Donny, Oh, Donny ... !

Cerpen:  Afiatur Rizkiyah, S.Pd *)

Aku adalah seorang guru di sebuah sekolah dasar di ujung timur Pulau
Madura. Aku mempunyai seorang murid yang menurut pendapat sebagian besar teman sejawatku adalah anak yang memiliki kepribadian yang kurang baik. Dia dianggap nakal, susah diatur dan malas belajar. Muridku itu bernama Donny. Dia memang anak yang paling ditakuti di sekolahku. Apa pun yang dia katakan, pasti akan diikuti oleh teman-temannya. Bahkan dia juga memiliki pengaruh yang kurang baik bagi adik-adik kelasnya.

Hampir setiap ada kenakalan di sekolah, pastilah Donny terlibat di dalamnya. Baik sebagai pelaku ataupun sekedar memengaruhi teman atau adik kelasnya untuk melakukan kenakalan tersebut. Selama proses belajar mengajar pun, Donny seringkali menjadi penyebab kegaduhan dalam kelas. Ada saja ulahnya yang membuat guru merasa terganggu saat mengajar.

Donny sering sekali mendapat panggilan ke ruang guru atau ruang kepala sekolah akibat tingkahnya itu. Bahkan Donny pernah diberi pembinaan karena dia ketahuan merokok saat berada di luar jam sekolah. Pihak sekolah juga sudah memanggil orangtua Donny perihal  kenakalan putera mereka.

Hingga suatu hari, saat pelajaran usai, manakala aku sedang berada di ruang kantin sekolah, tiba-tiba ada seorang wanita yang mendatangiku. Dia ternyata wali muridku, ibu dari Firman. Dia mengeluhkan tindakan salah seorang muridku, yang menurutnya telah mengganggu Firman pada belakangan hari ini. Dia menyebutkan sebuah nama yaitu Donny.

Menurut ibu tersebut, Donny sering meminta uang pada Firman dengan cara paksa. Hal itu dapat dia ketahui dari laporan istri penjaga sekolah kami, yang menyatakan bahwa Donny telah berulang kali meminta uang pada Firman. Sehingga Firman tidak dapat membeli makanan selama beberapa hari.

Berdasarkan keluhan tersebut, aku berjanji pada ibu tersebut untuk menyelesaikan masalah tersebut keesokan harinya, karena anak-anak sudah pulang. Ibu itu pun segera pulang. Bergegas aku mendatangi kantor Pak Rudi, kepala sekolahku. Aku menceritakan keluhan wali murid tersebut pada beliau. Menurut Pak Rudi, besok masalah tersebut harus segera diatasi.

Keesokan harinya, ibu Firman ternyata kembali datang. Dia mendatangi ruang kantor kepala sekolah. Pak Rudi segera memanggil Firman. Beliau mengajukan beberapa pertanyaan kepada Firman untuk  mengonfirmasi keluhan ibunya.

“Benarkah apa yang dikatakan ibumu, Firman?” tanya Pak Rudi.
“Ya, Pak. Tapi teman-teman yang lain juga sering diminta uangnya oleh Donny”, kata Firman.
“Oh, ya, siapa saja temanmu itu?” tanya Pak Rudi terkejut.
Firman menyebutkan nama teman-teman yang bernasib sama seperti dirinya.
“Kalau begitu, panggil semua teman yang kamu sebutkan tadi ke sini!” perintah Pak Rudi.
“Baik, Pak.”

Firman berlari menuju kelasnya, tak lama kemudian dia telah datang bersama teman-temannya.

Pak Rudi kemudian menanyakan satu persatu teman-teman Firman.
“Berapa uang kalian yang telah diminta oleh Donny?” tanya Pak Rudi.
“Saya dua ribu, Pak”, sahut Anton.
“Saya seribu, Pak”, timpal Jaka.
“Kalau kamu berapa Firman?” Pak Rudi bertanya pada Firman.
Dengan suara takut Firman menjawab, “Lima ribuan sudah lima kali, Pak. Juga pernah diminta sepuluh ribu dua kali.”
“Benar begitu, Bu?” tanya Pak Rudi pada ibu Firman.
“Ya, kurang lebih seperti itu. Sebab saya memberi uang saku pada Firman sepuluh ribu rupiah setiap hari”, jawab ibu Firman.
“Memang betul, Pak. Donny juga meminta uang saku kami setiap hari. Jika tidak diberi, dia mengancam akan memukul kami”, kata Tio.
“Tapi mengapa kalian baru mengatakan sekarang, jika uang kalian sering diminta oleh Donny?” tanyaku.
“Ya, Bu. Sebab kami takut pada ancaman Donny”. (sahut anak-anak itu nyaris bersamaan).
“Sekarang panggil Donny kemari!” kata Pak Rudi.
Jaka segera menuju kelasnya untuk memanggil Donny.
Sesampainya Donny di ruang kepala sekolah, Donny dengan malu-malu dan perasaan takut berdiri di dekat pintu.
“Masuklah, Don!” perintah Pak Rudi.
“Tahukah kamu mengapa dipanggil ke sini?” tanya Pak Rudi.
“Tidak, Pak”, sahut Donny sambil menunduk.
“Mengapa kamu ketakutan, apakah kamu sudah berbuat salah?” tanya Pak Rudi lagi.
Donny menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti.
“Kamu sudah dilaporkan teman-temanmu bahwa kamu sering meminta uang dari mereka. Apa betul begitu?” cecar Pak Rudi.
“Be…..be……….betul, Pak”, jawab Donny dengan terbata-bata.
“Apakah perbuatanmu itu benar, Donny?”tanya Pak Rudi.
“Tidak, Pak.”
“Lalu mengapa kamu lakukan?” selidik Pak Rudi.
“Saya ingin membeli PS, Pak. Saya sudah minta kepada ayah saya, tapi tidak didengarkan. Oleh sebab itu, saya meminta pada teman-teman agar saya dapat mengumpulkan uang untuk membeli PS”, Donny menjelaskan alasannya.
“Tapi cara yang kamu lakukan adalah hal yang keliru. Tindakanmu itu merugikan orang lain. Apa kamu menyadari hal itu?” tanya Pak Rudi.
“Ya, Pak. Saya menyesali perbuatan saya tersebut”, kata Donny.
“Sekarang apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki kesalahanmu itu?” tanya Pak Rudi.
Donny terdiam. Beberapa saat kemudian dia berkata, “Saya akan mengganti semua uang yang telah saya ambil dari teman-teman, menggunakan tabungan saya”.
“Apakah kamu ingat jumlah uang yang kamu minta dari temanmu?” tanya Pak Rudi.
“Ya, Pak. Sebab saya mencatat semuanya dalam buku saya”, jawab Donny.
“Baiklah, sebelumnya kamu harus meminta maaf pada teman-temanmu dan mulai sekarang kamu harus berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan ini ataupun berbuat hal yang merugikan orang lain lagi”, nasihat Pak Rudi.
“Teman-teman, saya ingin meminta maaf telah meminta uang dari kalian. Dan saya berjanji tidak akan mengulangi lagi. Saya juga akan mengembalikan semua uang yang telah ambil. Maukah kalian memaafkan saya?” tanya Donny pada teman-temannya.
“Ya, Don. Kami menerima permintaan maafmu. Kami doakan kamu bisa menabung dari uang sakumu sendiri, sehingga PS yang kamu inginkan segera dapat kamu beli”, kata Jaka mewakili teman-temannya.
“Benar, Donny. Tante juga berharap kamu tidak mengulangi lagi perbuatanmu itu”, kata ibu Firman.
“Baik, Tante. Saya juga minta maaf, karena ulah saya, Tante repot-repot datang ke sekolah ini”, kata Donny dengan nada menyesal.
“Kalau begitu, Bapak rasa masalah ini sudah selesai. Bapak merasa bangga, karena Donny bertanggung jawab atas perbuatannya. Dan saya ucapkan terima kasih atas perhatian Ibu Firman pada sekolah ini”, kata Pak Rudi.
“Sekarang kalian boleh kembali ke kelas kalian!” pinta Pak Rudi.
“Oh ya, Donny. Kapan kamu akan berhenti melakukan kesalahan. Sadarlah Donny, yang kamu lakukan itu akan merugikan dirimu sendiri dan orang lain. Ingatlah kerja keras orang tuamu yang telah menyekolahkanmu agar menjadi anak yang sholih, pintar dan berprestasi. Jangan kamu sia-siakan perjuangan orang tuamu. Buktikan pada orang tuamu bahwa kamu anak yang berbakti dan dapat membanggakan orang tua”, nasihat Pak Rudi.
“Saya berjanji akan menjadi anak yang baik, Pak. Saya merasa menyesal dengan apa pun yang telah saya lakukan. Saya tidak akan berbuat nakal lagi, Pak”, kata Donny bersungguh-sungguh.

Sejak saat itu, Donny rajin menyisihkan uang sakunya untuk mewujudkan impiannya memiliki PS. Dia pun selalu berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah dia perbuat dengan senantiasa bersikap patuh pada setiap peraturan sekolah dan rajin belajar agar menjadi anak yang diharapkan oleh orang tua, guru dan masyarakat.

*) Guru dan aktivis Rumah Literasi Sumenep

Tulisan Terkait

Cerpen 2847251897667995438

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item