Rencana Paling Sempurna

Cerpen: Juwairiyah Mawardy

Dia akan menikahiku. Resmi sebagai istri. Tercatat dalam buku nikah yang bisa diperlihatkan pada siapapun. Begitulah janjinya. Semula aku selalu bertanya kapankah itu? Tapi lama-lama aku tak ingin bertanya lagi. Aku hanya perempuan luar pagar. Perempuan kedua. Mungkin saja dalam tingkatan-tingkatan pikirannya, aku bukan hanya nomor dua, melainkan nomor ke sekian puluh dari urusan hidupnya. Yang terpenting adalah urusan politiknya.

Dia hendak maju sebagai calon bupati. Ia katakan akan segera bercerai dengan istri yang belum juga dapat berbuah itu. Aku menunggu. Aku percaya padanya. Seperti ia percaya padaku bahwa aku tak akan membongkar hubungan kami ke publik. Aku menginginkan kesuksesannya terwujud. Seperti aku menginginkan pernikahan agung kami juga terwujud.

Hubungan kami adalah hal yang tak terelakkan. Kami tidak kumpul kebo, melainkan menikah di bawah tangan yang tersembunyi dari tatapan-tatapan mata yang nyata. Sepekan sekali ia akan datang dan menginap di rumahku. Dalam kamar pribadiku, baju-bajunya, beberapa benda miliknya sengaja ditinggal. Bagiku itu sangat berarti. Membuatku merasa menjadi istri seseorang. Meski secara tersembunyi.

Ia tak memiliki anak. Anak-anaknya hanya berupa harta yang berlimpah ruah. Tapi harta hanyalah harta. Tak menjadi ukuran kebahagiaan. Tak menjamin kelengkapan. Anak adalah suatu hal berbeda. Dan ia tak memiliki itu bersama istrinya. Tetapi mungkin akan memilikinya bersamaku, yang tersembunyi ini.

Ia mulai disibukkan oleh rapat-rapat, perjalanan-perjalanan jauh ke luar kota, menyisir titik-titik yang mungkin akan menjadi pendukungnya nanti di hari pemilihan. Belum lagi musim kampanye ini ia sudah semakin sibuk. Gambarnya beredar dalam baliho-baliho, terpampang di ruas-ruas jalan. Aku bangga secara tersembunyi. Seperti pernikahan kami yang rahasia.

Ia mulai jarang datang di hari yang wajib untukku itu. “Maafkan aku, aku belum bisa ke situ. Sabarlah ya?”

Aku hanya mengiyakannya dalam telepon yang dengingnya kubiarkan meski beberapa saat telah ia tutup pembicaraan kami.

“Aku ingin sekali bisa pergi denganmu ke luar kota. Kita akan mencari waktu. Akan aku agendakan,” katanya di kali lain seperti membicarakan jadwal kunjungan ke daerah.

Aku pun hanya mengiyakan. Apakah yang kubisa? Menuntutnya untuk selalu ada? Bukankah sejak awal aku sudah tahu resiko-resiko sejenis ini? Resiko dinomor-sekiankan dari sekian nomor. Ah, tak mengapa. Aku sudah biasa hidup sendiri. Mengatasi semua sendiri. Rumah ini sudah terbiasa hanya ada aku. Bukankah jumlah kedatangannya ke rumahku ini dapat kuhitung seperti halnya tamu?

Akhirnya kami sempat bersama. Ia menginap. Seperti biasa, bercinta bukanlah menu utama kami. Karena yang kami hayati bukanlah percintaan yang panas. Bukan sex. Melainkan kebersamaan. Chemistry. Kecocokan dalam berbicara dan berpikir. Kami makan bersama. Tidur bersama dan bercinta dengan singkat. Ia tak kekurangan kehangatan di rumah. Dan rumahku bukanlah tungku tempatnya memanaskan cinta. Bukan perapian.

“Bolehkah aku bercerita tentang Nalini?” Katanya sambil memeluk bahuku.

Kugenggam tangannya. “Akan kudengarkan.”

“Nalini kini ikut terapi. Katanya ingin punya anak. Aku hanya menuruti keinginannya memeriksakan spermaku. Dan Nalini yang harus terapi, meski aku pun diminta tetap menjaga kondisi…”
“Kalian akan punya anak?” Aku gagal menyimpan getar suaraku.
“Siapa yang bisa meyakinkan? Perkawinan kami sudah hampir dua puluh tahun. Dan baru kali ini Nalini terbuka hati mengajakku memeriksakan diri.”
Aku terdiam. Ia mengusap pipiku. Kulirik rautnya yang letih. Bukan letih karena bercinta tetapi karena banyak pikiran dan rencana-rencana dalam otaknya. Masukkah aku dalam rencana-rencananya itu?
“Aku ingin kita menikah resmi setelah usai kesibukan pilkada ini.”
Entah mengapa hatiku tak hangat lagi mendengar kalimat ajaibnya itu. Nalini sedang terapi. Ia ingin hamil. Nalini pasti punya rencana. Apakah Nalini tahu suaminya punya istana kedua? Rumahku?

“Bagaimana jika Nalini berhasil hamil?” Tanyaku skeptis.

“Kukira tidak akan terjadi. Kami sangat jarang bercinta. Sudah lama tidak. Bukan cuma karena kesibukan. Tapi aku sering enggan karena tak menghasilkan. Lagi pula, anjuran dokter, sekarang justru kami diminta menjarangkan hubungan agar rahimnya siap. Terlalu sering juga tak bagus, kata dokter,” ia menjawil ujung hidungku sambil tertawa.

“Dan dokter akan meminta kalian bercinta di suatu waktu yang tepat ketika rahim Nalini siap, lantas Nalini hamil, dan hilanglah aku dari kehidupanmu…” aku tak tahan dengan gerimis dari mataku. Aku menangis membayangkan itu yang mungkin terjadi.

“Sssshh…tenang, sayang. Jangan membayangkan yang terburuk. Itu tak akan terjadi. Rencana kita-lah yang akan menjadi kenyataan. Aku menang atau kalah dalam pemilihan nanti, aku akan menikahimu secara resmi. Mungkin akan ada gossip sebentar, tapi pasti akan reda sendiri. Sekarang tiap hari gossip berganti. Kita tak akan menjadi santapan banyak bibir sepanjang hari.”

Aku diam saja. Kubiarkan ia mengusap air mataku. Mengapa rasaku begitu nelangsa? Kesedihan semacam ini adalah kepastian bagiku, bukan kemungkinan lagi. Kesedihan adalah sebagian buah dari hubungan kami yang tersembunyi ini. Seharusnya aku tak menangis. Tetapi siapa yang dapat mencegah kehendak air mata untuk terbit sebagai kepedihan? Karena aku pun tak pernah bermimpi untuk menjadi secunder woman.

Ia pulang kembali ke Nalini. Tiba-tiba aku membutuhkan liburan. Yang sendiri dan sunyi. Tapi aku tak dapat pergi tanpa memberitahunya. Tak dapat mematikan handphone tanpa pamit padanya. Ia adalah suamiku. Yang sah secara agama. Kami menikah baik-baik di hadapan Tihan, meski tidak diakui negara.

Aku membatalkan rencana liburanku meski cuma untuk dua hari. Aku ingin pulang ke rumah ibu. Rumah lama yang membuatku seperti anak kembali, murni seperti pagi hari. Tetapi kantor sedang sibuk. Dalam waktu-waktu ini anak-anak akan ujian. Maka meski akhir pekan, pikiranku tersita dengan persiapan itu. Dan dalam ruang pikiran yang lain aku terus menerus menumbuhkan kecemasan. Nalini mungkin akan hamil. Dan aku….

Selama ini aku telah berusaha agar tak membuahkan hasil dari setiap percintaan kami. Tidak, aku tak ikut KB. Ia pun jarang mau memakai kondom. Selalu ada cara lain bukan? Dalam kalutku aku ingin hamil saja agar ia tak meninggalkanku. Tapi siapa yang dapat menjamin aku akan segera hamil dan ia tak akan pergi meninggalkan aku? Hubungan kami penuh spekulasi. Tergantung siapa yang punya spekulasi. Jika aku hamil, aku akan merusak rencana kami, menurutnya. Karena ia tak mau ada data bahwa ia menikahiku karena aku hamil. Pernikahan kami tak seorang pun tahu.

Jika Nalini yang hamil, maka rencana kami berdua untuk menikah resmi akan terhalang. Tidaklah mungkin ia meninggalkan Nalini dalam keadaan hamil, itu akan menimbulkan malapetaka publik padanya. Tidak mungkin pula ia meresmikan poligaminya di awal masa bertugasnya sebagai bupati jika ia menang dalam pemilihan nanti sedang pada saat yang sama istri sah-nya sedang hamil; hal yang ia nanti-nanti sejak dahulu. Dan jika ia menang, meski Nalini tak hamil, bagaimanakah ia akan bercerai dengan Nalini dan menikahiku dengan resmi? Betapa kusutnya benang hidup yang kami jalin ini. Dan di antara segala kekusutan ini aku menempati posisi sebagai yang paling tak mudah diurai. Semata-mata kekusutan.

Suatu malam ia datang tanpa terlebih dahulu memberitahu.

“Aku ingin benar-benar istirahat satu hari ini saja. Aku sedang penat saja. Rapat-rapat itu semakin menampakkan padaku betapa banyaknya mulut yang harus kututup dengan uangku. Sebagian besar mereka mendukungku karena bertaruh dengan uang, berkejaran dengan uang. Dan mereka tahu aku punya banyak uang dan tak akan eman mengeluarkannya demi posisi ini. Sungguh menyebalkan.”

Kuusap peluh di keningnya. Tak biasanya ia mengomel. Biasanya ia pandai menahan diri dan emosinya. Semuanya dihadapi dengan tenang.

“Maafkan aku, aku tak bermaksud menumpahkan kekesalan padamu.”

Aku hanya mengangguk saja. Entah mengapa di hadapannya aku ini begitu patuh, begitu penuh toleransi, dan mengesampingkan rasaku sendiri.

Aku berusaha membuatnya merasa nyaman di dekatku, di rumahku. Bukankah laki-laki yang mencari istana kedua seringkali karena di istananya tak lagi ia temukan tempat untuk melarikan diri dari kekalutan hidup? Dan aku, dengan takdirku ini, menyediakan diri untuk menjadi istana pelarian, tong sampah yang mulia bagi kepengapan-kepengapan.

Sepenuhnya ia beristirahat di rumahku malam itu. Bersantai, tidur, mematikan handphone, menikmati makan malam kesukaannya, bercinta di jelang subuh hingga ia lelap lagi di awal hari. Dan seperti biasa ia akan pergi begitu merasa lebih baik.

“Maafkan aku karena hanya sebentar bersamamu,” ucapnya saat pamit.

Ia memelukku sebelum membuka pintu rumah. Aku tak berkata apa-apa. Hanya membalas pelukannya. Dan berlalulah lagi kecintaanku itu.

Dan kini, saat aku mengandung puteranya, dan ingin mengabarinya, aku justru mendapat kabar darinya bahwa Nalini tengah mengandung. Betapa hebatnya kenyataan kami! Takdir ini memakuku.

Dari polling yang diadakan sebuah media, ia diperkirakan akan memenangkan pemilihan. Aku dapat merasakan kebahagiaannya. Ia mendapatkan calon putera yang sudah lama diimpikannya dan sekaligus akan mendapatkan posisi yang sedang diperjuangkannya sekuat tenaga. Betapa lengkap baginya kenyataan ini.

Dan aku tiba-tiba merasa begitu kecil, begitu tak layak menyeruak di antara semua kenyataan yang membahagiakannya ini. Hilang sudah semangat untuk mengabarkan bahwa aku tengah mengandung calon puteranya. Tetapi aku tak ingin membuang bayi ini. Bayi yang tak bersalah ini. Bayiku tak diciptakan dalam keharaman.

Mungkin Nalini akan menertawakanku sebagai perempuan bodoh. Dan aku tak akan dapat melawan kata-katanya sedikitpun. Aku akan kalah. Akan menjadi orang yang salah. Dan suamiku – suaminya itu – tak akan dapat membelaku. Bukankah aku sudah dilarangnya untuk hamil sementara ini? Sampai semua rencana selesai sempurna?

Mungkin aku akan pergi, ke jauh, ke entah. Membawa serta calon anakku yang hanya akan segaris darah denganku secara hukum. Rencana paling sempurna yang kami susun berdua tak sanggup berhadapan dengan rencana Nalini. Atau rencana Tuhan?  (surabayapost.co.id/)


Pulau Madura, November 2010

*) Juwairiyah Mawardy, lahir di Sumenep 25 Juni 1976, pendidikan S1, beralamat Jl. Raya Blajud rt. 004/ 001 Karduluk Pragaan Sumenep, Madura Jawa Timur 69465.

Tulisan Terkait

Cerpen 5587013156449431382

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item