Kisah Tentang Ibu, Puisi Mujtahidatun




Cinta Ibu

Aku adalah karunia Tuhan
Yang terlahir dari cinta, untuk dan demi cinta
Cinta sejati yang terkubur bersama dia yang tiada sebab cinta
Aku reinkarnasi cintamu juga dia yang begitu berarti dalam hidupmu pun diriku
Dia yang rela melangkah menentang jalan Tuhan hanya demi diriku
Kepahitan dan kelunglaian dalam hidup menyesatkannya dari kebenaran Tuhan
Hingga penyesalan,luka dan perih dari duri yang dia tapaki masih aku rasakan saat ini
Sakitku mungkin tak sesakit dari perih rasa cintamu, ibu
Saat belahan jiwamu memilih cara lain dari nama yang mengatas namakan cintanya kepadamu
Kau pun masih kokoh, ibu
Walau kepergiannya sebab takdir yang Tuhan kehendaki atas cinta-Nya kepadamu
Membuatmu diterpa angin kencang untuk yang kesekian kalinya
Dari ada dan ketiadaanya menjadikanmu terhempas dalam lautan
Bersama debur ombak yang mencekam langkah kakimu
Di tengah beban yang kau pikul di punggungmu
Terlebih aku yang dia tinggalkan untukmu
Buah hati sekaligus buah cinta dari yang mencintaimu dan yang kau cintai
Aku Anak bungsumu yang mengiringimu dalam perjalanan cintamu
Aku juga kau, ibu menjadi kita perempuan tangguh
Menatap senja yang sama dalam kenangan di keabadian hati untuk dia yang kita cintai, Ayah
Kisahku belum usai, begitu pun ibu yang tanpamu, Ayah
Perempuan yang kau cintai sebelum aku
Kepallah tanganku ibu bersama masa yang harus tetap kita lalui demi dirinya, teruntuknya dan tanpa dirinya
Ibu, menangislah bila kau merasakan kerinduan pada kisah kenanganmu
Atau saat kau mengingat kepahitan dalam hidup
Semua itu tak kan menjadikanmu rapuh
Hanya akan membuatmu melihat sinar dari alasan cahaya yang datang memberi harapan dan pergi karena sebab
Dekaplah aku, bagilah setiap kesedihanmu dengan cintamu
Supaya kelak di waktu senja yang berbeda hanya akan ada kebagiaan bagi kita
***

Ibu

 Aku titipan Tuhan
Yang menjadi tali dari alasan kau tetap mencintainya
Meski maut memisahkanmu di ruang yang berbeda
Kini aku hanya berada dekat denganmu, ibu
Aku yang tengah ada dari tetes keringat cintamu
Lahir untuk kau cinta dan mencintaimu
Cinta tanpa ruang ataupun waktu
Cinta yang menyatu di setiap arus kehidupan pun setelahnya
Aku dedikasi cintamu, ibu
Bersama kepingan duka nan luka
Jangan sembunyikan apapun dari cintamu ini, ibu
Karena kini hanya aku cintamu
Tuturkan serta ingatkan aku pada kisah-kisah yang dulu tak ku mengerti
Entah kepahitan maupun kebahagiaan
Meski saat ini aku  belum bisa membahagiakanmu
Engkau yang menjadi penguat dari gantungan yang kugantungkan
Gantungan hidup sejak aku dianugrahkan Tuhan kepadamu
Ibu, ajari aku tentang hidup di musim kemarau pun penghujan
Saat hujan membasahi dan merenggut harapanmu
Bagimu hujan hanyalah derai air mata, bukan!
Yang menetes di setiap nadi perasaan yang kau rasakan
Ketika kau merasakan panas di tengah hujan yang mengguyur hidupmu
Atau di musim kemarau
Dimana terik matahari membakar jiwa dan ragamu
Dengan bahan cibiran dari bibir-bibir hinaan
Mencibir tertuju teruntukmu
Terasa dekat layaknya di padang mahsyar
Matahari kian menguras keringat dalam tubuhmu
Pada setiap kerja keras untuk kehidupan yang kau inginkan
Tiada hari tanpa peluh kuningmu, ibu
Mengalir hingga penglihatan, lalu kau pun merasakan perih
Sebab itu matamu terlihat layu nan kelabu
Meski begitu hatimu tak redup, ibu
Atas cahaya yang Tuhan berikan
Yang membuatmu sadar arti kehidupan yang sebenarnya
Ajari aku di balik tabir semua itu, ibu
Seperti yang kau lakukan untuk dan demi diriku
Juga rasa syukur atas Tuhan yang masih membuatmu tersenyum disela-sela keterpurukanmu
Setelah akhirnya kita akan hidup di musim semi
Dimana seluruh kehidupan yang kita lakukan akan bertabur kebahagiaan
Terlebih harapan, keinginan serta mimpi kita, ibu
Aku yang mencintamu, ibu
Dari anakmu yang kau cintai

Biodata

Mujtahidatun, naama panggilan  Datun, lahir Sumenep, 16 september 1998, tempat tinggal: Dusun Beringin, RT 005 RW 003 Ging-ging, Bluto, Sumenep, hobbi:  baca status, cita-cita  jadi guru, penulis
No. Hp. : 083114159186,email: Mujtahidatun@gmail.com, blog: mujtahidatun.blogspot.com

Tulisan Terkait

Kolom Aja 7700378024013152389

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item