Belajar Pecahan dengan Riang

Tiga anak bebek pergi berenang, naik bukit lalu menghilang Induk bebek mencari wekwek. Hilang satu tinggal lah dua. lirik lagu ini tidak asing bagi anak TK. Mereka biasanya menyanyi sambil menari menirukan gerakan anak bebek. Bagaimana jika lagu ini dinyanyikan oleh anak SD untuk belajar pecahan sekaligus kebersamaan dengan teman?

Satu metode ceria untuk berbagai tujuan, itulah yang dilakukan anak kelas 2B pada Sabtu (07/04/2018) di halaman SDN Kapedi I Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep. Mereka berbaris tidak beraturan di ruangan terbuka sambil menyanyikan lagu anak bebek yang diganti lirik.

Dua anak hebat bergandeng tangan, selalu rukun sayangi teman. Satu anak hebat mengangkat tangan, itu namanya satu perdua.

Tiga anak hebat bergandeng tangan, selalu rukun sayangi teman. Satu anak hebat mengangkat tangan, itu namanya satu pertiga.

Empat anak hebat bergandeng tangan, selalu rukun sayangi teman. Satu anak hebat mengangkat tangan, itu namanya satu perempat.

Guru memulai nyanyian Tiga anak hebat bergandeng tangan, mereka mendengarkan intruksi dengan seksama, berapakah angka yang disebutkan guru. Siswa lalu harus menemukan pasangan sesuai dengan petunjuk di nyanyian, syaratnya berjenis kelamin sama untuk membentuk lingkaran. Dalam hitungan ketiga, semua anak sudah harus mendapat pasangannya dan bergandeng tangan.

Lalu nyanyian dilanjutkan, tiga anak hebat bergandeng tangan, selalu rukun sayangi teman, dua anak mengangkat tangan. Sampai di lirik lagu ini, mereka menentukan siapa saja yang mengangkat tangan. Lagu dilanjutkan itu namanya ... spontan guru menunjuk ke salah satu anak. Dengan sigap dia akan menjawan dua pertiga. Tepuk tangan meramaikan jawaban yang benar, dansorakan “huu” untuk jawaban salah. Lalu lagu dinyanyikan dari awal sambil bergandeng tangan.

Anak yang tidak menemukan kelompok saat bergandeng tangan dan yang salah ketika menyebutkan bilangan pecahan ketika ditunjuk guru akan mendapatkan sanksi dengan memungut sepuluh sampah di halaman. Sampah itu dibuang di tempat yang disediakan.

Berbagai kesan yang didapatkan siswa selama pembelajaran, mereka terlihat antusias menyanyi dan menemukan pasangan. Terlihat jelas bagaimana mereka membangun kedekatan sesama teman.

Aura Nailiya mengaku senang dengan model pembelajaran kali ini.”Kalau di kelas terus jadi bosan, tapi kalau di halaman jadi bersemangat lagi.” Ungkap anak yang rambutnya selalu di kepang dua ini.

Begitu pula dengan Acha, dia mengaku senang jika pembelajaran tidak monoton. Menurut anak yang hobbi menulis dan bermain  ini, “nyanyian dan gerakannya menyenangkan. Jadi gak merasa kalau sebenarnya sedang belajar.” katanya saat pelajaran berakhir.

Dalam permainan ini, tampak seorang anak yang berkali-kali tidak menemukan pasangan. Dia terlihat pasif menunggu temannya yang lain. Sehingga dia selalu mendapatkan sanksi memungut daun kering di halaman. “Tidak apa-apa, saya kalah cepat saat mencari pasangan. Tapi saya senang”, ungkap Kifa saat refleksi di akhir sesi.

Reported By: Widayanti, S.PdI
Guru dan Penggiat Rumah Literasi Sumenep

Tulisan Terkait

Eksaina 7452415965607343393

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

Lounching dan workshop menulis Rumah Literasi Sumenep, 18 Februari 2017

Kearifan Lokal

Kolom Anak dan Remaja

Terbaru


Daftar Isi

Memuat…
silakan unduh materi literasi

Kontak kami

Nama

Email *

Pesan *

item