Tidak Selalu "Siapa", Tapi "Apa" dan "Bagaimana"

Seperti problem sebelumnya, mengahadirkan orang-orang dalam sebuah acara sastra memang tidaklah semudah dibayangkan. Acara sastra atau dunia menulis lainnya kerap dianggap sesuatu yang “kurang menarik” dan bahkan “tidak ada artinya” menghadiri acara tersebut dibanding acara pesta atau hajatan lainnya.

Hal ini juga terjadi ketika dilaksanakan acara Peluncuran dan Apresiasi Buku “Siti dan Peri Gigi” karya penulis cilik dari SDN Kapedi I Sumenep,  50 kursi yang disediakan tampak tidak terpenuhi semua.  Hal ini tentu bukan sesuatu “masalah”, memang dikatakan awal, tradisi menghadiri acara-acara apresiasi kerap kurang banyak menarik.



Acara ini tentu akan menarik bila yang menjadi sorotan “SIAP”, bukan “apa” dan “bagaimana”. Sebab “Siapa” sebagai nama;  memang diakui mempunyai nilai jual tinggi, dibanding konten atau materi itu sendiri.  Tapi bukan berarti tanpa  “siapa” sebuah acara akan gagal, sama sekali tentu tidak, karena dari sisnilah menjadi filter, atau terjadi audience pilihan yang berdasarkan niat dan kesukaan,  buka karena “keterpaksaan”.



Tapi bagaimanapun Rumah Literasi Sumenep dalam kondisi macam ini sangat puas, minimal yang hadir pada acara peluncuran buku merupakan keterwakilan dari beberapa unsur, latar, (guru, siswa, wali murid, komunitas dsb) dan sadar akan manfaatnya. Terbukti sampai akhir acara tidak satu tamu pun meninggalkan ruang pendopo kecamatan Bluto.

Nah.

Tulisan Terkait

Ekspresi 6621871543726137955

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item