Merangkai Kata, dalam Puisi Mantra

S. Herianto

Kata mantra berasal dari sansekerta dari kata "mantra" atau "manir" dalam kitab Veda, yaitu kitab suci umat Hindu. Dalam masyarakat nusantara, mantra dikenal sebagai serapah, jampi atau seruan.

Mantra merupakan kumpulan kata-kata yang dipercaya mempunyai kekuatan mistis. Mantra digunakan atau diucapkan pada waktu dan tempat tertentu yang bertujuan menimbulkan suatu kemampuan tertentu bagi orang yang menggunakan atau mengucapkan mantra tersebut.

Mantra umumnya didalamai dan dikuasai oleh orang-orang tertentu, seperti dukun atau pawang. Di nusantara mantra digolongkan ke dalam karya sastra bergenre puisi. Ia termasuk dalam puisi-puisi lama. Salah satu alasan mantra dimasukkan ke dalam kesastraan lisan Indonesia adalah karena bahasa mantra berirama dan sangat indah.

Bagaimana ciri-ciri puisi yang tergolong ke dalam mantra? Mantra terdiri atas beberapa rangkaian kata yang memiliki irama. Isi dari mantra berhubungan dengan kekuatan gaib. Berbentuk puisi yang isi dan konsepnya menggambarkan kepercayaan suatu masyarakat pada saat itu. Mantra dibuat dan diamalkan untuk tujuan tertentu.

Mantra didapat dari cara gaib, seperti keturunan atau mimpi. Atau bisa dijuga diwarisi dari perguruan yang diikuti. Mantra mengandung rayuan dan perintah. Mantra memakai kesatuan pengucapan. Mantra adalah sesuatu yang utuh dan tidak bisa dipahami melalui setiap bagiannya. Di dalam sebuah mantra terdapat kecenderungan esoterik pada setiap kata-katanya. Mantra mementingkan keindahan permainan bunyi.

Mantra memiliki banyak sekali jenis sesuai dengan kegunaannya. Antara lain adalah: Mantra Kedigdayaan, Mantra Pagar Diri, Mantra Pakasih, Mantra Pengobatan, dan sebagainya.

Puisi mantra saat ini tergolong langka. Produksi kreatifnya berbanding lurus dengan langkanya penciptanya. Bagaimana mencipta puisi mantra sehingga dapat menjadi referensi mengisi kekosongan tersebut? Mungkin tidak pada mantranya, sedikitnya serupa dengan mantra Berikut beberapa teknik mencipta puisi serupa mantra yang mungkin bisa dijadikan rujukan bagi penulis puisi berjenis langka ini.



Pada larik pertama 'andai semua orang' ketika mengalami pergeseran morf menjadi 'an daise muaor an.' 'Ta' ditambahkan diambil dari larik kedua untuk menepati bunyi dan ketukan. Menarik, bukan?

Teknik ini sekedar menambahkan kata atau huruf sehingga 'kutatap wajah batinmu' menjadi 'kunta fatapwa yajahba kun tinmu.' Unsur yang ditambahkan adalah kun dan fa.



Teknik removal pada puisi asli di kiri menjadi kanan dengan mengurangi beberapa huruf. 'Bulan sabit mengintip dari celah pelampung' menjadi 'Ulan abit intip ri lah lampung' karena telah mengalami penghapusan huruf.

Demikian beberapa teknik yang dapat ditawarkan. Teknik tersebut berdasarkan beberapa eksperimen. Moga dapat bermanfaat dan menambah khasanah perpuisian mantra di nusantara.

Judul asli: Mencipta Puisi Serupa Mantra (sumber: cocokpedia.net)

Tulisan Terkait

Asah Literasi 8287431102902995088

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item