Imajinasi Seorang Presiden



Oleh S. Herianto

“Sudah waktunya kita mengubah fokus perhatian bangsa!”
“Maaf, Pak Presiden?” kepala tentara terperangah.
“Begini, selama ini, sejak kita merdeka, tak satu pun masalah bangsa ini yang bisa diurai. Hingga saat ini kusut carut-marut. Mulai dari kalangan kementerian dan stafnya, direktorat dan stafnya, pemerintah-pemerintah daerah rata-rata hanya menggerogoti negara. Kasus korupsi di mana-mana. Dari level teratas hingga terbawah. Pendidikan sebagai ujung tombak peradaban bangsa tak kunjung menemukan formula. Semua dirancang untuk kepentingan kantong-kantong pribadi. Semua arahnya cenderung kapitalis dan liberal. Semua didasari atas kepentingan bisnis. Apa tidak sebaiknya mengubah suasana?”

“Iya, Bapak Presiden. Kira-kira apa rencana Bapak Presiden?”
Sang Presiden memanggil menteri mendekat.
“Duduk sini, lebih dekat!”
“Baik Bapak Presiden.”
“Bagaimana seandainya kita ubah fokus persoalan negara ini?”
“Bagaimana Bapak Presiden?”
“Bagaimana kalau kita rencanakan menjajah negara-negara tetangga?”
“Bapak…?”
“Begini, selama ini kita kan sering jadi korban sebagai obyek yang dijajah. Sesekali tak mengapa kan kalau kita juga menjajah negara lain?”
“Maaf, Bapak Presiden. Ini hal yang sangat sensitif!”
“Iya, saya tahu. Tapi, benar kan selama ini kita tak pernah menjajah? Kalau dijajah sering!”
“Memang demikian Bapak Presiden! Tapi, gagasan ini tidak populer dan harganya sangat mahal.”
“Begini saja. Anggap ini cuma berandai-andai. Seandainya kita atas nama bangsa kita ini merencakan menyerang negara lain apa yang perlu kamu siapkan, Jenderal?”
“Maaf, Bapak Presiden. Saya tidak berani!”
“Berandai-andai saja tidak berani?”
“Maaf Bapak Presiden, saya…,”
“Bagaimana kamu bisa jadi jenderal dengan sikap tidak patuh seperi ini? Bahkan tak berani berandai-andai. Jenderal cap apa kamu ini?”
“Sekali lagi maaf, Bapak Presiden!”
“Ini perintah!!!”
“Siap!”
“Kutunggu perencanaanmu di meja 12 jam dari sekarang! Keluar!!!”
“Siap laksanakan!”
“Dismiss!!”

Apa karena aku presiden yang bukan dari militer, seenaknya mereka tidak mengindahkan perintahku? Benar-benar keterlaluan, gumamnya.  

Negara dalam kepemimpinannya memang carut-marut dari semua lapisan. Hutang negara sudah tak mampu dikalkulasi. Perseteruan di semua kalangan. Korupsi merajalela tanpa satu pun mampu ditangani oleh jerat hukum. Pendidikan tak menemukan arah. Kurikulum menjadi tujuan politik, tujuan perdagangan, dan tujuan pengharcuran sendi-sendi berbangsa dan bernegara.

Sebenarnya bukan karena dia yang memimpin, tapi apa yang diwariskan beberapa pemimpin bobrok sebelumnya, kekacauannya memuncak saat kepemimpinannya. Beberapa aset penting negara terjual. Sumber-sumber mineral masih dikangkangi negara asing. Tak bisa diusir. Andai bisa diibaratkan tatanan negara seperti sampai busuk dari macam-macam bangkai.

Inisiatif invasi menjadi pilihan. Paling tidak mengubah pusat perhatian bangsa dan negara. Sedikitnya bisa mengubah perpecahan bangsa yang selama ini terus meruncing menjadi bersatu ketika kondisi negara sedang genting. Reformasi tidak berjalan sesuai harapan. Revolusi mungkin akan memakan banyak korban. Pilihan yang tepat hanyalah menjajah negara tetangga.

Negara sasaran paling dekat adalah Singarupa. Negara kecil yang kaya. Aset-aset negara tersebut bisa diambil alih untuk kesejahteraan rakyat. Begitu juga negara Jippang, negara kepulauan yang juga kaya dengan sumber daya manusia robotik, yang tak kenal lelah. Mereka dapat diambil alih menjadi romusha modern. Kemudian merambah ke Thai-thai, Philphil, Kor Yan, Petnam, dan sebagainya. Pampasan perang yang lumayan untuk membuat pesta kebangsaan. Benar-benar ide jitu.

“Ajudan!”
“Siap!”
“Panggil kepala tentara!”
“Laksanakan!:
Tidak berapa lama, kepala tentara pun menghadap.
“Sampaikan rencanamu!”
“Baik Bapak Presiden. Rencana strategis saya bagi dalam 3 jenis. Pertama, menghitung untung-rugi. Kedua, perang terbuka atau tertutup. Ketiga, menghitung kalah dan menang.”
“Sampaikan detilnya!”
“Baik Bapak Presiden!”

Kepala tentara itu menyalakan mesin kotak kecil. Setelah nyala dari mesin tersebut keluarlah cahaya yang cahaya tersebut akhirnya membentuk peta rencana. Seperi hologram dalam film-film amrik. Tampak ada peta wilayah negara dan negara-negara tetangga. Tampak pula peta pikiran perencanaan perang.

Dengan seksama sang presiden memperhatikan baik-baik penjelasan kepala tentara. Gemetar tangan kepala tentara tak bisa disembunyikan. Menurutnya beban yang dititahkan kepadanya bukan hal main-main. Bukan seperti main catur atau monopoli. Ini menyangkut kehidupan orang banyak, menyangkut rakyat sebuah negara besar.

Tulisan Terkait

Cerpen 7295634104199850443

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item