Puisi-puisi Religi Mayvita Nur Faizah

Bangkit

Detik alunan jam dinding mulai berdetak
      terbuai desir angin landai gemulai
           tak dapat diriku fikirkan apa yang terjadi
                masa ke masa

Dulu mereka siap berkorban demi negeri ini
      dan kau hanya bisa tertawa
           Mereka siap kehilangan orang dicintai
                bagi kau ini hanyalah cerita belaka

Negeri ini tak lagi sama,
         negeri ini hanyut
              Singa-singa mulai bermunculan,
                    memusnahkan negeri untaian jamrud

Ya Baa’its…
      sampai kapan kan terus terjadi?
             bangkitlah wahai Indonesiaku
                  bangkitlah… kobarkan jiwamu

“Allahu Akbar”

Waktu

Sang surya mulai menyinari bumi
Burung kecil bersahutan menambah indahnya anugerah-Mu
Hingga tampak keagungan Maha Pencipta

Sang waktu membelah dunia
Angin berhembus dari masyriq menuju maghrib
Beribu rintangan di hadapan diri, bak samudera penuh ombak

Sampai,
Puncak skenario dunia datang
Gambaran manusia terpampang nyata
menyesali perbuatannya

Kerikil Dosa

Langkah kaki manusia berayun berirama
Teriring sinar cahya-Mu menembus ruang dan waktu
Seolah diri-Mu menghampiri diriku

Gemerlapnya dunia membius sukmaku
Beribu cara ku lakukan demi harta berhamburan.
Hingga kelalaianku memuncak ketika kau datang
merampas segalanya

Berjuta dosa terpendam dalam jiwa raga
menjadikan dunia bagai musuh terbesar
lantaran diriku jauh dari perintah-Mu

Kala akhirat menunggu nyawaku
tersadar amal salatku tak lagi cukup membayar dosa-dosaku

Allah,
dalam hening ku menggapai-Mu
Engkaulah dzat penggenggam jiwa
pembolak-balik hati manusia

Ya Tawwab…. Ya Muntaqim….
jangan Kau sesatkan diriku
menjauhi petunjuk-Mu.
Genggam jiwaku menuju firdaus bersama ridha-Mu

Rindu Kasih-Mu

Wajah-Mu terbayang dalam sukmaku
Dosa-dosa merasuk jiwa raga,
melambangkan kekufuran

Dalam mimpi,
ku bersujud menghamba pada-Mu.
Berbalut kain putih,
ku membaca ayat-ayat-Mu

Sadar diri mengubah hatiku
Samudera kasih-Mu sirami dosaku

Mengais diri-Mu tak kunjung padam
Sungguh merindu kasih
dalam lembar penghambaan

Penantianku dengan-Mu
Aku terdiam terpaku
meratapi luasnya angkasa
menetas lepas dari empedu kehidupan
melepas cercaan dunia.
Laksana embun penyejuk cahaya kehidupan
menanti-Mu dalam sujud sembahyang
kalimat suci, ku lontarkan ikhlas
menggapai ridha-Mu.
Kau-lah penggenggam dunia
Harapanku atas-Mu terus muncul,
tak kuasa isak tangis di sepertiga malam-Mu
mengalir laksana deras alir sungai.
Ya Ghafuur,
jauhkan kulitku dari api-Mu,
penantian-ku dengan-Mu
ibarat galaksi tak berujung.


Nyadar

Semburat jingga memayungi senja
di antara awan-awan putih
semilir angin pun mulai terasa
mengikuti alur cerita

Asap dupa meliuk seirama api suci
membakar asa nan membara
selaksa panjheng berselimut tangghi’
dalam nuansa kaoman
bubur lima warna

Keindahan bulan purnama turut menyaksikan
perahu berlayar di atas gelombang laut,
bak hiasan malam petang.

Pamor kemilau abinan menambah kesakralan
Keampuhan kodhi’ perangsang,
perlambang pengendali perang
tak gentar menghadang lawan

Layang Jati Sampurnaning Sembah
Layang Jati Suara

meresap
menelusuk
jiwa penuh makna

Lontaran ikhlas kalimat suci
menanti ridha kemuliaan
menyandarkan asa nan harapan

Anggasuto …..
jasamu takkan terlupa
kau tunjukkan kuasa Ilahi
kau harta budaya kami
takkan lekang dimakan waktu
___________________________
panjheng    : piring besar terbuat dari tanah liat sebesar talam
tangghi’    : alat penutup panjheng yang terbuat dari anyaman daun lontar
abinan dan kodhi’ perangsang : senjata Anggasuto
Layang Jati Sampurnaning Sembah dan Layang Jati Suara : kalimat yang ditulis di daun lontar sebagai pedoman Anggasuto dalam berperilaku sebagai hamba Allah SWT.


Jeritan Hati di atas Noda Hitam

Hariku berlalu laksana batang air
menuju luasnya samudera raya
riak gelombang menerpa menguji jiwa
kadang keras menghantam
kadang tenang membuai
mengalunkan  irama dan tarian gemulai

Gemerlap dunia membius sukmaku
terukir kebahagiaan semu
di balik fatamorgana
lupakan makna nirwana
terjebak ilusi buana

Derap kaki, desiran nafas
selubungi noda terpendam
hingga kelalaianku memuncak
ketika kau datang merampas segalanya

Aku terdiam terpaku
menatap luasnya angkasa
meronta dalam  tangis purnama
gemetar meniti tabir kelam

Wahai diri!
berjuta dosa terpendam mengeluti jiwa
cambuk impian seakan jadi hantu
makin buta lepas akan  kebesaran-Mu

Betapa busuknya hidupku di hadap-Mu,  ya Jabbar
dan masih akan membusuk lagi.
Betapa kecilnya diriku dengan kuasa-Mu, ya Mutakabbir

Kasih-Mu hitam putih merah
merasuki sukma merayapi titian nurani

Ya Ghafur
dalam hening ku menggapai-Mu
Kau-lah dzat penggenggam jiwa
pembolak balik hati manusia

Ya Tawwab Ya Muntaqim
jangan sesatkan diriku
menjauhi petunjuk-Mu
genggam jiwaku
menuju firdaus bersama Ridha-Mu

Ya ‘Aziz Ya Ba’its
pada-Mu aku  mengemis
malam-malam ku lalui penuh tangis
mengejar asa takkan pernah kikis

Akankah Dikau mengampuni diri naif nan najis?

_______


Mayvita Nur Faizah, akrab dipanggil Meyza, lahir di Sumenep, 19 Mei 2003. Kini masih duduk di kelas: IX-5/, SMP Negeri 1 Sumenep.  Puisinya yang berjudul “Nyadar” diikutsertakan pada LS2N tingkat Jawa Timur, sedang puisi yang berjudul "Sandur Panthel"  terpilih sebagai puisi terbaik antar SMP/MTs se Kabupaten Sumenep versi MGMP Bahasa Sastra Idonesia. Mayvita adalah putri  Bapak Eddy Budyartha, dan   Afiatur Rizkiyah aktifis Rumah Literasi Sumenep


Tulisan Terkait

Kolom Aja 5919422657518841479

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item