun.

Dokter itu pasti salah! Hasil tesnya pasti tertukar dengan orang lain. Bagaimana ia bisa menyimpulkan bahwa ibu hanya akan bertahan dalam waktu lima belas hari? Dia bukan Tuhan, hanya manusia! Hanya Tuhan yang bisa mengetahui kapan kita akan mati.

Aku tidak ingin pulang dengan mata sembab. Ibu pasti khawatir dan akan bertanya tentang hasilnya. Aku tidak pernah bisa berbohong dan menyembunyikan apa pun darinya. Entahlah. aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Keterangan dokter masih terus mengiang di telingaku. Kalimat yang paling kuingat dari dokter adalah

“Sabar ya, teruslah berdoa dan buat ibu ceria, selalu tersenyum, di depannya”.

Semakin hari kesehatan ibu semakin menurun, ibu tidak pernah mau lagi opname. Ia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Aku sering menghindar karena aku tidak bisa sembunyikan kesedihan dan mataku yang selalu saja berkaca-kaca. Sekali lagi aku hanya tidak ingin menambah kekhawatirannya.

Malam itu, ibu batuk panjang. Sesaknya semakin menjadi dan sampai muntah darah. Ibu tidak sadarkan diri. Kami melarikannya ke rumah sakit. Dalam keadaan panik seperti itu, aku masih ingat selalu membisikkannya nama Tuhan. Hanya kepasrahanku kepada Tuhan yang mampu menghiburku.

“Ya Allah, apa pun yang terbaik untuk ibu, hamba ikhlas.” Aku memang tidak ingin kehilangannya, tapi aku lebih tidak kuat melihat kesakitan yang ia derita. Aku yakin ibu menahan sakitnya hanya tidak ingin membuat anak-anaknya khawatir.
Ternyata perjalanan itu adalah perjalanan terakhirku bersama ibu, sebelum sampai di rumah sakit ibu menghembuskan napas terakhir sambil menyebut “Allah” dengan air mata disudut matanya dan di genggaman tanganku.

*************
Terkumpul dalam  "Antologi cerpen Layar Berselimut Maut"

Yuli Coule’ (Yulianti) adalah guru SMP Negeri 1 Dasuk, Sumenep

Tulisan Terkait

Cerpen 4254866649075702771

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item