Menulis Artikel Best Practices

Much. Khoiri
Oleh Much. Khoiri

Best practices merupakan praktik-praktik yang baik dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk dalam sebarang disiplin ilmu dan profesi. Dokter punya best practices, demikian pun perawat, tabib, ustadz, guru, atau penjual obat oles. Best practices, tentu, berbasis pengalaman dan sejalan dengan kompetensi yang dikuasainya.

Adalah sebuah best practices tatkala dokter membantu sembuhnya pasien yang sakit menahun, tatkala guru menyadarkan siswa yang bandelnya minta ampun, atau tatkala perawat berhasil melatih penderita lumpuh hingga berdiri dan berjalan kembali. Analog dengan itu adalah "keberhasilan" tertentu yang dilakukan oleh tabib, ustadz, atau penjual obat oles.

Dalam perspektif ini, guru pastilah punya best practices dalam pembelajaran dan pendidikan (pedagogik). Meski mungkin ada kemiripan tertentu, best practices seorang guru berbeda dengan guru lainnya. Ada keunikan atau kekhasan di antara mereka. Dan inilah yang mencirikhaskan guru satu dan lainnya dengan segala tingkat profesionalitasnya.

Dalam pembelajaran, misalnya, seorang guru melakukan tindakan untuk membantu siswa yg nilai Bahasa Inggris (dalam menulis narasi, misalnya) rendah, hingga siswa mampu mengatasi kesulitannya. Dalam pedagogik, ada guru yang "menyembuhkan" kebandelan siswanya dengan sentuhan empati dan kasih sayang. Masih banyak contoh lain yang tidak perlu dideretkan di sini.

***
Karena sejatinya best practices merupakan pengalaman para guru sendiri, maka menulis tentangnya pun seharusnya tidaklah sulit. Pengalaman guru tak habis-habisnya bisa ditulis. Sebab, guru memang akrab dan menyatu dengan best pracrices mereka masing. Terlebih, jika sang guru itu kreatif, best practices-nya mungkin lebih beragam dan melimpah.

Bagaimana caranya? Tulislah seperti berbicara atau curhat kepada orang lain, dengan menggunakan bahasa tutur "Saya.....blablabla". Misalnya terkait pengalaman membimbing siswa ke "jalan yang benar", maka mulailah utk menuturkan siapa namanya, bagaimana penampilannya, bagaimana kebandelannya.....Semua tuliskan dengan lancar. Lalu, teruskan dengan terapi apa yang Anda lakukan terhadap siswa itu,  bagaimana hasil pengamatan (dan evaluasi) Anda terhadapnya, dan kemudian apa simpulan atau hikmahnya.

Dalam menulis, jangan terlalu hiraukan kaidah-kaidah penulisan atau tata kalimat dan paragraf. Biarkanlah gagasan meluncur seperti air yang mengalir. Inilah yang disebut curhat lewat tulisan. Jangan berhenti hingga curhatnya selesai. (Nanti bisa direvisi. Sekarang, lanjutkan curhatnya, hingga tuntas.)

Dengan teknik curhat begitu, Anda sejatinya memanfaatkan otak kanan alias bawah sadar (dengan kemampuan yang luas dan dalam). Suasa emosional bisa memenuhi diri Anda sehingga tulisan akan terasa mengalir. Bayangkan, betapa lancarnya kata-kata tak terucapkan tatkala Anda sedih, nah saat beginilah bawah-sadar Anda bekerja dengan efektif. Maka, sekarang tuliskanlah. Tentang revisi, itu urusan nanti.

Jika draf awal (naskah kasar) sudah selesai, Anda boleh istirahat sejenak. Dalam istirahat ini, Anda bisa mencari dan menemukan kata-kata mutiara, ungkapan filosofis, anekdot, dan sebagainya. Lalu, masukkan hasil pencarian ini ke dalam bagian-bagian tertentu pada draf awal tersebut. Kemudian, haluskan. Semua ini proses merevisi dari segi konten atau isinya: Menambah yang kurang, memotong yang berlebihan (tidak relevan).

Kemudian, periksa pula apakah tulisan Anda memiliki nalar dan pengucapan yang lancar dan teratur (enak diikuti). Saat ini Anda boleh menata paragraf, keutuhan dalam paragraf, dan keutuhan antar paragraf. Periksa pula, mungkin tulisan Anda perlu diawali dengan paragraf pembuka dan paragraf penutup yang memukau. Tulisan juga perlu memiliki 'unity' dan 'coherence'.

Demikian pun penggunaan bahasa. Anda perlu memeriksa bahasanya, termasuk penggunaan kalimat efektif, pemilihan diksi, tata bahasa, dan sebagainya. Ejaan juga harus benar penggunaannya. Dengan membenahi bahasa, suatu saat Anda sejatinya sedang belajar untuk siap menjadi seorang editor profesional.

Nah, sekarang tulisan best practices Anda sudah siap untuk disuguhkan kepada audiens Anda. Namun, tak perlu dipikirkan apakah ia akan memuaskan audiens. Percayalah, apa yang telah Anda tuliskan akan nenyejarah dan mengabadikan nama Anda.[]

*Much. Khoiri_adalah Dosen Unesa dan penulis buku "SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan" (2016)

Tulisan Terkait

Esai 6534928871906188402

Posting Komentar

  1. Saya pernah menulis suatu karangan yang menurut saya tergolong Best Practices. Saya menulisnya untuk melengkapi persyaratan mengikuti seleksi Gupres beberapa waktu lalu. Dalam tulisan tersebut saya menggunakan kata "saya" bukan kata "penulis". Menggunakan kata "saya" dalam best practise menurut penilainya salah. Ternyata penulisan best practice itu memiliki beberapa ketentuan.

    BalasHapus

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item