Pilar Seribu Harapan

Cerpen: Widayanti Rose

"Hello hello. Aku punya kabar gembira, kita akan dapat kepala sekolah sekaligus gedung baru" kata Nuno pagi itu setibanya di sekolah.

"Yang bener fren?" Tanyaku dengan mata berbinar-binar.
"Benar bu, pak Harto kepala sekolah kita. Orangnya masih energik" pak Tikno ikut nimbrung di ruang guru

Ceritapun mengalir tentang siapakah kepala sekolah kita yang baru. Diantara penantian panjang setelah kepergian komandan Pak Warid, sekolah kita gersang. Butuh seorang pimpinan yang mengayomi sekaligus membakar semangat untuk tangguh berjuang. Sementara ini teman-teman guru semuanya masih muda, hanya satu guru agama yang sudah sepuh.

Selama kekosongan pimpinan, sekolahku diisi oleh seorang PLT kepala sekolah daei sekolah sebelah. Namanya hanya numpang kepala, beliau tidak mungkin ada untuk sekolah kami. Beliau hanya mengurusi gaji saja, selebihnya sama saja dengan tanpa kepala.

Mendapatkan kabar datangnya kepala sekolah, membawa semangat baru untuk laskar batman teacher. Harapan baru dengan hadirnya pimpinan yang baru, sekaligus gedung yang baru.

"Yes,, akhirnya setelah puluhan tahun kita akan punya gedung baru juga" sorakku bergembira perkenalan sekaligus musyawarah pembangunan gedung sekolah yang oleh kepala sekolah langsung diserahkan sepenuhnya pada teman-teman guru. Dengan sikap beliau, sepertinya orang ini pemimpin yang transparan dan tidak 'doyan' uang, itu kesan pertama yang melekat di benakku.

“Karena pembangunan sudah harus segera dilaksanakan, maka saya serahkan koordinator pembangunan ini pada pak Paijo selama saya diklat nantinya, apa Bapak dan Ibu setuju?” tanya komandan kami yang baru

“Setuju pak, kami guru yang dari daratan pasrah saja pada teman-teman guru disini. Yang penting laksanakan sebaik-baiknya, kita akan memantau saja dan fokus mengajar” pak Muhajir sebagai kakak tertua dari daratan menyampaikan masukannya.

Setelah itu dirancang susunan panitia pembangunan gedung baru sekolah kita, susunan formalitas saja. karena pada pelaksanaannnya nanti, aku dan semua teman yang dari daratan tidak akan ikut ccampur urusan ini, selain memang tidak punya keahlian dalam bidang ini, kami juga disini hanya untuk mengajar saja. selebihnya serahkan pada yang ada di pulau.

Hari-hari berikutnya, sekolah mulai disibukkan dengan hajatan besar. Pembangunan gedung dimulai. Dengan pembangunan tiga lokal gedung baru sekolah kami, kedai Sese yang semula berada tepat di sebelah barat ruang guru, harus dibawa pulang kembali ke tempat asalnya yaitu kembali menjadi rumah sawah.

Pak Paijo sebagai koordinator pembangunan, nampak sibuk untuk mengurus berbagai macam keperluan, mulai dari tukang, pengadaan barang dan semua apapun mengenai pembangunan ini. untuk sementara kelasnya di handle oleh guru yang lain. Biarlah dia fokus dengan tanggung jawabnya. Kami akan menunggu hasilnya yang terbaik nanti.

Ada rasa bangga saat melihat bangunan baru sekolah kami mulai berdiri tegak. Dua ruangan di sebelah selatan menghadap ke utara, sedang satunya di utara menghadap keselatan, sehingga sekolah kami yang awalnya lurus melintang dari utara ke selatan, kini sudah membentuk huruf C. Gedung reyot yang sudah berusia lebih 25 tahun, tampak gagah dengan diapit bangunan baru di kanan kirinya.

“Nanti yang utara itu jadikan ruang kantor bu, sedangkan di selatan kelas 5 dan 6” ujar pak Paijo saat aku melihat tukang yang sedang bekerja.

“Oh ya pak, sip itu. Berarti yang baru akan jadi kelas saya nantinya. Hehe” ucapku dengan penuh suka sambil melihat kearah tukang yang mulai memasang kayu kusen.

“Gak sabar ingin cepat selesai pak, ingin segera menikmati gimana rasanya punya ruang kelas bagus” 

“Ya bu, kalau sudah punya kelas sendiri kita bisa mulai mendesain kelas sebagus mungkin” pak Paijo mengambil paku yang dia temukan di dekat kakinya.

Sambil melihat bangunan yang baru, aku mulai berimajinasi bagaimana nantinya saart aku menempati ruang kelas yang baru. Aku mau kelasku kurancang seperti yang kumau, seperti yang pernah aku lihat di sekolah maju  di pinggiran sana, di SDN Pancor 3 yang waktu itu aku kunjungi pak Rahmat basuki untuk sekedar belajar mendesain keles. Nantinya akan ada sudut pasar, papan pajangan, sudut baca, sudut agama, meja simulasi dan pajangan lainnya yang akan mendukung pembelajaran yang mengasikkan.

Kita akan keluar dari zona nyaman, dimana waktu itu kepala sekolahku yang lama melarang kami terlalu muluk dalam berfikir, cukup membaca, menulis dan berhitung saja tidak perlu yang lain. Dengan adanya ruang kelas baru ini, membuka harapan baru untukku dan semua guru disini, harapan untuk maju dan semakin maju.

Dengan 3 pilar ruang baru ini, tersimpan angan-angan besar untuk masa depan Kalowang V ke depan, dengan sejumlah guru muda yang bagi kami ibarat sape kerrap* , kita siap berpacu untuk maju. Hanya butuh sebuah komando untuk bergerak, dan itu akan terwujud sebentar lagi, ya tidak lama lagi.
_________
Sape kerrap : sapi pilihan yang digunakan dalam ajang kontes kerapan sapi, sebuah tradisi yang menjadi ikon masyarakat Madura.

Tulisan Terkait

Cerpen 3986101398390602898

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item