Menjadi Wartawan, Siapa Takut?

Oleh: Tika Suhartatik

Siapa itu Wartawan?

“ Welcome to the Jungle” (Selamat Datang di Hutan Belantara), begitulah slogan yang pernah saya dengar ketika pertamakali digembleng menjadi seorang wartawan/jurnalis. Ketika sudah ada pernyataan ‘hutan belantara’ sebagai tempat sang jurnalis/wartawan berburu, pastinya kita paham penghuni di dalam hutan belantara itu. 

Binatang-binatang yang terkenal buas, seperti harimau, singa, ular, srigala, beruang dan sebagainya ada di tempat tersebut. Kemudian apa hubungannya dengan kegiatan seorang wartawan? Tentunya yang diburu bukanlah binatang-binatang tersebut di atas, melainkan mereka (baca; wartawan) berburu/ mencari berita/informasi. Ketika jurnalis melakukan pencarian berita, mereka seringkali dihadapkan pada berbagai persoalan yaitu: sulitnya mengorek keterangan dari narasumber yang diperlukan, adanya ancaman dari berbagai pihak yang tidak menginginkan pemberitaan dirinya/ seseorang, adanya “amplop” untuk menutupi pemberitaan, dan masih banyak lagi tantangan yang seringkali ditemui seorang wartawan di lapangan. 

Kalian tertarik untuk menjadi wartawan? Pastikan dulu bahwa itu adalah pilihan hati nurani kalian sendiri, bukan atas perintah atau keinginan orang lain, ataupun juga untuk “mengubah nasib’ agar menjadi kaya. Sebab pekerjaan sebagai wartawan merupakan pekerjaan yang penuh tantangan dan beresiko tinggi, membutuhkan kesetiaan, kejujuran, dan kekuatan fisik, mental serta iman. Pekerjaan sebagai wartawan memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh profesi lainnya secara nonmateri, yaitu; pertama, kaya akan ilmu pengetahuan  karena setiap saat menemui berbagai ragam informasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Kedua, memiliki banyak relasi/ jaringan dari berbagai kalangan, seperti pejabat tinggi di pemerintahan, tokoh-tokoh penting dari berbagai unsur masyarakat, artis-artis, yang dengan mudah dapat ditemui untuk dimintai keterangan/ informasi terkait. Ketiga, kepekaan dalam menulis berita yang kreatif sehingga mampu membantu khalayak untuk mengungkap sebuah kebenaran. Keempat, kemudahan dalam menjalin komunikasi dengan orang-orang penting, baik secara administrasi (misalnya dalam pengurusan izin bertemu dengan pejabat) maupun tatap muka langsung dengan pejabat tertentu. Kelima, kaya akan pengalaman dan ilmu jurnalis seiring jam terbang yang dimiliki seorang wartawan tersebut.

Adapun gaya dan jam kerja seorang wartawan itu tidak kenal lelah, waktu, dan tempat. Sehingga dimanapun dan kapanpun mereka berada tak henti-hentiya memasang mata dan telinga untuk bisa menangkap informasi penting yang bisa dijadikan berita yang layak. Seorang wartawan tidak bisa disamakan dengan orang kantoran yang hanya duduk manis di belakang meja dari pagi sampai sore dalam ruangan yang sejuk ber AC. Mereka hanya bisa sejenak melepas penat saat melaksanakan ibadah dan di sela-sela itu pun mereka dengan sigap menyusun berita yang mereka peroleh selama “keluyuran” di jalan. Waktu bagi mereka sangat berharga, selain mencari informasi sebanyak-banyaknya, mereka juga dikejar deadline untuk bisa segera mengirim berita ke redaksi.

Sebuah prestasi besar dan menjadi kebanggan tersendiri ketika seorang wartawan mampu mencari berita dan menyusun/ menulis sebuah berita yang sama tapi tersaji berbeda di sebuah media. Seorang wartawan harus mampu mengolah berita secara 5 W+ 1 H  yaitu, Apa (What) yang terjadi, Siapa (Who) yang terlibat, Kapan (When) terjadi, Mengapa (Why) sampai terjadi, Di mana (Where) peristiwa itu terjadi, dan Bagaimana (How) kejadian itu bisa terjadi.

Seperti diungkap di atas, sebuah peristiwa pantas diangkat menjadi berita harus memenuhi beberapa hal, yaitu: 

1. Kebermaknaan (Significance)
Kejadian yang dapat mempengaruhi kehidupan orang banyak/ pembaca.
Contoh: kenaikan BBM, tarif listrik, dll.

2. Besaran (Magnitude)
Kejadian menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan orang banyak.
Contoh: kasus korupsi triliunan yang merugikan negara.

3. Kebaruan (Timeliness)
Suatu kejadian yang menyangkut peristiwa yang baru terjadi.
Contoh: gempa bumi, banjir besar di ibu kota, dll.

4. Kedekatan (Proximity)
Suatu kejadian yang berada di dekat pembaca, baik secara geografis maupun emosional.
Contoh: peristiwa pembunuhan, kecelakaan, dll.

5. Kemasyhuran/ sisi manusiawi (Promininence/ Human Interest)

Suatu kejadian yang memberi sentuhan rasa kepada para pembaca. Misalnya mengungkapkan peristiwa orang-orang terkenal, public figur, atau masyarakat yang terjadi secara luar biasa.
Contoh: peristiwa prostitusi artis secara online, meninggalnya ustad Jefri, dll (Setiati,_:18-19).

Seorang wartawan harus memiliki sikap dasar yang mendasari dan memotivasi wartawan dalam bekerja mencari dan menyebarkan informasi pada masyarakat. Sikap dasar pertama yang harus dimiliki seorang wartawan adalah rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi terhadap informasi. Rasa ingin tahu itulah yang nantinya akan mendorong wartawan untuk lebih banyak mencari informasi yang akan diberitakan. Kemudian selain rasa ingin tahu itu, seorang wartawan harus berani menggali sedalam-dalamnya informasi yang mereka peroleh. Keseimbangan (balance) pemberitaan harus menjadi prioritas utama, agar tidak ada pihak yang dirugikan. Sehingga menggali informasi secara menyeluruh, luas (banyak sumber), dan tidak memihak, harus benar-benar dilakukan oleh seorang wartawan agar berita yang hadir di tengah-tengah masyarakat bisa menjadi acuan dan dipercaya oleh publik. 

Pekerjaan menjadi wartawan merupakan pekerjaan mencari kebenaran, sehingga sikap netral (obyektif) harus dimiliki oleh seorang wartawan. Bekerja sebagai wartawan seperti halnya pekerjaan lain yang menginginkan uang, tetapi tidak boleh kemudian mengalahkan tujuan profesi ini, yaitu mencari kebenaran. Karenanya ada sebagian redaksi/ perusahaan media massa yang melarang wartawannya menerima pemberian (terutama uang) dari pihak luar, karena dikhawatirkan akan mempengaruhi isi berita/informasi tentang kebenaran yang akan disebarkan ke masyarakat.

Profesi wartawan juga merupakan pekerjaan yang kadang menakutkan orang, sehingga ada sebagian wartawan yang memanfaatkan itu dengan jalan mengancam atau menakut-nakuti dengan pemberitaan. Bahkan kemudian ada yang berani menjadi “wartawan amplop” atau berpura-pura menjadi wartawan, yang dikenal dengan sebutan WTS (Wartawan Tanpa Surat kabar),  berkeliaran ikut mencari berita, tetapi tidak pernah memiliki media yang legal.
Jurnalistik itu apa?

Istilah” jurnalistik “berasal dari kata “journalistiek” dalam bahasa Belanda atau “journalism” dalam bahasa Inggris. Keduanya bersumber dari bahasa latin “diurnal” yang berarti harian atau setiap hari. Sedangkan jurnalistik berarti kegiatan mengumpulkan berita, mengolahnya sampai menyebarluaskannya kepada khalayak (Tebba, 2005:9).

Munculnya pers di Indonesia bermula dari munculnya kesadaran VOC untuk mencetak aturan-aturan hukum dan perjanjian yang ditetapkan pemerintahannya hingga mendatangkan alat percetakan melalui missionaries Gereja Protestan Belanda pada tahun 1624.  Surat kabar yang pertama kali muncul di Indonesia adalah Bataviase Nouvelles pada tanggal 8 Agustus 1774 yang dikelola oleh Jan Erdman Jordens, yang diperbantukan pada kantor VOC di Batavia. Surat kabar itu ditutup pada tanggal 20 Juni 1746 karena dianggap merugikan Belanda, meskipun pada tahun 1810 muncul lagi Bataviasche Koloniale Courant di Jakarta, Surabaya , dan Semarang. Menjelang awal tahun1870-an, pers dalam bahasa anak negeri telah meneguhkan pijakannya di pulau Jawa dan luar Jawa. Surat kabar Bromartani merupakan surat kabar berbahasa Jawa pertama yang diluncurkan pada tanggal 25 januari 1855, disamping surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di Surabaya (1856) dan Batavia (1858). 

Era jurnlaistik modern pertama kali ditegakkan oleh R.M. Tirti Adhi Soerjo (pemimpin redaksi Soenda Brita), yang mendirikan perusahaan pers dan terbitnya majalah mingguan Medan Prijaji yang merupakan surat kabar harian dengan jurnalistik politik (Mufid dalam Abu Bakar, 2005:28). Secara garis besar perkembangan pers di Indonesia dapat dibagi atas: (1) masa perkembangan, (2) masa pergerakan dan revolusi, (3) masa orde baru, dan (4) masa reformasi. Berdasarkan Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 fungsi pers adalah: (1) fungsi informasi, (2) fungsi pendidikan, (3) fungsi hiburan, (4) fungsi kontrol sosial, dan (5) fungsi sebagai lembaga ekonomi. Hal-hal yang dapat dimuat dalam pers antara lain: berita, feature, kolom, pojok, artikel, news foto, karikatur, tajuk, surat pembaca, iklan, dll.

Catatan akhir (sebuah harapan)

 Modal yang harus dimiliki wartawan selain kuat fisik, mental, juga iman. Karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, profesi wartawan merupakan profesi yang penuh tantangan. Sehingga tiga kekuatan tersebut harus benar-benar dimiliki seorang wartawan. Berjalan ke sana ke mari ketika mencari informasi, pastinya membutuhkan tenaga/fisik ekstra. Sehingga kekuatan/kesehatan fisik seorang wartawan harus benar-benar terjaga. Cacian, hinaan, dan ancaman akan dilukai, bahkan akan dibunuh seringkali juga mewarnai kehidupan wartawan. Sehingga kekuatan/ kestabilan mental juga patut dimiliki seorang wartawan. Terakhir, kejujuran dan kesetiaan pada pekerjaan dan atau pada seorang informan yang telah memberikan berita, harus juga dijaga kerahasiaan dan kebenarannya. Sehingga tidak mudah terpengaruh dengan adanya “upah” lain yang mampu mengubah isi kebenaran dari berita tersebut.

Itulah sekelumit perjalanan menjadi seorang wartawan. Syarat penting menjadi wartawan: cinta pada pekerjaannya, rajin melaksanakannya, dan yang terpenting, harus memiliki hati nurani (Adolph S. Ocs).

Disampaikan pada kegiatan Pelatihan Jurnalistik di SMA Muhammadiyah Sumenep, Rabu, 15 Maret 2017

Tulisan Terkait

Esai 6997266201429509621

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item