Sajak-sajak Fendi Kachonk

Perempuan di Ladang Jagung


Ia tak lagi datang ke ladang jagung, di belakang danau. Dulu tempatnya menyepih segala sedih jadi benih bijian yang ia tanam. Hembusan angin serta kicau burung sangat akrab kala senja menitipkan pesan malam untuk segera merapikan mimpi yang belum pulang ke peraduan.

Anaknya, mata yang setengah sadar berbinar dari balik pohon kedondong, di mana hujan mencecap kerinduan ranting yang kini juga seperti malaikat kecil. Tumbuh menjadi sulbi pada kisah sepanjang jalan menuju hari yang begitu cepat tanpa menyisakan cerita kecuali kenangan.

„Segeralah tidur sebelum sirene itu kau dengar, nak! Akan ada gambar purnama dalam mimpi, sedang televisi akan mengajakmu lupa pada masa dan tanggal dari orang tua yang memberimu nama.“

Ia kalungkan tangan ke leher, mengeja atap kamar, kecupan kecil di kening masih membekas, dalam kekalutan detik jam yang memburu dadanya. Lubang-lubang yang serupa tebing saat malam melalui tepian kisah di ujung batas. Antara rindu dan pergi. Antara cinta dan kepiluan.

Tibalah, pada wajah di dinding yang tersenyum. Hidung yang tak mancung juga tak sebaliknya, senyum yang begitu mahal dan krah baju yang dibiarkan tak rapi. Ia mengalunkan hujan, suling lembah memantul dari tebing jiwanya. Sedang jagung di lumbung makin tipis, setahun dalam duka, sebulan penuh siksa, sehari anak-anaknya ada di atas piring menari-nari.

“Ladang jagung, kekasihku, anak-anak yang belum tahu menunjuk matahari juga masa depannya, nanti mau jadi apa?”

Moncek, 201014.

Romansa

Bila nanti pagi datang
dan tak lagi ada aku
di dekat bantal guling
Selembar surat melati
kuletakkan sebagai ganti
Aku tiada lagi
di sini aku pulang
dengan pesan
Merpati pasti terbang
matahari pagi lagi
daun akan hijau
daun akan gugur
Aku tak kembali
jangan pernah lagi
kau cari.
Moncek, 140515

Di Kampung Yang Lain

Orang-orang melupakan satu hari, satu malam,
satu bulan serta tahun. Mereka cuma sibuk
memperbaiki selokan-jalan, melupakan
nama-nama segala persimpangan.

Orang-orang tak mengingat waktu,
tak mengingat nama hari, hanya gemar
dengan acara, mengajari anak-anak mampu
berkidung seperti burung, meniru peluit angin
dan menghafal letak serta alamat bintang.

Tak ada pertengkaran, satu sama lain
menjadi gunung dan menjadi laut yang lain
bagi tubuh yang lain, menjadi gema yang riang,
bernyanyi, sambil meniru goyang ilalang.

Tak ada bunyi lonceng, tak ada jam dinding,
setiap saat hanya nada; desau angin,
gemeretak ranting kering; hela napas
daun-daun yang bersiap tumbuh.

Pun tak ada kecurigaan, tak ada semi
hanya senyuman melahirkan semua senja:
beranak-pinak sepanjang jalan yang lain.

Tubuh Yang Lain

Adalah pelataran musim
yang membelah dada hujan
juga kemarau sempat aku bagi

Seperti di halaman yang lain
semi menuangkan teh ke gelas
tapi dingin selalu membuangku

Aku menjadi belahan yang lain
melintasi lautan dan gunung
memecah hening di kening;

Ingatan berhenti, di depan pintu
seorang anak memelas air minum
dari tubuh; dari susu yang lain

Sedang kegetiran serupa lengan
disandera ketakutan-ketakutan
menjelma cemas; bergelung lapar

Di ruang itu, kupinjamkan lagi
sekendi luka dibuat dari lempung;
kau tahu, itu tubuhku yang lain

Tamu Tengah Malam

di dalam dirimu, aku melihat diriku
mengecil di pojok ruangmu, tempat bacamu
dan kau melihat dunia dari lubang jendela;
aku mengutus angin, membelai rambutmu
sambil mungkin aku berujar, aku datang
dari derit pohon bambu atau dari ilalang
sekitar kau akan menuliskan lagi, puisi
tentang hidup, keindahan; hutan-hutan

sementara aku, menepi jadi aksara-aksara
memasuki ruang pikiranmu lalu menjelma
sebentang kenangan, di suatu taman tua
kala itu hujan datang, dan dirimu juga ada
di sampingku membetulkan lagi jaketku
sambil terus berlarian ke pinggir jalan
mencari angkutan untuk membawa tubuh

sekarang apa yang kau ingin tuliskan?
sebentuk prosa yang lerai di tengah gulita
atau semacam luka yang tak nemu obatnya
ah, sudahlah, aku melihatmu, di mataku
dan mataku telah menjelma pantai; lautan
tentangmu yang buru-buru menutup pintu.

061116

Amsal Luka

1/
Mestinya tak ada tangisan
sebab sedu sedan milik hujan;
kakimu terus menjadi kompas

Mestinya tidak ada lagi lagu
sebab rima gema milik gerimis
tangis tak ada yang menentu

Sesaat kau berpikir berapa sakit
di sekujur tubuh, hitam akan menua:
peta berbaring dan meminta langit

2/
Kau pun bertanya pada kenyataan
betapa seramnya sebuah tikaman
berapa perih seluruh irisan sepi

Tapi, kau percaya tuhan masih ada
untuk sekadar berbagi cerita malam;
nunjuk bintang untuk mengirimmu

Kepada goa yang berisi kekosongan;
kau tak rela berbagi dengan siapapun
kecuali pada bayanganmu, sendiri

***

Fendi Kachonk, lahir dan menetap di Desa Moncek, Kecamtan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Aktif di Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ), Forum Belajar Sastra (FBS). Dua komunitas yang didirikannya. Karyanya, berupa esai, dan puisi-puisinya kerap dimuat diberbagai media lokal dan Nasional dan di beberapa antologi bersama seperti: Sandal Kumal (2011), Indonesia Titik 13 (2012), Istana Air (2014), Hujan Kampoeng Jerami (2014), Memo Untuk Presiden (2014), Titik Temu (2014), Benale Sastra DKJT (2016). Dan, buku tunggalnya, Lembah Kupu-kupu (2014), Tanah Silam (2015), Surat dari Timur (2016), dan Halaman yang Lain (2017). Kini mukin di kampung kalhirannya.

Tulisan Terkait

Puisi Pilihan 5852086589624901280

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item