Menulis Cerita Pendek Sebagai Proses Kreatif

 Oleh M. Shoim Anwar
Menceritakan bagaimana saya menulis cerita pendek maupun novel tentu harus membuat semacam generalisasi dari sekian banyak kejadian dan tindakan saya selama bergelut dalam dunia kepenulisan. 

Menuliskan tentang proses kreatif pada dasarnya juga menyeleksi serangkaian tindakan dan menentukan mana yang berhubungan dengan perilaku kreatif dan mana yang bukan. Antara kedua perilaku ini kadang-kadang memang sulit dibedakan karena irama kehidupan itu sendiri tidak berstruktur secara rapi. Satu tindakan yang sebenarnya hanya iseng saja tiba-tiba mengarahkan ke terjadinya sebuah cerita sastra. Ini berarti setiap perilaku atau tindakan punya potensi untuk menjadi perilaku kreatif. Barangkali dengan kasus terakhir inilah saya ingin menceritakan perilaku yang menjadi kebiasaan saya, terutama di saat-saat saya merasa dikejar untuk segera menuliskan karya sastra.

 Sewaktu saya kecil hingga tamat sekolah dasar, saya sama sekali tidak punya cita-cita untuk menjadi pengarang. Anak-anak kecil seangkatan saya pada waktu itu punya pikiran seragam bahwa pekerjaan atau profesi yang paling enak adalah menjadi juru tulis kantor. Menjadi juru tulis kantor, menurut omongan anak-anak yang usianya di atas saya, hanya bermodalkan pulpen tapi memperoleh bayaran sangat banyak. Maka saya pun saat itu tiba-tiba igin menjadi juru tulis kantor. Ayah saya cuma seorang tukang di bidang bangunan, sedangkan ibu berjualan di pasar. Kedua orang yang yang sangat saya cintai ini hidup di saat zaman belum menganggap pendidikan formal sebagai kebutuhan utama sehingga ayah saya hanya mampu baca-tulis secara tidak lengkap, bahkan ibu saya benar-benar tak mampu baca-tulis. 

Mungkin karena kondisi itulah kedua orang tua saya tak pernah mendiktekan cita-cita untuk menjadi dokter, insinyur, tentara, pilot, dan semacamnya pada saya. Jika saya pikirkan sekarang, sebenarnya saya sudah mencapai cita-cita di masa kecil dulu, yakni ketika saya terlibat dalam proses kreatif sehingga harus menulis dan menulis terus. Dalam tahap demikian sebenarnya saya telah menjadi juru tulis dari sekian banyak persoalan manusia. Kalau dibanding dengan penghasilan orang-orang kecil di desa tempat kelahiran saya, sebagai juru tulis sebenarnya saya juga mendapat bayaran banyak. Sebuah cerita pendek saya apabila dimuat di koran atau majalah, saya mendapatkan honorarium yang jumlahnya mungkin sama dengan penghasilan satu bulan bagi mereka. Dan itu harus saya syukuri secara lahir dan batin.

Saya harus tetap percaya bahwa menjadi pengarang tidak bisa lepas dari naluri-naluri seni yang telah tercipta dalam diri saya. Sejak kecil saya sudah gemar nonton pertunjukan wayang kulit, ludruk, serta wayang orang. Khusus wayang orang, dahulu saya sering masuk gedung pertunjukan dengan cara menyerobot. Dengan perilaku anak-anak seperti itulah naluri seni saya terpelihara hingga kini.

Memasuki pendidikan di Sekolah Menengah Pertama saya sudah tidak lagi kumpul bersama keluarga. Bersama kakak, saya hidup di asrama karena diminta oleh Kepala Sekolah Dasar tempat saya menuntut ilmu. Kebetulan beliau ini juga sebagai pengasuh asrama tersebut. Alasannya sederhana, saudara saya berjumlah tujuh orang. Jadi ada keterbatasan ekonomi untuk bersekolah hingga sekolah menengah. Beliau itulah orang yang juga berjasa besar dalam dunia kepengarangan saya. Sementara pada masa itu kegemaran saya terhadap dunia tulis-menulis mulai menggejolak. Saya mulai gemar mengabadikan berbagai kejadian dalam tulisan saya.

Hidup di asrama ternyata sangat mengasah ketajaman perasaan saya. Di tempat ini saya menjadi akrab dengan kehidupan yang secara ekonomis kurang beruntung. Tentu saja saya juga datang dari keluarga yang demikian sehingga merasa senasib. Dalam menanggapi kemiskinan, kekeurangan, penderitaan, dan jatuh bangunnya kehidupan, saya bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sekaligus pelaku. Saya bisa sangat cepat merasakan penderitaan orang lain yang tergusur dari rumahnya, tanahnya dirampas, kehormatannya dicemari, dibodohi, diperas, dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Keperpihakan saya terhadap mereka membuat pena kepengarangan saya semakin runcing dari hari ke hari.

Saat di Perguruan Tinggi hasrat saya untuk menjadi pengarang semakin tidak terbendung, meski di SMTA (SPG) saya sudah berhasil menulis cerita pendek, puisi, serta drama yang saat itu sering saya tampilkan di corong radio. Di Perguan Tinggi itu pula cerita saya mulai berhasil menembus media massa setelah sekian banyak cerita saya ditolak. Semangat saya untuk menulis terus benar-benar menggila, saya terlibat dengan tanpa henti. Saya berharap semangat ini akan terus terpompa setiap saat. Saya merasa senang ketika cerita saya dimuat, bukan semata-mata saya akan mendapat honor, tapi karena tulisan saya akan dibaca banyak orang. Ketika saya pertama kali dimuat di koran, saya menjadi mabuk dengan diri sendiri. Tulisan itu saya baca berulang-ulang meski saya sudah hafal isinya. Saya akhirnya menjadi terlalu bangga, seperti semua orang sudah membaca tulisan saya. Syukurlah semua perasaan yang menyebabkan saya besar kepala itu berangsur-angsur dapat saya leraikan. Selanjutnya naluri menulis ternyata menjadi kebutuhan bagi saya.

Tulisan bersambung:
  1. Menulis  Cerita  Pendek  Sebagai  Proses  Kreatif 
  2. Pengarang Harus Selalu Belajar

Tulisan Terkait

Esai 960666340451687514

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item