Air Mata Ita

Cerpen: Daviatul Umam

Jauh-jauh dari desa seberang, hari ini Ita datang. Tangan kanannya membawa sesuatu yang terbungkus kantong plastik berwarna hitam pekat. Aku tidak tahu siapa yang menunjukkan padanya keberadaanku di sini. Mungkin kerabat atau tetanggaku. Kusisir keadaan sekitar. Rupanya dia tidak sendiri. Di tepi jalan raya yang tak begitu jauh dari pandangan, tampak seorang laki-laki seusiaku sedang duduk santai di atas motor yang didongkrak, memerhatikan kendaraan yang berlalu-lalang. Wajah yang tidak asing. Sepertinya pernah kulihat dulu di dunia maya.

Ita masih berdiri. Kupersilakan dia duduk, tak acuh dan tetap berdiri. Kepalanya merunduk. Layaknya sekuntum bunga layu yang hampir jatuh. Dan benar. Setelah belasan menit berdiri akhirnya dia jatuh tersimpuh. Rapuh. Parasnya memerah seolah menanggung suatu beban. Entah itu amarah, penyesalan, luka dalam. Perlahan air matanya memuncrat. Mengalir sedemikian deras, membasahi kerudung tipisnya yang kelabu. Aku yang semula ceria atas kedatangannya kemari, berubah muram kini.

Di sela-sela sesenggukannya, Ita menguntaikan kata-kata sedikit terbata sembari meremas-remas gundukan tanah basah di depannya akibat cumbuan hujan siang tadi. "Dengarkan baik-baik. A...ku mencinta...imu." Aku duduk bercangkung di sisi kirinya. Sama-sama menghadap barat. Sesekali sama-sama menunduk lemas. "Terima kasih, Ita. Terima kasih. Aku selalu mencintaimu," balasku. Sejenak saling diam. Lalu kulanjutkan dengan pertanyaan, "Apakah hubunganmu sama dia sudah berakhir?" Dia tak menjawab. Hanya pekik tangis yang terus memekakkan pendengaranku. Tiada yang bisa kuperbuat selain mengikuti arus kesedihannya.

###

Langit kembali mendung. Melipat raut senja nan murung. Kulihat segumpal kenangan mengambang di antara awan-awan yang bergelombang. Teringat masa-masa romantis yang kulalui bersama Ita. Di mana kami kerap berbagi kemesraan walau di dalam telepon. Tak peduli dingin dan kantuk sedang merajai di tengah malam sunyi.

Kami bukanlah sepasang kekasih. Namun saling menyayangi. Hanya saja dia menyembunyikan kata 'cinta' di relung hatinya. Untuk mengungkapkannya dia tidak berani, meski berkali-kali aku memancingnya dengan umpan-umpan tertentu. "Belum waktunya," ujarnya, setiap kutagih kata yang sangat berharga itu, guna mengimbangi pernyataan tulus-suciku. Aku paham. Barangkali karena dia masih punya ikatan dengan seseorang. Ikatan pertunangan. Kendati kutahu, hubungan pertunangannya sudah sangat kacau. Sebagaimana yang pernah diakuinya, bahwa dia tak lagi punya rasa apapun akan si tunangan, kecuali rasa bosan. Lantaran berbagai macam masalah yang turun berduyun. Akan tetapi, kadang aku tetap bersikeras mengemis sebuah pernyataan tersebut. Nihil. Respons yang diberikan tetap teguh pula, "belum waktunya."
"Batas usia tiada yang tahu," ucapku.
"Jangan bilang begitu," sanggahnya.
"Makanya segera nyatakan."
"Belum waktunya."

Kadang aku sadar. Kutemui tingkah kekanak-kanakan pada diriku sendiri. Mengapa aku masih bersikap manja? Mengapa aku selalu memaksa Ita guna meladeni kehendakku yang konyol ini? Bukankah dia sudah menyatakan perasaannya lewat tanda-tanda yang terang? Katakanlah perhatian, salah satunya.

"Baiklah," desah batin. Aku tidak boleh gegabah. Jalani saja dulu. Yang penting Ita sudah di depan mata. Jika mesti kuturuti sikap yang sama sekali tak mewakili kedewasaan ini, bisa-bisa Ita risi, lantas menjauh. Yang tak kalah penting, aku harus terus berusaha bagaimana cara supaya dia tetap betah di dekatku. Sampai kapanpun. Jangan sampai berpaling dan mencari pendamping lain. Apalagi kembali tenteram bersama tunangannya.

Siapa saja dipersilakan mengecamku jahat. Penghalang atau perusak hubungan orang. Alasanku cukup padat. Meski agak tak logis. Semata-mata aku tidak mau kehilangan Ita. Wanita terakhir yang kuyakini akan mengakhiri derita kesendirianku. Lagi pula dia sendiri pernah bilang, berkat kehadiranku pikirannya jadi tenang. Mengurangi beban permasalahan yang sedang dihadapinya sebab keegoisan pasangan. Malah pernah membandingkan antara sifatku dan sifat lelaki yang dibencinya itu. Katanya, aku jauh lebih baik. Syukurlah.

Sebenarnya aku tidak seperti yang Ita bayangkan. Tapi niat putihkulah yang memberiku binar kebaikan. Sehingga, barangkali, terkesan istimewa dalam pandangan dia. Tidakkah segala yang bersumber dari kemurnian jiwa menyejukkan jiwa lain yang melihatnya? Api akan selalu kalah sama air. Batu akan selalu kalah sama air. Cintaku menjelma air, memadamkan nurani Ita yang api sekaligus meleburkan masa lalunya yang membatu.

Sungguh Ita terperosok di lubang perangkapku. Pun aku tersesat di kegelapan belas-kasihnya. Kegelapan? Ya, kegelapan. Karena dia belum memutuskan ikatannya. "Jangan-jangan aku sebatas pelarian?" kemamku, khawatir. Entahlah. Kosongkan prasangka negatif. Kenyataannya kami sangat akrab. Saling mengasihani. Mana mungkin akan berkhianat? Akhirnya yang berkhianat adalah aku sendiri. Meninggalkannya pergi tanpa pesan dan ucapan selamat tinggal.

Suatu ketika, tepat malam rabu aku mimpi buruk. Dalam mimpi itu pekarangan rumahku ramai sekali. Orang-orang berdatangan. Terdengar lantun kidungan diiringi bunyi gamelan. Aku terlihat begitu tampan dengan riasan dan pakaian khas keraton. Duduk manis seorang diri di atas pelamin, disantuni para undangan. Mereka semua tampak bahagia. Sedang aku dilanda gelisah. Kepada Ibu aku bertanya, "Bu, di mana Ita? Kenapa aku duduk sendirian?" Ibu menjawab tegas, "Kamu menjadi pengantin seorang diri saja." Terbangunlah aku dengan napas tersengal-sengal. Kupencet tombol samping ponsel. Cahaya layar memancar. Di pojok kanan atas tertera angka 3:13 AM. Aku bangkit dan berwudu sebelum kemudian melaksanakan salat tahajud. Memohon pada Tuhan agar mimpi paling sial seumur hidupku itu tidak berarti apa-apa. Bunga tidur belaka.

Kamis sore yang gerimis. Seperti biasa kutunggu Ita miscall sepulangnya dari sekolah diniyah. Tak berselang lama miscall-an darinya menderingkan ponselku. Segera kutelepon dia. Suaranya berderai seiring rerintik kesejukan dari tangan Mikail yang memandikan jagung-jagung kecil di ladang. Semakin subur kerinduanku terhadapnya. Sebulan lebih sudah pertemuan singkat itu berlalu. Tumbuh di kalbu rasa ingin lekas kembali bertemu.

Obrolan demi obrolan terlewatkan. Dirasa tiada lagi pembahasan. Pamit aku padanya untuk mandi. Hari hampir petang. Sudah menjadi kegiatan rutinku, yakni harus ke masjid, mengumandangkan azan sekaligus salat jamaah magrib. Dia mengiyakan, usai sepakat kami tentukan waktu buat kembali teleponan nanti.

Azan dan berjamaah selesai. Membaca amalan-amalan dan sesurat Yasin juga selesai. Seraya menanti waktu berdirinya salat isya tiba, badan kurebahkan. Sekadar penawar lelah akibat beberapa pekerjaan tadi siang. Tiba-tiba dadaku pengap. Amat sulit bernapas. Aneh. Padahal aku bukan seorang perokok. Sejak kecil memang tak suka merokok. Aku bingung apa yang terjadi dengan jantung. Aku bingung. Tak ada satu orang pun di masjid. Semua jamaah terbiasa pulang ke rumah masing-masing. Dan biasanya kalau azan isya kian berkumandang, mereka balik lagi. Jadi tiada yang menyaksikan aksi keanehanku. Tubuhku kejang-kejang. Terasa ada yang mengiris urat-uratku. Mengelupasi seluruh kulitku. Luar biasa perih. Akhirnya sepasang mata terpejam. Aku pindah alam.

###

Air mata Ita tak kunjung reda. Sekian lama bersimpuh di samping gundukan tanah basah itu, masih saja dia terisak-isak. Sesuatu yang dibawanya dikeluarkan dari kantong plastik. Ditaburkan di antara jarak dua batu nisan. Aromanya menghambur ke udara. Kuhirup penuh kenikmatan kasih-sayang.

"Kenapa harus secepat ini? Kenapa?" jerit Ita tertahan sambil memukul-mukul pelan tanah tadi. Tanah yang menimbun jasadku. "Aku menyesal, Vid. Aku menyesal tidak mengabulkan permintaanmu untuk menyatakan rasa ini. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri." Sementara aku membungkam. Menyimak ratapannya secara terharu. Sesaat hening. Ingin sekali kurangkul tubuhnya. Tapi... Ah! "Alasanku cuma satu. Tidak mau mengkhianati tunangan, walaupun aku sudah tidak mencintainya. Aku tidak mau jadi pengkhianat. Asal kamu tahu. Dia sekarang ada di sini, mengantarku ke tempat pemakamanmu ini. Bulan depan kami akan menikah. Yang jelas aku berhenti sekolah. Maafkan aku, Vid. Aku terpaksa. Ini semua gara-gara..." Perkataannya terpotong oleh suara bentakan dari belakang.

"Heh! Bukannya ngaji malah nangis. Ayo pulang!" gertak lelaki yang baru saja turun dari motornya, menghampiri Ita. Tak salah. Dialah sosok tunangan yang bakal menikahinya.
"Pulang saja duluan!" balas Ita, lantang.
"Apa kamu bilang? Ayo bangun. Bangun!" Lelaki bangsat itu menarik lengan Ita keras hingga membuatnya bangkit berdiri. Aku pun ikut berdiri. Kulihat rok yang Ita kenakan berlumur tanah. Merah kecokelatan.
"Lepas! Aku belum mau pulang!"
"Ini sudah hampir malam. Dan sebentar lagi akan hujan!"
"Aku tidak mau tahu!"
Si lelaki menarik paksa lengan Ita lebih keras lagi, menuju letak motornya berada. "Ayo, ayo!" Keterlaluan. Tidak terima atas perlakuan tidak senonoh itu, kukejar mereka dan kutonjok muka si lelaki. Sayang. Aku seperti menonjok angin. Kepalan tanganku tembus. Kena tapi tak tersentuh. Sedangkan ia tak sedikit pun merasa sakit. Kutarik lengan Ita yang lain. Lagi-lagi seperti menarik angin. Genggaman tanganku tembus. Kena tapi tak tersentuh. Dan indera Ita tak merasakan apapun. Malang sungguh. Beginikah nasib ruh?

Sumenep 2017




Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa ini merupakan mantan Ketua Umum Sanggar Andalas, serta bekas aktivis CTL-Pamor, Teater Nanggala, Sanggar Listrik, Dapur Arisan Sastra (DARSA), Komunitas Pojok Sastra (KPS) dan Lesehan Sastra Annuqayah (LSA). Sebagian karyanya berupa puisi dan cerpen dipublikasikan di sejumlah media cetak dan online. Termaktub pula dalam beberapa buku antologi bersama: Puisi Menolak Korupsi 3 (2014), Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia IV (2016), Negeri Awan (2017), Lebih Baik Putih Tulang dari pada Putih Mata (2017), Lubang Kata (2017), Menderas sampai Siak (2017), Tentang Masjid (2017), Sajak-sajak tentang Pindul (2017), Mengunyah Geram (2017), Pesan Damai Aisyah, Maria, Zi Xing (2018). Dinobatkan sebagai juara 1 Lomba Cipta Puisi Spontan Tingkat Umum Se-Kabupaten Sumenep (PP. Agung Damar, Pragaan 2013), juara 1 Lomba Menulis Puisi Antar Pondok Pesantren Se-Jawa Timur (PP. Sidogiri, Pasuruan 2013), juara 3 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum (Festival Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 2016), 10 Besar Terbaik Sayembara Cipta Puisi Nasional (Sigi Media, Bandung 2016), Pilihan Utama Poetry Prairie Literature Journal (Edisi 6, 2017) dan 15 Puisi Favorit Lomba Menulis Puisi Untuk Indonesia (DPP Partai Demokrat, Kepulauan Riau 2017). Berdomisili di Poteran Talango Sumenep, Madura.

Tulisan Terkait

Cerpen 2048338697135834655

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item