Pengarang Harus Selalu Belajar

Oleh M. Shoim Anwar

Dalam kehidupan sehari-hari saya tidak pilih kasih saat mengamati berbagai gejala dan peristiwa. Semua saya perlakukan sama. Semua gejala dan peristiwa mempunyai potensi melahirkan karya sastra, mungkin gagasan itu muncul saat itu juga, namun tidak jarang pula apa yang pernah saya amati itu menggoda kembali setelah sekian tahun terlampaui. 


Itulah sebabnya saya selalu menggunakan kata “mengamati” dalam mengakrabi objek. Saya tidak pernah membiarkan objek dengan begitu saja saat saya mengetahui, terutama kalau saya tertarik secara tiba-tiba. Waktu berbicara dengan seseorang saya juga berusaha menangkap dengan teliti, bahkan saya sering merekonstruksi cerita dari seseorang dan saya padukan dengan imaji saya. Waktu seorang teman menceritakan bahwa rumahnya kebanjiran, tiba-tiba saya membayangkan apa yang terjadi jika kota Surabaya terendam air setinggi pohon kelapa. Kadang-kadang saya ngeri sendiri menghadapi imaji itu. Berulang-ulang saya melahirkan imaji bahwa Hotel Garden di Surabaya yang tinggi menjulang itu patah pada bagian tengah-tengahnya dan ambruk.


Seperti halnya pesawat terbang, saya berusaha agar kotak hitam yang berfungsi sebagai alat perekam itu selalu bekerja dengan baik dalam kepala saya. Itulah sebabnya saya senantiasa berusaha menyerap apa yang pernah saya amati dan saya gauli. Ada kalanya saya membuat catatan-catatan kecil ketika tertarik dengan suatu permasalahan. Dan saya memang merasa tidak pas jika saat bepergian tidak membawa pulpen dan selembar kertas.

Keinginan untuk menulis memang datang secara tiba-tiba. Tapi saya tidak pernah menunggu dengan pasif. Saya senantiasa berusaha mencari masukan-masukan. Saya senang berjalan-jalan ke tempat yang saya anggap menarik. Untuk yang terakhir ini saya lebih senang sendirian. Waktu pelesir dengan rombongan, tidak jarang saya membelot dari rombongan itu. Saya sempatkan mengakrabi lingkungan yang ada, terutama manusianya. Setiap bepergian ke tempat yang baru, saya belum merasa puas jika belum ngomong-ngomong dengan manusianya, terutama rakyat kecil. Dari pembicaraan mereka saya mendapatkan banyak masukan. Saya memilih rakyat kecil karena dalam banyak hal mereka jujur. Tentu saja saya juga mengejar kenyataan-kenyataan, saya pelajari masalah-masalah itu agar saya tidak terjembab dalam dunia sensasi. Karya sastra yang menampilakn sensasi tentu tak ada gunanya.

Pengarang harus selalu belajar. Hal-hal yang tak bisa diamati secara langsung tentu membutuhkan referensi. Saya terobsesi untuk membuat karya sastra dengan memanfaatkan persoalan sains dan teknologi, sebab sastra Indonesia ternyata masih miskin dengan dengan tema-tema yang memanfaatkan perkembangan sains dan teknologi tersebut. Itulah sebabnya pengarang harus sudi melahap berbagai bacaan yang menyangkut berbagai bidang pula. Karya sastra yang baik bukan hanya mengandalkan cerita, tetapai juga harus sanggup menampilkan muatan-muatan yang membuat karya sastra itu menjadi kaya makna sehingga pembaca juga memperoleh masukan di luar cerita itu sendiri.

Menuangkan ide ke dalam bentuk tertulis adalah masalah yang paling sulit bagi saya. Meski ide dalam kepala sudah penuh, tapi jika mood  untuk memulai menulis belum siap, saya belum bisa berbuat. Dalam tahap hamil tua seperti ini saya benar-benar merasa tersiksa. Saya merasa dikejar-kejar oleh ide tersebut. Kalau orang percaya, akan saya katakan bahwa dalam tahap ini saya menjadi sulit tidur, seperti punya hutang yang ditagih terus-menerus. Sementara saya sendiri tak mampu mengelak terhadap datangnya ide yang acap kali memberondong secara bertubi-tubi. Tak ada jalan yang lebih enak untuk melepaskan diri dari ide itu kecuali menuliskannya.  Sebab itu saya katakan bahwa mengarang sudah menjadi kebutuhan bagi saya. Saya tak tahu kapan tuntutan seperti itu akan berakhir. Sedangkan kalau sudah di atas satu bulan saja saya belum menghasilkan karya, saya selalu cemas jangan-jangan saya sudah tidak mampu lagi menulis.

Tidak semua ide berhasil saya tuangkan menjadi karya sastra. Seperti juga tak semua beras akan menjadi nasi. Kadang-kadang saya kehilangan gairah ketika sudah menyelesaikan satu atau dua halaman. Saya tunggu gairah itu hingga beberapa hari, tapi tak juga muncul. Maka semuanya pun saya buang. Itu berarti jabang bayi sastra saya lahir abortus. Pada kesempatan lain semangat saya untuk menyelesaikan sebuah karya masih sangat tinggi, namun rajutan imaji saya tiba-tiba macet. Biasanya saya lantas meninggalkannya untuk beberapa saat. Saya baru melanjutkan ketika telah menemukan rajutan-rajutan imaji berikutnya. Itu pun tidak bisa dibatasi waktunya, kadang-kadang sampai beberapa hari baru menemukan. Itulah sebabnya ketika mesin ketik atau komputer  saya bermasalah, saya jadi kelabakan karena saya menulis langsung memakai mesin ketik atau komputer, saya sering mengalami kegagalan ketika menulis dengan tulisan tangan karena selalu ingin mengubah dan tak pernah puas.

Berhasil dan tidaknya sebuah karya sangat ditentukan oleh penggunaan bahasa. Ide yang cemerlang tapi dituangkan dengan bahasa yang jelek maka akan menjadi karya yang tidak menarik. Di sinilah kebanyakan kegagalan para pengarang. Saya tentu saja harus ekstra selektif dalam merakit bahasa, terutama pada halaman-halaman awal. Cerita sastra yang bagus tentu bahasanya lancar, mudah ditangkap, serta kaya idiom-idiom baru. Dan itu membutuhkan keberanian dengan tanpa mengorbankan masalah komunikasi dengan pembaca.
Istri saya adalah orang pertama yang saya minta membaca karya yang baru terselesaikan. Secara kebetulan wawasannya di bidang sastra lumayan. Tidak ada salahnya jika suatu ketika kritik-kritik yang dilontarkannya saya terima dan karya itu saya tambah seperlunya. Biasanya karya yang sudah jadi itu saya tahan beberapa hari, saya baca berulang-ulang. Saya baru mengirimkannya ke media massa setelah benar-benar yakin bahwa karya saya itu bagus. Setelah dimuat kadang-kadang saya merasa tidak puas lagi karena dengan tiba-tiba saja saya teringat ada maslah-masalah lain yang belum tertuangkan dalam karya tersebut. Pembaca memang tidak tahu dan telah menganggap bahwa karya itu sudah lengkap. Tapi sebagai pengarang, saya merasa ada yang mengganjal dalam pikiran saya. Tentu saya sudah tak mungkin untuk menambahkan. Jalan terakhir untuk melengkapinya adalah menyempurnakan ketika naskah itu akan diterbitkan dalam bentuk buku.

Akhirnya saya menyadari bahwa sebagai pengarang barangkali saya ditakdirkan untuk tidak lekas merasa puas. Sejalan dengan waktu dan segala persoalan yang terus berkembang, pengarang juga harus berkembang, bertambah wawasan serta memantapkan sikap dalam kehidupan. Dengan demikian jati diri pengarang menjadi semakin mantap dan semakin kukuh dalam mengemban tanggung jawab moral.  

Disampaikan pada Workshop Menulis Cerita, Rumah Literasi Sumenep, Pebruari 2017
                         
Tulisan bersambung:
  1. Menulis  Cerita  Pendek  Sebagai  Proses  Kreatif 
  2. Pengarang Harus Selalu Belajar

Tulisan Terkait

Esai 1729822382899722145

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item