Pendidikan Dalam Perspektif Pemberdayaan

Syaf Anton Wr 


Pasangan suami istri, Jonh Nasibitt dan Patricia Aburdene, pernah mencatat dalam buku yang best seller  Mega Trend 2000, bahwa “Tepi Asia Fasifik” telah memperlihatkan kepada semua orang bahwa suatu negara miskin pun bangkit. Bahkan tanpa sumber daya alam yang melimpah, asalkan, negara yang bersangkutan melakukan investasi yang cukup dalam sumber daya manusia. Maka terobosan yang paling menggairahkan dari abad ke 21 akan terjadi bukan karena teknologi, melainkan karena konsep yang meluas tentang apa artinya menjadi manusia itu.

Berangkat dari apa yang diungkapkan oleh Naisbitt dan Aburdene, lalu bisa saksikan Jepang sebagai contoh kongkritnya. Jepang tampil dalam percaturan kemajuan teknologi dan ekonomi dunia, bukan tergolong negara yang kaya sumber daya alam. Tetapi Jepang yang menderita kekalahan dalam Perang Dunia II adalah termasuk negara yang mampu membangun maupun memanfaatkan sumber daya manusianya.

Bagaimana Indonesia?. Bila dicermati langkah-langkah yang ditempuh oleh Pemerintah dan bangsa Indonesia selama proses pembangunan – pembangunan merupakan program yang tak akan selesai – sejak Orde Baru yang dikemudian dikenal dengan istilah Repelita, sampai saat ini, sesungguhnya telah diupayakan melalui pembenahan-pembenahan  dan pembangunan secara besar-besaran dan “berhasil”.

Namun pertanyaannya sekarang, apakah pembenahan dan pembangunan pendidikan yang dilakukan selama ini sudah mampu menjadi sebuah institusi / lembaga yang melakukan proses pemberdayaan ?. Ketika menempatkan pendidikan sebagai proses pemberdayaan, maka mau tidak mau harus dilakukan refleksi filosofis tentang hakikat manusia. Pertanyaan ini memiliki implikasi bagi pengembangan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik dan ideologi.

Penempatan manusia sebagai titik sentral tidak berarti bahwa pengaruh dan tuntutan masyarakat beserta lengkungannya sama sekali dilepaskan. Sebab antara manusia dengan masyarakat serta lingkungan ada dialektika yang terus menerus, satu dengan yang lain saling mempengaruhi. Maka dalam konteks ini pendidikan berfungsi sebagai wacana interaktif antara manusia dengan lingkungannya, dengan kata lain, konsep pendidikan dalam kehidupan masyarakat adalah perubahan. Maka dengan mendekatkan  dengan mendekatkan pendidikan terhadap masyarakat, diharapkan manusia yang dihasilkan dari pendidikan mampu berada dalam posisi sentral dalam perubahan yang terjadi dan mampu pula mengarahkan serta mengendalikan perubahan., pendidikan seperti inilah yang barangkali memiliki perspektif pemberdayaan

Untuk menjawab  perspektif diatas, tidak sekedar bagaimana memahami pendidikan sebagai bentuk, tapi dalam pendidikan harus mampu menjawab persoalan-persoalan masa yang akan datang. Untuk menjawab persoalan tersebut tentu diperlukan intensitas dan gerakan yang mengarah pada kualitas pendidikan.

Sedang pemahaman “kualitas” sendiri dalam dunia pendidikan kita masih dipahami setengah-setengah. Artinya, untuk mencipta kualitas kerap dihambat oleh persoalan-persoalan internal, yaitu tidak konsistennya metode pengembangan pendidikan dalam menterjemahkan kualitas pendidikan. Sedangkan secara eksternal, prasyarat  untuk mencukupi kebutuhan perangkat pendidikan masih selalu mengitari persoalan-persoalan klasik, yaitu kurang adanya dukungan anggaran yang memadai , sehingga mengakibatkan pola pengembangan pendidikan terjebak pada konsep. Pertanyaannya sekarang, sejauh mana lembaga-lembaga pendidikan mampu merekam dinamika kebutuhan masyarakat serta mengemban dirinya secara memadai?

Sebagaimana terjadi di negara-negara berkembang umumnya, selalu dihadapkan problem kualitas, sementara lembaga pendidikan sebagai tumpuan akhir tampaknya masih saja dihadapkan persoalan-persoalan lama. Demikian pula pada problem kuantitas sampai saat ini juga masih belum tuntas, yaitu yang menyangkut buta huruf, kebodohan, dan keterbelakangan merupakan bagian penghambat menuju pendidikan berkualitas yang diharapkan. Sedang yang terjadi, pengelola pendidikan masih belum mampu mengembangkan ilmu-ilmu baru, kecakapan-kecakapan baru dan sikap hidup baru. Pendidikan masih terbatas pada pemberian daya tahan dan sikap positif terhadap perubahan.

Menarik sejarah kebelakang, sekitar tahun 70-an berkembang konsepsi-konsepsi  baru tentang pembangunan, misalnya pembangunan yang terpadu yang bertumpu pada manusia (integrated development based on man) yang diaksentuasikan lagi oleh peningkatan permintaan masyarakat akan kesempatan pendidikan, maka kebijaksanaan pendidikan yang menonjol adalah demokratisasi pendidikan dan pendidikan sepanjang hayat (life long education), yaitu pendidikan harus terbuka bagi seluruh masyarakat serta mereka berhak pula menikmati hasilnya dan bukan hanya terbatas pada elite yang mendapat privilege untuk dididik.

Implikasi dari perkembangan wawasan tersebut, yang kemudian berdampak pada pola keterkaitan perkembangan bangsa, ketika itu dimunculkan pertanyaan-pertanyaan:  - Bagaimana hubungan pendidikan dengan dunia kerja?; - Bagaimana memelihara kualitas pendidikan  mampu  melayani permintaan akan kesempatan untuk pendidikan yang meningkat secara eksponensial, dengan mempertimbangkan perkembangan peradaban serta spisialisasi yang lebih tajam?; - Bagaimana pendidikan dapat tetap dipelihara  relevansinya dengan perkembangan sosial ekonomi?. Tampaknya konsepsi tersebut, terulang kembali sebagai pertanyaan baru yang hampir tidak ada perbedaan dengan apa yang terjadi sekarang ini.

Telah disadari, bahwa perkembangan pendidikan pada umumnya adalah resultan interaksi yang kompleks di antar pendidikan dengan berbagai sektor kegiatan masyarakat: ekonomi, politik, dan penghidupan sosial atau kebudayaan. Dan dapat diduga bahwa peran pendidikan yang akan datang akan menjadi lebih kompleks karena beberapa masalah masyarakat kontemporer makin meningkat dan kepentingannya makin menjadi universal; dan ini dianggap sebagai masalah dunia (world problem); pemeliharaan perdamaian; keamanan internasional; berbagai aspek perkembangan sosial dan kebudayaan (seperti pemberantasan kemiskinan, kesenjangan sosial, industrialisasi); kontrol tentang kemajuan dan perkembangan Iptek; proteksi dan pemeliharaan lingkungan; energi; pengangguran; perjuangan untuk menghadapi kelaparan; diversifikasi lahan, dan problem umum lainnya.

Sekarang dan selebihnya,  tergantung bagaimana konsepsi pendidikan Indonesia bukan sekedar menawarkan, tapi bagaimana mampu memberikan kebutuhan  masyarakat sebagaimana landasan menuju manusia Indonesia seutuhnya, yang cerdas dalam konteks kemajuan.

Tulisan Terkait

Asah Literasi 8613820406987058337

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item